Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Kelas Darurat ke Gedung Baru: Sekolah yang Masih Menunggu Pemulihan

Dari Kelas Darurat ke Gedung Baru: Sekolah yang Masih Menunggu Pemulihan
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Belajar berjalan, pemulihan belum tuntas

Sekolah pascabencana adalah satuan pendidikan yang berupaya memulihkan kegiatan belajar, gedung, fasilitas, dan rasa aman setelah bencana mengganggu kehidupan sekolah. Ukuran pemulihannya bukan sekadar kelas kembali terisi, melainkan apakah siswa dapat belajar dengan layak dan berkelanjutan.

Pemerintah menyebut 99 dari 4.922 sekolah terdampak di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat masih menggunakan ruang belajar darurat, meski kegiatan belajar mengajar telah kembali berjalan di seluruh sekolah terdampak. Angka itu menunjukkan keberhasilan membuka kembali layanan belum sama dengan pulihnya kondisi sekolah. Di tengah sekolah darurat Sumatra, sebagian siswa masih belajar dalam ruang sementara, sementara dua sekolah lainnya menumpang di sekolah lain.

Kesenjangan ini seharusnya menjadi ukuran utama kemajuan: bukan hanya berapa banyak sekolah yang kembali beroperasi, tetapi berapa banyak yang sudah meninggalkan kondisi sementara. Selama ruang darurat bertahan, siswa tetap menanggung keterbatasan ruang dan kenyamanan. Pemulihan pendidikan perlu dinilai dari pengalaman nyata murid dan guru, bukan dari status aktivitas belajar semata.

Dari Kelas Darurat ke Gedung Baru: Sekolah yang Masih Menunggu Pemulihan

Dari lumpur menuju ruang kelas baru

Kisah SMAN 2 Meureudu memperlihatkan mengapa rekonstruksi sekolah tidak bisa ditunda setelah pembelajaran kembali berlangsung. Banjir menimbun kawasan sekolah dengan lumpur hingga sekitar dua meter dan merendam fasilitas belajar. Siswa sempat belajar dalam kondisi darurat, termasuk menggunakan terpal sebagai alas.

Pada 2026, sekolah di Kabupaten Pidie Jaya itu direvitalisasi oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dengan pengerjaan dibantu TNI Angkatan Darat. Pekerjaan senilai Rp7,9 miliar mencakup pembangunan kembali ruang belajar; gedung baru yang hampir rampung juga meliputi ruang perkantoran, laboratorium, dan perpustakaan. Pekerja masih menyelesaikan tahap akhir seperti pengecatan dan perapian bangunan.

Bagi siswa, ruang baru berarti lebih dari dinding dan atap yang kembali berdiri: kelas yang nyaman dapat mengurangi beban belajar setelah pengalaman bencana. Namun, bangunan yang pulih belum otomatis menghapus kekhawatiran akan banjir berikutnya. Rekonstruksi perlu disertai lingkungan yang aman, dukungan pemulihan psikologis, dan kesiapsiagaan agar sekolah tak kembali rentan saat hujan datang.

Dari Kelas Darurat ke Gedung Baru: Sekolah yang Masih Menunggu Pemulihan

Fasilitas yang pulih juga bagian dari pendidikan

Pemulihan tidak hanya berarti membangun kelas. Di SMPN 2 Takengon, musala yang sebelumnya rusak berat telah selesai direvitalisasi dan kembali digunakan siswa untuk beribadah. Pada 27 Oktober 2026, siswa terlihat melaksanakan salat Zuhur berjamaah di fasilitas tersebut. Perubahan ini penting karena sekolah juga merupakan ruang untuk beribadah, membaca, dan berkegiatan bersama.

Revitalisasi sekolah itu menerima anggaran lebih dari Rp723 juta dari APBN Tahun Anggaran 2026. Selain musala, pekerjaan mencakup tempat latihan sanggar, perpustakaan, dan toilet. Meski pekerjaan fisik utama selesai, serah terima belum dilakukan; tahapan administrasi dan pengadaan perlengkapan, terutama untuk perpustakaan dan laboratorium IPA, masih harus dituntaskan.

Contoh Takengon mengingatkan bahwa gedung yang tampak selesai belum tentu siap sepenuhnya melayani siswa. Fasilitas harus berfungsi, perlengkapan tersedia, dan akses pengguna terjamin. Ukuran pemulihan yang lebih bermakna adalah apakah siswa benar-benar dapat memanfaatkan ruang-ruang itu dalam rutinitas belajar dan kehidupan sekolah.

Bangunan pulih, layanan belajar harus berlanjut

Pemulihan pendidikan akan timpang bila pembangunan fisik berjalan tanpa jaminan kegiatan belajar tetap berlangsung. Perbaikan gedung, penyediaan fasilitas pembelajaran, dan penanganan sekolah di kawasan rawan bencana mesti bergerak bersama kesinambungan layanan bagi peserta didik. Dengan cara itu, sekolah darurat menjadi jembatan sementara, bukan keadaan yang dibiarkan berkepanjangan.

Prioritas berikutnya harus jelas: menuntaskan sekolah yang masih memakai ruang darurat, memastikan proyek yang hampir selesai dapat segera digunakan, dan melengkapi fasilitas yang belum siap. Untuk sekolah di lokasi berbahaya, rekonstruksi bisa memerlukan penguatan struktur atau relokasi, bukan sekadar memperbaiki bangunan lama. Penguatan Satuan Pendidikan Aman Bencana juga perlu menjadi bagian dari pemulihan, bukan tambahan setelah proyek fisik selesai.

Perbandingan antara kelas darurat di sejumlah sekolah dan gedung serta fasilitas yang mulai pulih menunjukkan kemajuan sekaligus pekerjaan yang tersisa. Pemulihan pendidikan baru layak disebut tuntas ketika setiap siswa memperoleh layanan belajar yang layak, fasilitas berfungsi, dan lingkungan sekolah lebih siap menghadapi risiko bencana. Bangunan baru adalah awal pemulihan, bukan garis akhirnya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!