Perluasan Sekolah Rakyat memasuki tahap baru
Sekolah Rakyat adalah program pendidikan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera yang menggabungkan kegiatan belajar dengan dukungan kebutuhan sehari-hari. Perannya penting karena akses pendidikan seharusnya tidak ditentukan oleh kondisi ekonomi keluarga.
Hingga Oktober 2026, pemerintah telah menyelesaikan 265 Sekolah Rakyat yang tersebar di 131 kabupaten/kota. Capaian ini menjadi pijakan, bukan alasan untuk menganggap pekerjaan sudah selesai. Kemensos menargetkan pembangunan 500 gedung permanen di berbagai wilayah dalam tiga hingga empat tahun ke depan. Artinya, rencana tersebut hampir menggandakan jumlah sekolah yang telah berdiri—sebuah perluasan yang menuntut perhatian pada mutu dan jangkauan, bukan sekadar angka gedung.

Target gedung berarti perluasan kapasitas besar
Skala rencana terlihat lebih jelas dari sasaran daya tampungnya. Menteri Sosial Saifullah Yusuf, atau Gus Ipul, menyatakan bahwa 500 gedung permanen itu ditargetkan mampu menampung lebih dari satu juta siswa. Kapasitas siswa sebesar itu menunjukkan ambisi program untuk menjangkau jauh lebih banyak anak daripada yang saat ini tertampung.
Perbandingan dengan kondisi berjalan memberi konteks: kegiatan belajar telah berlangsung di 182 lokasi dengan lebih dari 44 ribu peserta didik, sementara 93 lokasi sudah menggunakan bangunan permanen. Karena itu, target 500 gedung bukan sekadar penggantian fasilitas sementara. Ia menandakan upaya membangun jaringan pendidikan yang jauh lebih luas. Namun, gedung baru akan berarti jika dibarengi tenaga pendidik, layanan pendukung, dan pengelolaan yang sanggup memenuhi kebutuhan siswa.
Akses pendidikan harus diikuti dukungan nyata
Sekolah Rakyat dirancang untuk membantu anak dari keluarga prasejahtera memperoleh pendidikan sekaligus memutus kemiskinan antargenerasi. Hingga Oktober 2026, lebih dari 45 ribu anak jalanan disebut telah mendapat kesempatan kembali bersekolah. Angka tersebut menggambarkan persoalan yang tidak selesai hanya dengan membuka ruang kelas: sebagian anak membutuhkan dukungan agar dapat bertahan dalam pendidikan.
Program ini menyediakan tempat tinggal yang layak, sarana belajar dan olahraga, makanan bergizi, serta layanan kesehatan. Fasilitas tersebut membuat pendekatannya lebih menyeluruh daripada penyediaan pelajaran semata. Bagi keluarga yang menghadapi kerentanan, dukungan semacam ini dapat mengurangi hambatan sehari-hari yang menghalangi anak mengikuti sekolah. Maka, keberhasilan perluasan semestinya diukur bukan hanya dari jumlah gedung Sekolah Rakyat, tetapi juga dari apakah layanan itu benar-benar sampai kepada anak yang paling sulit dijangkau.
Ukuran keberhasilan ada pada pelaksanaan
Pembangunan 500 gedung dalam tiga hingga empat tahun adalah sasaran besar, sementara 265 sekolah telah berdiri di 131 kabupaten/kota. Selisih itu memperlihatkan pekerjaan yang masih harus dituntaskan sekaligus besarnya peluang memperluas akses pendidikan. Pemerataan lokasi akan menentukan apakah kapasitas baru menjangkau daerah yang membutuhkan, bukan hanya menambah angka pada laporan.
Target lebih dari satu juta siswa memberi program arah yang tegas, tetapi kapasitas fisik saja tidak menjamin pengalaman belajar yang baik. Pemerintah perlu memastikan pembangunan berjalan seiring dengan kesiapan pengajar, layanan kesehatan, kebutuhan pangan, dan pendampingan siswa. Kesimpulannya, rencana ini layak dinilai sebagai langkah ekspansi yang berarti—dengan syarat keberhasilan akhirnya diukur dari anak yang dapat masuk, bertahan, dan memperoleh pendidikan bermutu, bukan hanya dari gedung yang selesai dibangun.






