Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

LIMINAL: Arsitektur Bawah Tanah yang Menjinakkan Keramaian

LIMINAL: Arsitektur Bawah Tanah yang Menjinakkan Keramaian
Minat|Desain Interior

LIMINAL: Ruang Hening di Tengah Keramaian Komersial

LIMINAL adalah sebuah ruang hening eksperimental di bawah permukaan tanah yang dirancang Budi Pradono di kawasan Summarecon Bandung sebagai arsitektur bawah tanah anti-monumental yang mengutamakan arsitektur pengalaman ruang melalui perpaduan cahaya, material, lanskap, dan keheningan, sehingga pengunjung diajak berhenti sejenak, berefleksi, dan menemukan momen tenang di tengah hiruk pikuk kawasan komersial. LIMINAL resmi diperkenalkan kepada publik di Dia.Lo.Gue dotHub bersamaan dengan pembukaan pameran ANTI-OBJECT ARCHITECTURE pada Sabtu, 12 September 2026. Fakta bahwa sebuah ruang kontemplatif hadir sebagai bagian dari pengembangan hunian dan komersial menunjukkan ambisi berbeda: ruang publik bukan sekadar fasilitas penunjang, melainkan medium pembentuk pengalaman batin. Di sini, keheningan diposisikan sebagai layanan, bukan bonus. Dan itu adalah pernyataan tegas bahwa kota masa depan perlu menata ulang relasi antara konsumsi dan ketenangan.

Anti-Monumental: Ketika Arsitektur Memilih Menghilang

Keberanian utama Budi Pradono dalam Budi Pradono LIMINAL adalah keputusan untuk tidak membangun monumen sama sekali. Alih-alih bangunan besar dan dominan, LIMINAL hadir sebagai mute space, ruang hening yang terkubur dan sengaja "menghilang" dari pandangan permukaan. Sikap anti-monumental ini terasa seperti kritik halus terhadap arsitektur komersial yang gemar menonjolkan bentuk dan citra, namun melupakan kualitas hadirnya manusia di dalam ruang. Dengan bambu petung lokal sebagai struktur utama, proyek ini merendahkan mimbar arsitektur dan mengangkat sensasi tubuh: tekstur material, suhu tanah, dan transisi cahaya menjadi "narasi" utama. Menariknya, arsitektur pengalaman ruang diprioritaskan jauh di atas bentuk ikonik. Pengunjung tidak datang untuk memotret fasad, tetapi untuk mengalami perjalanan turun ke bawah—secara fisik sekaligus mental.

LIMINAL: Arsitektur Bawah Tanah yang Menjinakkan Keramaian

Arsitektur Pengalaman Ruang: Cahaya, Waktu, dan Introspeksi

Di dalam LIMINAL, arsitektur pengalaman ruang bukan jargon; ia bekerja lewat elemen yang sangat konkret. Tiga bukaan berbentuk corong di permukaan tanah mengarahkan cahaya alami ke ruang bawah tanah, membuat desain ruang hening ini terus berubah mengikuti waktu dan pergerakan pengunjung. Setiap kunjungan berpotensi berbeda, karena komposisi cahaya tidak pernah persis sama dari pagi ke senja. Keheningan diatur bukan dengan aturan ketat, melainkan melalui atmosfer: minim stimulasi visual, ritme langkah menurun saat tubuh menyadari jarak dari keramaian, dan pandangan tertuntun oleh sorotan cahaya yang turun dari atas. "LIMINAL menjadi sebuah perjalanan refleksif melalui penciptaan karya arsitektur berupa mute space atau ruang hening yang terkubur tanpa monumen, guna mengajak kita merenung, menghayati dunia, dan mengintrospeksi diri," kata Budi. Inilah arsitektur yang lebih dekat ke praktik meditasi ketimbang fotografi Instagram.

Ruang Publik sebagai Medium Spiritualitas Sehari-hari

Yang membuat LIMINAL penting adalah posisi sosialnya: ia bukan tempat ibadah, bukan galeri elitis, melainkan ruang publik di jantung kawasan hunian dan komersial. Executive Director Summarecon Bandung, Hindarko Hasan, menegaskan bahwa kehadiran LIMINAL adalah upaya menghadirkan ruang yang tidak hanya berfungsi secara fisik, tetapi juga memberi pengalaman bagi masyarakat. Setelah diperkenalkan, ruang ini akan dikembangkan dengan program BUNYI (musik dan pertunjukan), KATA (literasi dan pemikiran), dan RUPA (seni visual dan desain). Artinya, momen ketenangan tidak dipisahkan dari aktivitas kreatif; keduanya dirajut dalam satu ekosistem. Di tengah pola pengembangan kawasan yang biasanya mengejar trafik dan transaksi, arsitektur bawah tanah yang hening ini berperan sebagai penanda nilai lain: keberadaan ruang bagi refleksi, perjumpaan gagasan, dan interaksi yang tidak melulu berorientasi konsumsi. LIMINAL menunjukkan bahwa ruang publik dapat, dan seharusnya, menjadi medium spiritualitas sehari-hari—tanpa label religius, tanpa seremoni besar.

Kesimpulan: Liminalitas sebagai Sikap Menghadapi Kota yang Bising

Di ujungnya, LIMINAL adalah pernyataan sikap tentang bagaimana kita ingin hidup di kota yang kian bising. Dengan memilih bentuk anti-monumental, mengandalkan bambu dan tanah, serta menempatkan keheningan sebagai inti desain, proyek ini menolak logika ruang komersial yang didominasi visual dan kebisingan. Arsitektur bawah tanah tersebut mengajarkan bahwa pengalaman mendalam sering lahir dari gestur yang menunduk, bukan menjulang. Sebagai ruang publik, LIMINAL memberi contoh konkret bahwa pengembang bisa mengembalikan ruang kepada masyarakat sebagai tempat merenung, bukan hanya berbelanja. Jika lebih banyak kawasan perkotaan berani mengadopsi pendekatan arsitektur pengalaman ruang seperti ini, mungkin kota tidak perlu terus terasa melelahkan. Kita butuh lebih banyak ruang liminal: selipan hening di antara deret etalase, di mana tubuh dan pikiran punya kesempatan jeda sebelum kembali menghadapi permukaan dunia.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!