Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Predikat ke Perilaku: Menjadikan Program Adiwiyata sebagai Budaya Hidup di Sekolah

Dari Predikat ke Perilaku: Menjadikan Program Adiwiyata sebagai Budaya Hidup di Sekolah
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Adiwiyata: Bukan Lomba, Melainkan Cara Sekolah Mendidik Karakter Hijau

Program Adiwiyata sekolah adalah gerakan sistematis untuk menjadikan satuan pendidikan sebagai sekolah ramah lingkungan yang mengintegrasikan kepedulian lingkungan siswa dalam kebijakan, kurikulum, kegiatan partisipatif, dan pengelolaan sarana-prasarana sehingga perilaku peduli lingkungan tertanam sebagai kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar proyek sesaat.

Sikap paling berbahaya terhadap Program Adiwiyata adalah memperlakukannya seperti perlombaan tahunan. Ketika sekolah sibuk mengejar piagam, esensi pendidikan lingkungan hilang. Pejabat lingkungan di Sukabumi mengingatkan bahwa Program Adiwiyata jangan sampai hanya menjadi ajang mengejar predikat bagi sekolah. Predikat Adiwiyata seharusnya dipahami sebagai konsekuensi logis dari budaya hijau yang konsisten, bukan tujuan tunggal. Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah saat kebiasaan memilah sampah, menghemat air dan energi, serta merawat tanaman menjadi refleks warga sekolah, lalu terbawa ke rumah dan lingkungan sekitar.

Sekolah Ramah Lingkungan: Dari Kebiasaan Kecil ke Karakter Siswa

Jika Program Adiwiyata diartikan dengan tepat, output utamanya adalah sekolah ramah lingkungan yang hidup, bukan sekadar taman hijau di sudut halaman. Budaya peduli dan berbudaya lingkungan diharapkan melahirkan kebiasaan baik yang melekat dalam kehidupan sehari-hari para siswa. Itu berarti setiap kelas, kantin, hingga ruang guru menjadi laboratorium karakter hijau. Kebiasaan sederhana—memilah dan mengurangi sampah, menjaga kebersihan, menghemat air dan energi, merawat tanaman—harus diulang sampai menjadi karakter.

Di sinilah letak kejujuran sekolah: apakah semua kegiatan hijau berhenti setelah penilaian, atau terus berjalan saat tidak ada tim evaluator? Sekolah yang sungguh-sungguh membangun kepedulian lingkungan siswa akan merasakan manfaat langsung: lingkungan lebih bersih dan nyaman, konflik soal kebersihan berkurang, dan siswa otomatis membawa kebiasaan itu ke rumah. Program Adiwiyata sekolah, bila konsisten, menghubungkan ruang kelas dengan dunia nyata; siswa belajar bahwa menjaga lingkungan bukan tugas mata pelajaran, melainkan cara hidup.

Peran Strategis DLH dan Sekda: Kepedulian Lingkungan Sejak Dini

Transformasi Adiwiyata menjadi budaya tak mungkin terjadi tanpa kepemimpinan publik yang tegas. Di Sukabumi, pejabat Dinas Lingkungan Hidup menegaskan bahwa yang paling penting bukan sekadar mendapatkan predikat Adiwiyata, melainkan bagaimana budaya peduli lingkungan itu benar-benar hidup dan menjadi kebiasaan. Pesan ini menempatkan DLH bukan sekadar sebagai lembaga penilai, tetapi mitra pembinaan yang mengawal kualitas Program Adiwiyata sekolah.

Di Jawa Tengah, Sekretaris Daerah menekankan bahwa sekolah Adiwiyata memiliki peran penting dalam membentuk kepedulian lingkungan sejak usia dini. Menurutnya, sekolah Adiwiyata adalah sekolah yang lebih peduli lingkungan dan menjadi titik strategis untuk menginternalisasi pemahaman tentang persoalan lingkungan kepada anak-anak. Satu pernyataan yang patut dikutip: “Sekolah Adiwiyata itu adalah sekolah yang lebih peduli lingkungan. Ini menjadi titik yang strategis. Karena mendidik anak-anak kita untuk lebih menginternalisasi pemahaman tentang kepedulian terhadap masalah lingkungan”. Apresiasi yang diberikan kepada sekolah, kata Sekda, bukanlah akhir, melainkan pemicu agar sekolah lain terinspirasi mengembangkan gerakan serupa.

SIDIA: Digitalisasi Adiwiyata agar Fokus Sekolah Beralih ke Aksi

Salah satu alasan banyak sekolah terjebak pada polesan dokumen adalah proses administrasi yang melelahkan. Di sinilah Aplikasi SIDIA Adiwiyata mengubah permainan. Sistem Informasi Adiwiyata ini merupakan inovasi Kementerian Lingkungan Hidup sejak 2023 untuk memudahkan penginputan data dukung yang diperlukan bagi sekolah Adiwiyata. Melalui aplikasi tersebut, penginputan yang semula dilakukan secara manual kini bisa dilakukan secara digital.

Pengalaman Tabalong menarik: Dinas Lingkungan Hidup setempat mensosialisasikan Aplikasi SIDIA kepada belasan calon sekolah Adiwiyata tingkat kabupaten 2025. Dari 17 sekolah calon, 12 hadir dalam sosialisasi yang digelar 26 Agustus 2025 di Aula DLH. Di aplikasi SIDIA, sekolah melakukan registrasi, mengisi profil, lalu menginput 29 kriteria terkait dokumentasi pengelolaan lingkungan hidup. Ini artinya, beban administratif diurai agar sekolah bisa mengalihkan energi ke kualitas aksi lapangan. Jadwalnya pun jelas: September, seluruh sekolah diminta mengisi kriteria; Oktober, tim akan melakukan penilaian. Digitalisasi ini menjadikan pencapaian status Adiwiyata lebih transparan dan terukur, sekaligus memberi sinyal bahwa yang dinilai bukan keindahan kertas, melainkan konsistensi praktik.

Pembinaan Berjenjang: Dari Kandidat ke Sekolah Adiwiyata yang Konsisten

Data pembinaan di berbagai daerah menunjukkan bahwa kualitas tetap menjadi saringan utama. Sebelumnya, 42 sekolah diusulkan mengikuti pembinaan Program Adiwiyata melalui Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama, namun baru 15 sekolah yang dinilai memenuhi kriteria untuk ditindaklanjuti sebagai calon Sekolah Adiwiyata Kabupaten. Angka ini menjadi sinyal penting: memperbanyak peserta penting, tetapi menjaga standar jauh lebih penting.

Sekda di Jawa Tengah berharap pengembangan sekolah Adiwiyata dilakukan bertahap hingga semakin banyak sekolah menerapkan gerakan peduli lingkungan. Pendekatan berjenjang—dari sekolah kandidat, pembinaan intensif, penilaian, hingga predikat—idealnya dikombinasikan dengan pemantauan pascapenghargaan. Tanpa itu, sekolah bisa saja rajin di awal dan melemah setelah piagam diterima. Inti Program Adiwiyata sekolah adalah keberlanjutan: apakah kebiasaan memilah sampah tetap dilakukan setelah guru pembina pindah, apakah penghematan energi tetap dijaga saat kepala sekolah berganti. Jika kebiasaan baik bertahan melampaui proyek, barulah kita dapat menyebut sekolah tersebut sebagai sekolah ramah lingkungan yang sesungguhnya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!