Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Penghargaan ke Budaya: Adiwiyata Menuntut Aksi Nyata di Sekolah

Dari Penghargaan ke Budaya: Adiwiyata Menuntut Aksi Nyata di Sekolah
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Adiwiyata: Program Lingkungan yang Menuntut Perubahan Perilaku, Bukan Sekadar Piagam

Program Adiwiyata sekolah adalah gerakan pembinaan satuan pendidikan agar membangun kebijakan, kurikulum, kegiatan partisipatif, dan sarana pendukung yang menanamkan kebiasaan ramah lingkungan kepada seluruh warga sekolah secara berkelanjutan, sehingga kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian dari karakter dan budaya sehari-hari, bukan sekadar proyek sesaat atau upaya mengejar penghargaan formal. Dari sini, poin kuncinya jelas: Adiwiyata hanya relevan jika mengubah perilaku, bukan menambah koleksi piagam di dinding ruang kepala sekolah. Ketika sekolah menjadikan program Adiwiyata sekolah sebagai alat membangun budaya peduli lingkungan, penghargaan lingkungan sekolah hanyalah konsekuensi, bukan tujuan utama. Sikap ini yang masih sering hilang dalam praktik, padahal tanpa perubahan keseharian, gelar Adiwiyata terasa kosong.

SMPN 6 Pati: Budaya Peduli Lingkungan Dimulai dari Kebiasaan Sederhana

Contoh konkret bagaimana Adiwiyata menuntut perubahan perilaku terlihat di SMP Negeri 6 Pati. Sekolah ini memperkuat gerakan peduli lingkungan melalui pembiasaan membawa alat makan dan tumbler pribadi, sosialisasi pemilahan sampah, serta kerja bakti rutin yang melibatkan seluruh warga sekolah sebagai bagian persiapan menuju Sekolah Adiwiyata tingkat kabupaten. Salah satu program kuncinya adalah kewajiban membawa alat makan dan tumbler pribadi yang dimulai sejak pertengahan September 2026, untuk menekan penggunaan plastik sekali pakai dan timbulan sampah di lingkungan sekolah. Kepala sekolah menegaskan bahwa kepedulian harus dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan konsisten oleh guru dan siswa, termasuk pemilahan dan pemanfaatan sampah yang bisa didaur ulang. Di sini terlihat, budaya peduli lingkungan dibangun lewat rutinitas: Jumat bersih, pemilahan, dan kebiasaan membawa perlengkapan sendiri, yang diharapkan menular ke rumah.

Dari Penghargaan ke Budaya: Adiwiyata Menuntut Aksi Nyata di Sekolah

Sidoarjo: Penghargaan Adiwiyata sebagai Pemantik Inovasi Berkelanjutan Sekolah

Di Sidoarjo, sebanyak 16 sekolah menerima penghargaan Sekolah Adiwiyata Kabupaten sebagai pengakuan atas komitmen melestarikan lingkungan sekolah. Namun Bupati Subandi mengingatkan bahwa keberhasilan program Adiwiyata tidak boleh diukur dari piagam saja; penghargaan harus diikuti perubahan nyata dalam perilaku warga sekolah, dari kebiasaan menjaga kebersihan hingga pengembangan inovasi pengelolaan sampah. Ia menegaskan, “Sekolah yang sudah mendapatkan penghargaan ini harus terus meningkatkan kepeduliannya dan mengajak sekolah-sekolah lain untuk melakukan hal yang sama. Kita jaga keindahan dan kebersihan lingkungan. Ini jihad bersama.” Praktik inovasi berkelanjutan sekolah tampak pada SD Islam Kreatif Mutiara Anak Sholeh yang memanfaatkan plastik menjadi ecobrick dan mengolah sisa makanan untuk budidaya maggot black soldier fly sebagai pakan ikan dan ayam. Pesannya jelas: penghargaan lingkungan sekolah adalah titik awal, bukan garis finish.

Dari Penghargaan ke Budaya: Adiwiyata Menuntut Aksi Nyata di Sekolah

Peran DLH, Kepala Sekolah, dan PBLHS: Kolaborasi yang Menentukan

Program Adiwiyata tidak berjalan sendirian; ia bertumpu pada kolaborasi antara dinas lingkungan hidup, dinas pendidikan, dan kepala sekolah. Di Sidoarjo, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) bukan hanya membagikan piagam, tetapi melakukan pendampingan penyusunan dokumen bagi 43 calon Sekolah Adiwiyata Nasional, mencakup kebijakan berwawasan lingkungan, kurikulum berbasis lingkungan, kegiatan partisipatif, dan pengelolaan sarana pendukung ramah lingkungan. Kepala DLHK menegaskan bahwa program Adiwiyata dirancang bukan sekadar ajang seremonial, melainkan pendorong terciptanya budaya ramah lingkungan yang berkelanjutan di sekolah. Di sisi lain, kepala sekolah dan kepala madrasah memegang peran vital dalam menata lingkungan, mengedukasi siswa, dan memastikan program Adiwiyata sekolah menyatu dengan Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (PBLHS). Tanpa kepemimpinan yang tegas, Adiwiyata mudah tergelincir menjadi proyek administrasi belaka.

Dari Sekolah ke Rumah: Mengapa Adiwiyata Harus Menjadi Budaya, Bukan Event

Inti dari budaya peduli lingkungan adalah keberlanjutan: kebiasaan yang terus hidup meski tidak ada tim penilai datang berkunjung. Berbagai program di SMPN 6 Pati—dari pembiasaan membawa tumbler hingga Jumat bersih—jelas diarahkan untuk membangun budaya sekolah berwawasan lingkungan, bukan sekadar memenuhi indikator penilaian. Di Sidoarjo, pemerintah daerah berharap penghargaan Adiwiyata mendorong perubahan yang lebih luas, dari lingkungan sekolah hingga rumah tangga, sehingga lahir sumber daya manusia yang peduli lingkungan dan mampu menjaga kebersihan dirinya sendiri. Kepala MTsN 2 Sidoarjo bahkan menegaskan bahwa predikat Adiwiyata adalah pemantik semangat untuk terus berinovasi dalam pengelolaan sampah dan pembentukan karakter siswa yang peduli, mandiri, dan menghargai lingkungan sejak dini. Kesimpulannya tegas: jika Adiwiyata berhenti pada seremoni, kita kehilangan kesempatan emas membentuk generasi yang menjadikan peduli lingkungan sebagai gaya hidup.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!