Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Stadion Untia Makassar Rp350 Miliar: Penimbunan Jadi Fase Paling Menentukan

Stadion Untia Makassar Rp350 Miliar: Penimbunan Jadi Fase Paling Menentukan
Minat|Asia Tenggara

Stadion Untia: Dari Tender ke Fokus Penimbunan Lahan

Stadion Untia Makassar adalah proyek infrastruktur olahraga berupa stadion sepak bola berkapasitas sekitar 15.000–16.000 penonton yang dibangun dengan skema multiyears menggunakan anggaran sekitar Rp350 miliar, berlokasi di Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya, dan saat ini memasuki fase awal berupa penimbunan lahan sebelum konstruksi utama dimulai. Inti isu Stadion Untia Makassar bukan sekadar besarnya nilai proyek, melainkan bagaimana kota menguji kedisiplinan perencanaan dalam pembangunan stadion 2026 yang dikerjakan secara bertahap. Penetapan PT Sinar Cerah Sempurna sebagai pemenang tender proyek konstruksi Makassar dengan pagu Rp350 miliar dan penawaran sekitar Rp334,21 miliar menandai dimulainya fase kerja nyata di lapangan. Penyerahan maket resmi kepada Wali Kota menjadi simbol bahwa gagasan desain sudah beralih menjadi komitmen pembangunan fisik. Namun, keberhasilan proyek sangat ditentukan oleh ketepatan menyelesaikan penimbunan lahan sebagai pondasi seluruh rencana jangka panjang.

Stadion Untia Makassar Rp350 Miliar: Penimbunan Jadi Fase Paling Menentukan

Groundbreaking Oktober dan Deadline Januari: Timeline yang Ketat

Timeline Stadion Untia disusun agresif: groundbreaking atau peletakan batu pertama ditarget awal Oktober, lalu penimbunan lahan harus rampung pada Januari 2027 sebelum konstruksi utama dimulai pada 2027. Untuk proyek multiyears, jadwal seketat ini adalah pedang bermata dua: ia menunjukkan keseriusan pemerintah, tetapi sekaligus memperbesar risiko jika pola kerja kontraktor tidak solid. Wali Kota menegaskan bahwa masa sanggah tender menjadi gerbang sebelum kontrak kerja diteken, dan setelah itu fokus langsung bergeser ke pekerjaan tanah. Di tahap ini, proyek Stadion Untia Makassar bukan lagi wacana; setiap hari terhitung terhadap target penimbunan lahan yang menjadi syarat mutlak kelanjutan pembangunan stadion 2026. Ketika kepala dinas pekerjaan umum menyebut penimbunan sebagai tahap pertama yang harus diselesaikan dalam sekitar tiga bulan, jelas bahwa manajemen waktu akan menentukan apakah stadion ini menjadi contoh kedisiplinan atau justru simbol ketergesaan.

Penimbunan Lahan: Fase Paling Kritis dalam Proyek Rp350 Miliar

Penimbunan lahan di Kelurahan Untia adalah fase paling kritis dari proyek Stadion Untia Makassar senilai Rp350 miliar, karena kualitas pengerjaan tanah akan menentukan stabilitas pondasi dan umur struktur stadion. Pemerintah Kota menargetkan seluruh area sudah selesai ditimbun paling lambat Januari, sebelum beranjak ke pondasi dan pemancangan. Di atas kertas, target ini masih masuk akal; di lapangan, tantangan utama langsung datang dari musim penghujan. Peringatan Wali Kota bahwa "waktunya sudah kasep" dan kekhawatiran proyek berkejaran dengan hujan menunjukkan kesadaran bahwa penimbunan tidak bisa dikerjakan asal cepat. Kontraktor dituntut menyusun pola kerja efektif: manajemen material timbunan, akses alat berat, dan sistem drainase sementara. Jika fase penimbunan gagal mengantisipasi beban air dan penurunan tanah, seluruh ambisi infrastruktur olahraga berstandar baru akan dipaksa menanggung biaya perbaikan dan keterlambatan yang jauh lebih mahal daripada investasi perencanaan yang cermat di awal.

Desain Sepak Bola Murni dan Dampaknya bagi Infrastruktur Olahraga

Keputusan menjadikan Stadion Untia sebagai stadion sepak bola murni tanpa lintasan atletik adalah pernyataan sikap tentang arah infrastruktur olahraga kota. Tribun yang lebih dekat ke lapangan, sistem single seat, dan kapasitas terpasang sekitar 15.000 penonton dengan kemungkinan meningkat menjadi 16.000, menempatkan pengalaman penonton sebagai prioritas. Secara konsep, ini bisa menjadi standar baru bagi proyek konstruksi Makassar lain yang ingin mengangkat kualitas pertandingan dan atmosfer penonton. Namun, fokus kuat ke sepak bola juga berarti pemerintah harus memikirkan keseimbangan untuk cabang olahraga lain di masa depan. Proyek ini memakai skema tahun jamak 2026–2027, sehingga alokasi anggaran Rp350 miliar dari APBD perlu dibaca sebagai pilihan politik anggaran yang jelas: sepak bola diberi panggung utama. Jika stadion ini kelak dikelola dengan baik dan ramai digunakan, keputusan tersebut akan dianggap tepat. Jika tidak, kritik soal prioritas infrastruktur mungkin muncul lebih keras daripada sorak penonton di tribun.

Stadion Untia sebagai Pemicu Ekonomi dan Ujian Tata Kelola Proyek

Pemerintah tidak hanya memosisikan Stadion Untia sebagai infrastruktur olahraga, tetapi juga sebagai calon kawasan pertumbuhan ekonomi baru yang diharapkan memicu aktivitas UMKM, pariwisata, dan lapangan kerja. Ambisi ini menarik, namun akan runtuh jika tahap awal proyek – penimbunan lahan dan struktur dasar – tidak dikelola dengan tata kelola yang transparan dan disiplin. Sebagai proyek multiyears yang menghubungkan pekerjaan 2026 dengan konstruksi utama 2027, Stadion Untia menjadi studi kasus penting tentang bagaimana kota mengelola proyek besar: dari tender, masa sanggah, hingga pengawasan progres fisik. Jika target groundbreaking, penimbunan, dan konstruksi tercapai sesuai jadwal tanpa kompromi terhadap kualitas, Stadion Untia Makassar bisa menjadi simbol kedewasaan perencanaan infrastruktur olahraga. Jika molor dan kualitas pondasi diragukan, stadion senilai Rp350 miliar ini berisiko tercatat sebagai pelajaran mahal tentang pentingnya memulai proyek besar dengan fondasi yang lebih dari sekadar timbunan tanah – yaitu fondasi manajemen yang rapi dan akuntabel.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!