Pengawasan harus menguji hasil, bukan sekadar progres
TMMD adalah program pembangunan terpadu yang mempertemukan TNI dan masyarakat untuk memperbaiki infrastruktur serta mendukung kebutuhan dasar warga desa. Di Desa Klitih, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, Tim Pengawasan dan Evaluasi (Wasev) Staf Teritorial Angkatan Darat Mabesad meninjau sasaran fisik TMMD ke-130 pada Rabu, 28 Oktober 2026. Kunjungan yang dipimpin Kolonel Inf Donny Noviadi bersama Letkol Inf Dicky Purwanto ini patut dibaca sebagai pengingat: pengawasan tidak cukup berhenti pada pemeriksaan bahwa pekerjaan sedang berlangsung. Yang lebih penting ialah memastikan mutu pengerjaan dan manfaatnya sesuai kebutuhan warga. Dua laporan mengenai kunjungan yang sama mencatat cakupan peninjauan, sehingga gambaran program di Klitih meliputi jalan, hunian, air, dan sanitasi, bukan satu pekerjaan saja.
Jalan 1.338 meter perlu dinilai dari kegunaannya
Salah satu sasaran yang ditinjau ialah pembangunan jalan rabat beton sepanjang 1.338 meter. Panjang itu memberi gambaran skala pekerjaan, tetapi ukuran keberhasilannya semestinya terasa dalam perjalanan sehari-hari: apakah akses antarlokasi menjadi lebih mudah dan mobilitas warga lebih lancar. Manfaat tersebut memang menjadi harapan dari pembangunan jalan di Klitih. Karena itu, evaluasi lapangan seharusnya menghubungkan kondisi fisik jalan dengan fungsi praktisnya bagi masyarakat, bukan hanya mencatat panjang yang telah dikerjakan. Infrastruktur desa dinilai berhasil ketika dapat digunakan warga untuk aktivitas mereka dan tetap memberi manfaat setelah kegiatan program berlangsung. Dalam TMMD Jombang, perhatian pada fungsi jalan sama pentingnya dengan memastikan pelaksanaan pembangunan berjalan sesuai rencana.
RTLH, sumur bor, dan MCK menyentuh kebutuhan dasar
Peninjauan juga mencakup rehabilitasi rumah tidak layak huni (RTLH), pembangunan sumur bor, serta fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK). Cakupan ini membuat program lebih berarti daripada pembangunan akses semata: rumah yang direhabilitasi dan fasilitas dasar dapat berkaitan langsung dengan mutu hidup sehari-hari. Namun, daftar sasaran saja belum cukup untuk membuktikan bahwa kebutuhan warga telah terpenuhi. Pengawasan perlu memastikan pekerjaan benar-benar sesuai rencana dan memberi manfaat bagi masyarakat, yang memang menjadi tujuan evaluasi kunjungan tersebut. Dengan menilai jalan dan hunian dalam satu rangkaian, Tim Wasev dapat melihat pembangunan Desa Klitih secara lebih utuh. Ukuran keberhasilan semestinya bukan banyaknya jenis pekerjaan, melainkan seberapa jauh hasilnya menjawab kebutuhan yang hendak ditangani.
Ukuran akhir: manfaat yang dirasakan warga
Kunjungan ini diikuti sekitar 20 orang dan menjadi bagian dari pengawasan serta evaluasi langsung atas pelaksanaan TMMD ke-130. Kehadiran tim memberi kesempatan memeriksa sasaran di lapangan, tetapi nilainya bergantung pada ketelitian menilai kesesuaian pekerjaan dengan rencana dan manfaatnya bagi warga. Program ini diharapkan meningkatkan kualitas infrastruktur desa, mempermudah aktivitas masyarakat, serta mendukung kesejahteraan dan kualitas hidup. Harapan itu perlu menjadi tolok ukur, bukan sekadar penutup laporan. Jalan rabat beton, rehabilitasi rumah tidak layak huni, sumur bor, dan MCK harus dinilai sebagai hasil yang akan digunakan masyarakat. Kesimpulannya, pengawasan di Desa Klitih penting karena dapat mengarahkan perhatian dari daftar pekerjaan menuju manfaat konkret. Keberhasilan TMMD Jombang pada akhirnya ditentukan oleh sejauh mana pembangunan tersebut berguna bagi warga.






