Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Guru dan Polisi Bersatu Cegah Judi Online di Sekolah

Guru dan Polisi Bersatu Cegah Judi Online di Sekolah
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Judi Online Pelajar: Masalah Moral, Bukan Sekadar Teknologi

Judi online pelajar adalah keterlibatan siswa dalam permainan taruhan berbasis internet yang memanfaatkan gawai dan aplikasi digital, yang tidak hanya merugikan secara finansial tetapi juga merusak kesehatan mental, mengganggu proses belajar, dan menumbuhkan perilaku menyimpang yang dapat berujung pada kejahatan siber dan masalah sosial yang lebih luas. Fenomena ini tidak lahir di ruang hampa. Ia tumbuh dari kombinasi akses gawai tanpa pendampingan, minimnya edukasi literasi digital sekolah, dan budaya digital yang mengagungkan sensasi instan. Karena itu, pendekatan teknis saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah gerakan nilai: guru, polisi, dan orang tua berdiri di barisan yang sama, mengajarkan bahwa integritas lebih penting daripada kemenangan sesaat di layar. Jika sekolah gagal membangun karakter, ruang digital akan mengisinya dengan algoritma yang mengejar klik, bukan akhlak.

Program PIJAR: Sekolah Jadi Benteng Etika dan Keamanan Digital

Peluncuran program PIJAR (Pintar Jaga Etika dan Ramah Digital) oleh DWP Unit DKIS Kota Cirebon adalah contoh konkret bagaimana sekolah bisa berubah dari sekadar ruang belajar menjadi benteng keamanan siber pelajar. SMP Negeri 6 Kota Cirebon menjadi sekolah pertama yang mengikuti PIJAR Goes to School, dengan tema “Menyalakan Literasi Digital, Membangun Generasi Berkarakter”. Ini bukan acara seremonial; ini adalah pernyataan sikap bahwa pencegahan judol siswa harus dimulai dari kelas. Materi PIJAR mencakup keamanan digital, etika bermedia sosial, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan secara bertanggung jawab. Ditambah lagi, OJK hadir mengedukasi tentang bahaya pinjol, judi online, dan investasi ilegal. Edukasi literasi digital sekolah dikemas lewat seminar interaktif, workshop, permainan edukatif, kuis digital, dan simulasi cek fakta, sehingga siswa tidak hanya tahu apa yang berbahaya, tetapi juga merasakan bahwa menjadi “pelajar cerdas digital” itu keren dan layak dibanggakan.

Polda Banten: Polisi Masuk Kelas, Kejahatan Digital Tak Lagi Abstrak

Ketika Polda Banten mengungkap indikasi sejumlah siswa SMA terlibat permainan judi online, alarm seharusnya berbunyi di seluruh satuan pendidikan. Polisi memilih langkah yang tepat: bukan hanya menindak, tetapi memperkuat edukasi digital langsung di sekolah. Di SMA Negeri 1 Kota Serang, Wadirreskrimum AKBP Irene Missy menyampaikan bahwa temuan keterlibatan judol dan aktivitas negatif lain adalah perhatian bersama, lalu mengajak siswa yang sudah bijak di dunia maya menjadi teladan bagi teman-temannya. Ini penting: pencegahan judol siswa tidak bisa hanya mengandalkan ancaman hukuman, tetapi juga budaya saling mengingatkan. Pada sesi teknis, Panit Cyber Ipda Okto Fajar N memberikan materi pencegahan kejahatan siber, dari bahaya hoaks hingga pentingnya perlindungan data pribadi. Para pelajar diimbau agar tidak mudah percaya informasi yang belum terverifikasi dan tidak sembarangan membagikan data pribadi. Ketika polisi masuk kelas, kejahatan digital berhenti menjadi konsep abstrak; ia menjadi risiko nyata yang bisa dipahami dan dihindari.

Guru Sebagai Panutan: Karakter Adalah Antivirus Terkuat

Sosialisasi Pergunu Jakarta tentang peran strategis guru NU dalam mencegah judi online di satuan pendidikan menegaskan satu hal: teknologi boleh canggih, tetapi benteng utama tetap karakter. Ketua PW Pergunu Jakarta, Solhah Munawaroh, menyebut ancaman judi online sudah sangat mengkhawatirkan dan bisa diakses siapa saja, termasuk anak-anak. Di titik ini, guru tidak boleh puas menjadi pengajar materi; mereka harus hadir sebagai panutan moral. “Guru memiliki peran sentral dalam pembentukan karakter dan moral siswa sebagai pendidik. Guru tidak hanya menyampaikan materi pelajaran saja, tetapi juga berfungsi sebagai panutan dan pengarah bagi siswa,” tegas Solhah. Judi online pelajar merusak kesehatan mental dan emosional, mengganggu proses belajar, dan membentuk perilaku negatif. Karena itu, Pergunu dan PWNU merencanakan Judi Online Crisis Center dan gerakan masif ke akar rumput untuk mendiseminasi bahaya judol di kalangan remaja. Ini adalah contoh bagaimana nilai-nilai keagamaan dan etika dijadikan fondasi keamanan siber pelajar, bukan sekadar pelengkap.

Guru dan Polisi Bersatu Cegah Judi Online di Sekolah

Kesimpulan: Literasi Digital Tanpa Pembinaan Moral Akan Tumpul

Rangkaian inisiatif dari program PIJAR sekolah di Cirebon, edukasi digital Polda Banten, hingga kajian Pergunu Jakarta menunjukkan arah yang jelas: pencegahan judi online pelajar tidak bisa hanya mengandalkan teknologi, aplikasi pemblokir, atau kampanye sesaat. Kekuatan sesungguhnya ada pada kolaborasi: guru membangun karakter, polisi menguatkan kesadaran hukum dan risiko kejahatan siber pelajar, sementara sekolah menanamkan etika bermedia sosial, pemahaman AI, dan kesadaran risiko digital dalam kurikulum sehari-hari. Jika gerakan ini konsisten, siswa akan melihat dunia digital bukan sebagai arena judi dan penipuan, tetapi sebagai ruang belajar dan berkarya. Tantangannya sekarang bukan apakah program-program ini ada, melainkan apakah kepala sekolah, guru, dan aparat mau menjadikannya prioritas, bukan sekadar agenda tahunan. Tanpa komitmen jangka panjang, judol akan selalu selangkah lebih cepat daripada regulasi. Dengan komitmen, karakter siswa bisa menjadi antivirus terkuat yang menolak judi online sejak dari niat.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!