Belajar berjalan, pemulihan belum selesai
Pemulihan pendidikan pascabencana adalah upaya memulihkan gedung, fasilitas, dan layanan belajar sekaligus agar siswa dapat kembali bersekolah dengan aman dan berkelanjutan. Kegiatan belajar di sekolah terdampak bencana di Sumatra telah kembali berjalan, tetapi hal itu belum berarti semua sekolah pulih. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyebut 99 dari 4.922 sekolah terdampak masih menggunakan ruang belajar darurat. Dua sekolah lainnya, menurut data hingga September, masih menumpang di sekolah lain. Perbedaan antara pembelajaran yang kembali berlangsung dan pemulihan fasilitas permanen penting diperhatikan: kelas darurat menjaga kegiatan belajar tetap hidup, tetapi tidak sepatutnya menjadi pengganti berkepanjangan bagi ruang yang layak. Angka tersebut menunjukkan kemajuan besar dalam menjaga layanan pendidikan, sekaligus menyisakan pekerjaan nyata bagi pemerintah dan masyarakat.
Di banyak lokasi, sekolah harus kembali mengajar sebelum bangunan dan lingkungan pulih sepenuhnya. Artinya, keberlanjutan pembelajaran memerlukan lebih dari sekadar jadwal kelas: fasilitas dasar, ruang yang aman, serta dukungan bagi guru dan siswa juga harus dipulihkan. Menyebut kegiatan belajar sudah berjalan 100 persen tanpa menjelaskan kondisi tempatnya berisiko menutupi kesenjangan yang masih dialami siswa. Pemulihan pendidikan harus dinilai dari mutu dan keamanan layanan, bukan semata-mata dari apakah pelajaran berlangsung.
Ruang darurat menjaga kelas tetap hidup
Pengalaman SMAN 2 Meureudu memperlihatkan betapa beratnya kondisi belajar setelah banjir. Lumpur menimbun bangunan dan halaman sekolah; para siswa sempat mengikuti pelajaran di ruang darurat, bahkan di atas terpal. Situasi darurat memungkinkan sekolah tetap menjalankan fungsi dasarnya, tetapi panas, keterbatasan fasilitas, dan rasa khawatir terhadap banjir susulan dapat mengganggu kenyamanan serta konsentrasi. Siswa kelas XI Muhammad Putra Ananda berharap gedung baru segera digunakan agar belajar lebih nyaman. Ia juga mengaku masih takut ketika hujan turun, khawatir air kembali naik dan mengganggu kegiatan sekolah. Kesaksian ini mengingatkan bahwa pemulihan tak cukup diukur dari jumlah kelas yang kembali dibuka. Pengalaman siswa dan rasa aman mereka semestinya menjadi bagian dari ukuran keberhasilan.
Karena itu, ruang belajar darurat perlu diperlakukan sebagai jembatan, bukan tujuan akhir. Selama sekolah belum dapat kembali ke ruang yang aman dan layak, pemerintah perlu memastikan kegiatan belajar tetap berlangsung tanpa mengabaikan kebutuhan siswa dan guru. Kekhawatiran saat hujan juga menandakan pentingnya kesiapan menghadapi risiko bencana susulan dan dukungan psikososial. Bangunan yang pulih tanpa rasa aman hanya menyelesaikan sebagian persoalan.
Rekonstruksi harus berujung pada rasa aman
Rekonstruksi sekolah SMAN 2 Meureudu menjadi contoh konkret pemulihan fisik setelah bencana. Pada 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah merevitalisasi sekolah yang tertimbun lumpur dengan bantuan pengerjaan dari TNI Angkatan Darat. Gedung baru yang hampir rampung membuka harapan agar siswa kembali belajar dengan lebih nyaman. Langkah ini penting, tetapi bangunan baru bukan jawaban lengkap jika lingkungan sekolah tetap rawan atau proses belajar terputus. Rekonstruksi perlu mengutamakan keselamatan, ketahanan terhadap bencana, dan fasilitas yang mendukung kegiatan belajar sehari-hari. Keinginan siswa untuk kembali ke sekolah seperti sebelum banjir harus disertai upaya mengurangi risiko yang membuat mereka takut ketika hujan.
Capaian pembangunan menunjukkan skala pekerjaan yang besar: 3.132 sekolah telah menandatangani perjanjian kerja sama revitalisasi dengan nilai bantuan Rp3,03 triliun. Penyaluran dana dilakukan bertahap: 70 persen pada tahap pertama, sedangkan 30 persen sisanya dicairkan setelah progres fisik mencapai sedikitnya 50 persen. Hingga September, 562 sekolah telah menuntaskan pembangunan fisik, sementara banyak lainnya masih dalam pengerjaan. Koordinasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pihak pelaksana harus terus dijaga agar kendala akses, bahan bangunan, kondisi geografis, dan ancaman bencana susulan tidak memperlambat pekerjaan.
Ukuran keberhasilan adalah layanan yang berkelanjutan
Kebutuhan pemulihan yang diajukan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencapai lebih dari Rp4 triliun, sedangkan anggaran yang disetujui sekitar Rp1,5 triliun hingga Rp1,6 triliun. Selisih itu menuntut penetapan prioritas yang transparan dan pengawasan agar dukungan menjangkau sekolah yang paling membutuhkan. Pembangunan gedung tidak boleh memutus perhatian terhadap kesinambungan belajar, ketersediaan fasilitas, maupun kondisi psikologis siswa dan guru. Jika ruang darurat terus dipakai tanpa kepastian penyelesaian, status “belajar kembali” dapat memberi kesan pulih padahal pengalaman pendidikan masih jauh dari normal.
Pemulihan pendidikan baru layak disebut tuntas ketika siswa memperoleh layanan belajar yang aman dan layak, baik selama perbaikan maupun setelah kembali ke gedung permanen. SMAN 2 Meureudu memberi gambaran tentang harapan yang dibawa rekonstruksi; 99 sekolah yang masih berada di ruang darurat menunjukkan pekerjaan yang tersisa. Pemerintah perlu menuntaskan pembangunan sambil menjaga pembelajaran tetap berjalan dan memastikan sekolah lebih siap menghadapi bencana berikutnya. Gedung baru adalah awal pemulihan, bukan garis akhirnya.






