Jurnalistik sebagai praktik literasi
Pelatihan jurnalistik siswa adalah kegiatan belajar yang membimbing peserta mencari informasi, memahami fakta, lalu menuangkannya menjadi tulisan dan menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab. Karena itu, jurnalistik layak mendapat tempat di sekolah: keterampilan membaca dan menulis tumbuh melalui praktik yang menghubungkan pengamatan dengan karya, bukan hanya lewat teori di kelas. Kegiatan di SMP Negeri 2 Pademawu dan SMPN 1 Pakong memperlihatkan dua jalur yang saling melengkapi. Di Pademawu, siswa berlatih mengolah hasil pengamatan menjadi berita; di Pakong, mereka juga didorong berpikir kritis serta menata gagasan. Bersama-sama, kegiatan itu menunjukkan bahwa literasi siswa SMP dapat diasah melalui proses mencari, memeriksa, menyusun, dan menyampaikan informasi. Nilainya bukan semata menghasilkan tulisan, melainkan membiasakan siswa bertanya tentang apa yang mereka lihat dan bagaimana menyampaikannya dengan jelas.
Dari pengamatan menjadi tulisan
SMP Negeri 2 Pademawu menggelar pelatihan jurnalistik pada Sabtu (24/10) dengan melibatkan wartawan sebagai pemateri. Kegiatan ini tidak berhenti pada penjelasan dasar. Peserta menjalani praktik dari menentukan tema dan menyusun rencana liputan, hingga melakukan wawancara serta menulis berita. Rangkaian tersebut penting karena mengubah menulis berita siswa dari tugas yang berangkat dari dugaan menjadi proses yang bertumpu pada pengamatan dan informasi yang dikumpulkan. Kepala sekolah Suharyono menilai kemampuan menulis perlu diasah agar siswa terampil menuangkan apa yang mereka amati ke dalam tulisan. Pandangan itu tepat: ketika siswa belajar merangkai pengamatan menjadi laporan, mereka berlatih memilih hal yang relevan dan menjelaskannya kepada pembaca. Sekolah juga telah membangun budaya literasi melalui pembelajaran lintas mata pelajaran dan pemanfaatan perpustakaan, sehingga pelatihan jurnalistik dapat menjadi praktik yang memperluas kebiasaan tersebut.
Berpikir kritis dan menyampaikan gagasan
Di SMPN 1 Pakong, pelatihan berlangsung pada Rabu (28/10) dengan wartawan Moh. Iqbal Afgani bersama para peserta. Materinya mengenalkan dasar jurnalistik sekaligus memberi siswa kesempatan belajar di luar pelajaran kelas: menggali informasi, menyusun tulisan, dan menyampaikan fakta secara bertanggung jawab. Manfaatnya melampaui keterampilan merangkai kalimat. Kegiatan ini juga mendorong berpikir kritis siswa dan membantu mereka menyampaikan gagasan secara terstruktur. Dua kemampuan itu penting karena pendapat yang kuat perlu disertai alasan dan disampaikan dengan runtut. Kepala sekolah Abd. Basid Muslim berharap siswa menerapkan pengetahuan jurnalistik untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menulis, sekaligus menghasilkan karya. Dengan demikian, pelatihan bukan sekadar acara sesaat: ia menyediakan kerangka kerja yang bisa dipakai siswa ketika membaca informasi, memeriksa fakta, lalu menjelaskan pemahaman mereka.

Kebiasaan yang bisa berlanjut
Kedua kegiatan menawarkan pelajaran yang lebih luas daripada cara menulis sebuah berita. Di Pademawu, siswa mempraktikkan tahapan liputan; di Pakong, mereka mengasah penalaran dan penyampaian gagasan. Jika diteruskan dalam kegiatan belajar sehari-hari, kebiasaan mengamati, bertanya, mencari informasi, dan menulis dapat membantu siswa membawa keterampilan literasi ke jenjang pendidikan berikutnya. Harapan itu sejalan dengan keinginan Suharyono agar kemampuan menulis berkembang menjadi kebiasaan yang bermanfaat bagi siswa pada tahap belajar selanjutnya. Sementara itu, pihak SMPN 1 Pakong berharap bekal jurnalistik diterapkan untuk memperkuat membaca, menulis, dan menghasilkan karya. Kesimpulannya, jurnalistik bukan pelengkap yang hanya menarik bagi calon wartawan. Di sekolah, ia dapat menjadi ruang praktik literasi yang konkret—tempat siswa belajar mengubah pengamatan menjadi tulisan dan gagasan menjadi penjelasan yang tertata.






