Mengenal kepabeanan lewat pengalaman langsung
Edukasi kepabeanan pelajar adalah kegiatan pembelajaran yang mengenalkan aturan dan fungsi pengawasan barang lintas batas, pemungutan bea dan cukai, serta dukungan bagi perdagangan dan industri. Bagi siswa, pelajaran ini penting karena kepabeanan bukan sekadar urusan dokumen di pelabuhan: kebijakan tersebut ikut menentukan barang yang boleh beredar dan bagaimana negara memperoleh penerimaan. Dalam rangkaian kegiatan di berbagai daerah, Bea Cukai mengajak pelajar SMA dan SMK mengenal tugas serta fungsinya melalui kunjungan sekolah maupun pembelajaran di kantor. Materi yang diberikan mencakup pengawasan barang masuk dan keluar, bea masuk, bea keluar, cukai, serta fasilitas untuk perdagangan dan industri dalam negeri. Pendekatan langsung ini lebih berguna daripada menghafal istilah semata. Siswa dapat melihat bahwa aturan kepabeanan punya dampak nyata bagi konsumen, pelaku usaha, dan masyarakat luas.

Dari Belitung, cukai hingga peluang pendidikan
Di Belitung dan Belitung Timur, Bea Cukai bekerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mengadakan program Customs Goes to School pada 14 dan 15 Oktober 2026. Kolaborasi ini memperluas pembelajaran: siswa tidak hanya mendapat pengenalan cukai siswa dan materi impor, ekspor, fasilitas kepabeanan, serta produk yang dikenai cukai, tetapi juga penjelasan tentang peran kelapa sawit dalam perekonomian. Hermoko, narasumber dari Direktorat Komunikasi dan Bimbingan Pengguna Jasa Bea Cukai, merangkum fungsi lembaga itu sebagai “revenue collector, community protector, trade facilitator, dan industrial assistance”. BPDP turut mengenalkan beasiswa vokasi D1-D4 dan sarjana S1, dengan dukungan untuk biaya pendidikan, hidup, buku, transportasi, dan sertifikasi. Kegiatan ini juga mengumumkan pemenang lomba esai yang berlangsung pada 13 Agustus hingga 1 September 2026. Kombinasi materi kebijakan, ekonomi, dan pendidikan memberi siswa alasan untuk menghubungkan pelajaran dengan pilihan masa depan.

Kepabeanan, perlindungan, dan penerimaan negara
Edukasi di Magelang, Malang, dan Probolinggo memperlihatkan sisi praktis tugas Bea Cukai. Di SMA Negeri 1 Muntilan, Kabupaten Magelang, kegiatan Customs Goes to School pada 19 Oktober diikuti 70 siswa kelas X dan XI. Demonstrasi Unit Anjing Pelacak Narkotika (K-9) memperkenalkan peran anjing dalam mendukung pengawasan dan penindakan narkotika. Siswa juga mendapat materi dasar kepabeanan dan cukai, isu terkini, serta peringatan tentang penipuan yang mengatasnamakan Bea Cukai. Di Malang, pelajar SMK Muhammadiyah Banjarnegara menerima penjelasan tentang tugas, fungsi, dan kinerja kantor setempat, termasuk cara mengenali modus penipuan. Sementara itu, siswa SMP Negeri 6 Kota Probolinggo mengikuti kunjungan studi interaktif. Contoh-contoh ini membuat kaitan antara pelayanan, pengawasan, dan penerimaan negara lebih mudah dipahami. Literasi semacam ini juga membantu pelajar menguji informasi sebelum mempercayai pihak yang mengaku sebagai petugas.
Pelajaran yang seharusnya melekat
Nilai terbesar kegiatan-kegiatan ini bukan pada banyaknya istilah yang diperkenalkan, melainkan pada kemampuan siswa melihat hubungan antara aturan dan kehidupan sehari-hari. Pengawasan barang dapat melindungi masyarakat dari barang terlarang atau dibatasi; pungutan bea dan cukai menjadi bagian dari penerimaan negara; fasilitas kepabeanan membantu perdagangan dan industri. Demonstrasi K-9 memberi gambaran konkret tentang perlindungan, sedangkan pembahasan modus penipuan membekali siswa untuk lebih waspada. Agar edukasi kepabeanan pelajar benar-benar membekas, materi perlu dipahami sebagai pengetahuan warga, bukan sekadar pengenalan lembaga. Rangkaian kunjungan dan pembelajaran di sekolah sudah membuka pintu untuk pemahaman itu. Kesimpulannya, mengenalkan tugas Bea Cukai sejak bangku sekolah adalah langkah yang masuk akal: generasi muda lebih siap memahami aturan, mengenali risiko, dan menilai peran kebijakan publik dalam perekonomian.






