PISA 2025 Indonesia: Alarm Bukan Sekadar Angka
PISA 2025 Indonesia adalah penilaian internasional terhadap siswa usia 15 tahun yang mengukur kemampuan membaca, matematika, sains, serta penerapan pengetahuan tersebut dalam situasi nyata, dan hasil terbarunya menyoroti rapuhnya literasi numerasi dasar meski ada sedikit kenaikan skor membaca dan sains sehingga menjadikannya lebih sebagai alarm kualitas pembelajaran siswa daripada sekadar lomba peringkat antarnegara. Skor terbaru menunjukkan nilai 365 untuk membaca, 364 matematika, dan 389 sains; membaca dan sains naik tipis 6 poin, sementara matematika turun 2 poin dibanding 2022, perubahan yang bahkan dinilai belum signifikan secara statistik. Ketika rata-rata negara OECD bermain di kisaran 460, jurang kemampuan terasa lebar dan tak bisa disapu di bawah karpet dengan dalih “yang penting naik sedikit”. PISA 2025 Indonesia, dengan kompleksitas temuan yang ada, meminta kita berhenti menyalahkan anak kurang baca dan kebanyakan gawai, lalu mulai menelusuri akar masalah di ruang kelas.

Fondasi Lemah: Literasi Membaca, Sains, dan Numerasi Dasar
Di balik skor agregat, PISA 2025 Indonesia memukul gong peringatan paling keras pada fondasi kemampuan dasar. Hasil asesmen menunjukkan kecakapan literasi numerasi dasar masih jauh dari standar minimum internasional, sehingga banyak siswa belum mampu memahami dan menggunakan konsep matematika sederhana dalam situasi nyata. Bisa membaca belum berarti mampu menangkap gagasan utama, apalagi merefleksikan tujuan dan bentuk teks sesuai arahan. Dalam sains, proporsi mereka yang mencapai kecakapan dasar juga tertinggal dibanding rata-rata OECD yang mencapai 74 persen. Di sini tampak bahwa soal kualitas pembelajaran siswa bukan lagi perkara menghafal rumus dan definisi. PISA menilai sejauh mana pengetahuan dipakai untuk menyelesaikan persoalan nyata, berpikir kritis, dan memecahkan masalah, bukan untuk sekadar lolos ujian. Selama kelas masih didominasi hafalan dan lembar kerja mekanis, skor PISA akan terus menjadi cermin buram yang memperlihatkan betapa ringkihnya fondasi literasi.
Paradoks Era Digital: Problem Solving Naik, Fondasi Tertinggal
Aspek paling menarik dari PISA 2025 Indonesia adalah paradoks antara kemampuan problem solving digital dan literasi dasar. Untuk pertama kalinya PISA mengukur computational problem solving, yaitu kemampuan memecahkan masalah dengan perangkat komputasional seperti pemodelan, pemrograman, analisis data, eksperimen, serta membangun dan memperbaiki produk digital. Skor Indonesia di area ini mencapai 427, menunjukkan sebagian siswa cukup lihai memakai perangkat digital untuk memecahkan masalah meski rata-rata OECD berada di angka 500. Lebih dari separuh siswa juga telah memanfaatkan kecerdasan buatan atau AI sebagai alat bantu belajar, sebuah indikasi kuat adanya ketergantungan pada sumber eksternal. Namun kemampuan problem solving ini tidak berjalan seiring dengan sains, membaca, dan matematika. Tanpa literasi numerasi dasar yang kokoh, kecakapan klik sana-klik sini hanya menjadikan generasi digital sebagai penonton kebingungan di tengah banjir informasi. Ketika gawai kehabisan baterai atau error, mereka membutuhkan kemampuan berpikir mandiri, bukan sekadar pintasan jawaban.

Ketimpangan Sosial dan Kualitas Pembelajaran di Kelas
Menghadapi hasil PISA 2025 Indonesia, mudah sekali menyalahkan anak yang “kecanduan HP”. Namun data menunjukkan persoalan jauh lebih dalam: hampir separuh siswa berada di kelompok sosial-ekonomi terbawah skala internasional, dengan jarak nilai sains antara yang kaya dan miskin mencapai puluhan poin. Artinya, kualitas pembelajaran siswa tak bisa dilepaskan dari isi dompet orang tua, akses buku, internet, dan dukungan lingkungan belajar di rumah. Menyita HP saat bel masuk tidak menyelesaikan apa-apa. Ruang kelas perlu berubah menjadi laboratorium membaca kritis, mengotak-atik data, dan memecahkan persoalan nyata. Anak-anak harus diajak menguji kebenaran informasi, berdiskusi, dan menalar, bukan sekadar menghafal kunci jawaban. Selama pola pengajaran masih didesain untuk menaklukkan ujian pilihan ganda, bukan untuk membentuk pemikir muda yang tahan banting menghadapi masalah, skor PISA akan terus memotret ketimpangan dan kerapuhan yang sama dari tahun ke tahun.
Menuju Pembelajaran Mendalam dan Reformasi Pendidikan
PISA 2025 Indonesia seharusnya dibaca sebagai undangan untuk reformasi pendidikan berbasis pembelajaran mendalam, bukan sebagai rapor yang hanya memicu panik sesaat saat skor dirilis. Pembelajaran mendalam menuntut guru mengajak siswa memahami masalah secara utuh, menyaring informasi, dan menemukan jawaban terbaik dengan kepala sendiri. Kelas yang memberi panggung bagi dialog, proyek, dan eksperimen akan pelan-pelan memperkuat literasi numerasi dasar yang selama ini rapuh. Kebijakan pendidikan yang serius perlu memastikan asesmen di sekolah selaras dengan tujuan PISA: mengukur kemampuan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan nyata, bukan menimbun hafalan. Tanpa pergeseran paradigma, setiap rilis skor PISA hanya akan mengulang siklus lama: kehebohan ranking, sedikit perbaikan kosmetik, lalu kembali pada rutinitas yang mengabaikan fondasi. Jika generasi masa depan ingin disiapkan dengan kemampuan problem solving yang utuh—digital dan non-digital—maka reformasi ini bukan opsi, melainkan keharusan.






