Stadion Untia: Dari Penetapan Tender ke Taruhan Kota
Stadion Untia Makassar adalah proyek stadion sepak bola berkapasitas sekitar 15.000 hingga 16.000 penonton yang dibangun di Kecamatan Biringkanaya dengan skema multiyears sebagai bagian dari dorongan modernisasi fasilitas olahraga kota. Penetapan pemenang tender menandai bahwa proyek ini bukan lagi wacana, melainkan komitmen anggaran dan ruang kota yang akan mengubah wajah Untia. Pemerintah menyiapkan pagu Rp350 miliar untuk pekerjaan yang dimenangkan PT Sinar Cerah Sempurna dengan penawaran sekitar Rp334,21 miliar, angka yang cukup untuk menuntut hasil setara ikon baru kawasan. Di balik kabar penimbunan lahan yang ditarget rampung Januari, pertanyaannya bukan sekadar “kapan selesai”, tetapi “untuk siapa dan akan menjadi apa Untia setelah stadion berdiri”.

Detail Proyek: Angka Besar, Kapasitas Terukur
Secara teknis, Stadion Untia dirancang sebagai stadion sepak bola murni tanpa lintasan atletik, sehingga tribun lebih dekat ke lapangan dan pengalaman menonton lebih intens bagi penonton. Kapasitasnya diproyeksikan sekitar 15.000 penonton, dengan kemungkinan naik hingga kurang lebih 16.000 kursi terpasang, menjadikannya stadion 16 ribu kapasitas yang relevan untuk level pertandingan nasional. “Paket pekerjaan tersebut memiliki pagu anggaran Rp350 miliar, dengan nilai penawaran pemenang sekitar Rp334,21 miliar,” kata Wali Kota Munafri, menegaskan skala investasi publik yang digelontorkan. Sistem single seat di seluruh tribun bukan detail kecil, melainkan sinyal bahwa kota ingin meninggalkan pola stadion lama yang sesak dan kurang nyaman, beralih ke standar pengalaman penonton yang lebih tertib dan aman.
Dinamika Tender dan Tenggat Penimbunan Lahan
Secara administratif, proyek infrastruktur Makassar ini baru memasuki fase genting: penetapan pemenang tender sudah dilakukan, tetapi masih berada dalam masa sanggah sebelum kontrak kerja diteken dan pekerjaan fisik penuh dimulai. Pemerintah menempatkan penimbunan lahan sebagai prioritas awal, dengan target seluruh area selesai paling lambat Januari, sebelum konstruksi utama stadion dimulai. Ini keputusan realistis tapi berisiko: wali kota sendiri mengakui kekhawatiran soal kejar-kejaran dengan musim hujan dan menuntut pola kerja yang efektif dari kontraktor. Di titik ini, pengawasan publik menjadi penting. Skema tahun jamak membuka ruang fleksibilitas anggaran, namun juga rawan molor jika fase dasar seperti penimbunan tidak selesai tepat waktu dan tidak dikawal transparansi progresnya.
Makna Untia Arena bagi Kota dan Warga
Kehadiran Stadion Untia Makassar tidak bisa dilihat hanya sebagai bangunan stadion 16 ribu kapasitas; ia adalah alat untuk menggeser gravitasi aktivitas kota ke Biringkanaya dan membuka peluang regenerasi kawasan. Jika dikelola strategis, stadion ini bisa memicu perbaikan akses jalan, transportasi umum, hingga munculnya usaha kecil di sekitar stadion. Namun, dampak pada warga ditentukan detail yang sering diabaikan: apakah akses pejalan kaki nyaman, apakah parkir tak memakan ruang permukiman, dan apakah hari pertandingan tidak berubah menjadi beban kemacetan. Stadion sepak bola tanpa lintasan atletik berarti fokus pada satu cabang olahraga, dan itu sah, tetapi kota wajib memastikan fasilitas publik lain tidak terbengkalai. Untia Arena akan menjadi cermin: apakah proyek infrastruktur Makassar betul-betul melayani warga, atau sekadar monumen beton baru.
Penutup: Dari Proyek ke Janji Ruang Hidup
Proyek Stadion Untia sudah melewati titik tanpa balik: pemenang tender diumumkan, maket diserahkan, dan penimbunan lahan sedang dikejar sebelum Januari sebagai syarat masuk ke fase konstruksi. Kini saatnya menggeser fokus dari kebanggaan angka Rp350 miliar ke pertanyaan kualitas ruang: bagaimana stadion ini memudahkan warga menonton, berolahraga, dan beraktivitas di sekitarnya. Jika pemerintah mampu menjaga tempo, transparansi, dan mengaitkan stadion dengan perbaikan lingkungan sekitar, Stadion Untia bisa menjadi contoh proyek infrastruktur Makassar yang tidak hanya besar di anggaran, tetapi terasa manfaatnya di kehidupan sehari-hari. Jika tidak, ia berisiko menjadi simbol klasik: megah di foto, melelahkan dalam praktik. Pilihan ada pada konsistensi kebijakan dan ketegasan mengawal setiap fase pengerjaan.






