Kunjungan lapangan mengungkap kebutuhan mendasar
Kunjungan lapangan pemerintah adalah pemeriksaan langsung atas keadaan wilayah dan kebutuhan warganya, yang seharusnya menghasilkan langkah tindak lanjut, bukan berhenti sebagai agenda seremonial. Wakil Bupati Pesisir Selatan Risnaldi Ibrahim meninjau Kampung Labuang Baruak di Nagari Koto Nan Duo IV Koto Hilir, Kecamatan Batang Kapas, pada Selasa (3/11/2026). Kunjungan wakil bupati ini memberi kesempatan untuk melihat kondisi permukiman dan mendengar persoalan warga dari dekat. Labuang Baruak berada di bagian paling barat Kecamatan Batang Kapas dan masih menghadapi keterbatasan infrastruktur, terutama jalan serta jembatan. Karena itu, ukuran keberhasilan kunjungan bukan semata kehadiran pejabat, melainkan apakah temuan tersebut diterjemahkan menjadi pendataan, koordinasi, dan bantuan yang dapat dirasakan masyarakat.
Jalan tanah dan jembatan papan membatasi mobilitas
Kondisi infrastruktur Labuang Baruak memperlihatkan persoalan yang berpengaruh langsung pada rutinitas warga: jalan kampung masih berupa tanah, sedangkan jembatan penghubung dibangun dari papan kayu. Keterbatasan akses bukan sekadar soal kenyamanan perjalanan. Kondisi itu juga memengaruhi kelancaran mobilitas masyarakat untuk menjalankan kegiatan sosial dan ekonomi. Risnaldi meninjau jalan dan jembatan sekaligus mendengarkan persoalan yang disampaikan warga. Temuan semacam ini semestinya menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan dan prioritas penanganan, bukan hanya catatan setelah kunjungan. Sumber yang tersedia tidak merinci jadwal pembangunan atau bentuk pekerjaan yang akan dilakukan. Maka, tindak lanjut paling mendesak ialah koordinasi pemerintah nagari dan perangkat daerah agar kondisi akses terdokumentasi dan masuk dalam proses penanganan.
Pendataan rumah warga menjadi langkah awal
Perhatian terhadap rumah warga Pesisir Selatan di Labuang Baruak melengkapi gambaran kebutuhan permukiman: Risnaldi mengunjungi rumah yang kondisinya tidak layak huni dan berdialog dengan penghuninya. Ia meminta Wali Nagari bersama dinas terkait segera mendata rumah-rumah yang memerlukan bantuan perbaikan. Data itu akan menjadi dasar pengusulan bantuan kepada pemerintah pusat, provinsi, maupun kabupaten. Risnaldi menyatakan, “Rumah-rumah masyarakat yang tidak layak huni kita minta untuk didata. Selanjutnya, kita usulkan melalui pemerintah pusat, provinsi, maupun kabupaten agar bisa mendapatkan bantuan.” Arahan ini penting, tetapi pendataan harus diikuti verifikasi dan koordinasi yang jelas agar kebutuhan warga tidak berhenti di daftar. Tanpa langkah lanjutan, kunjungan hanya mencatat masalah tanpa membuka jalan menuju perbaikan.
Kesehatan dan tindak lanjut perlu berjalan bersama
Kunjungan tersebut juga menyingkap kebutuhan kesehatan: beberapa warga mengalami katarak dan memerlukan pemeriksaan, sementara ketiadaan BPJS Kesehatan menjadi kendala yang disebutkan. Risnaldi meminta Wali Nagari mendampingi warga ke RSUD M. Zein Painan untuk pemeriksaan dan penanganan medis; operasi akan dipertimbangkan apabila sesuai persyaratan medis. Ia juga meminta wali nagari dan organisasi perangkat daerah terkait berkoordinasi supaya persoalan yang dijumpai di lapangan ditindaklanjuti. Inilah ujian utama setelah kunjungan: memastikan pendataan rumah, akses layanan kesehatan, dan kebutuhan infrastruktur tidak berjalan sendiri-sendiri. Pemerintah daerah perlu menjaga agar setiap temuan memiliki pihak yang bertanggung jawab dan tindak lanjut yang dapat dipantau. Kunjungan langsung bernilai ketika perhatian berubah menjadi proses bantuan yang nyata bagi warga.






