Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Program Adiwiyata Meluas ke 42 Sekolah: Dari Sertifikat ke Budaya

Program Adiwiyata Meluas ke 42 Sekolah: Dari Sertifikat ke Budaya
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Adiwiyata: Bukan Lomba, Melainkan Mesin Pembentuk Budaya Lingkungan

Program Adiwiyata sekolah adalah skema pembinaan dan penghargaan yang mendorong satuan pendidikan mengintegrasikan pengelolaan lingkungan, pembiasaan perilaku hijau, dan pendidikan ekologi ke dalam seluruh aspek kehidupan sekolah sehingga terbentuk budaya lingkungan sekolah yang berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial atau proyek sesaat yang berhenti setelah penilaian selesai. Program ini menuntut perubahan cara pikir, cara mengelola sarana, hingga cara guru mengajar dan siswa berperilaku setiap hari. Di tengah krisis sampah dan penurunan kualitas lingkungan, memperluas jangkauan Adiwiyata ke lebih banyak sekolah adalah langkah strategis, tetapi hanya akan berarti jika fokusnya bergeser dari mengejar piagam ke membangun karakter warga sekolah peduli lingkungan.

Di Kabupaten Sukabumi, Dinas Lingkungan Hidup mengusulkan 42 sekolah mengikuti pembinaan program Adiwiyata tahun ini. Angka ini bukan sekadar penambahan peserta; ini adalah sinyal bahwa pemerintah daerah mulai melihat sekolah sebagai garda depan perubahan perilaku lingkungan. Usulan 42 sekolah tersebut datang dari dua instansi, masing-masing 21 sekolah dari Dinas Pendidikan dan 21 dari Kementerian Agama. Komposisi ini penting: Adiwiyata tidak lagi dimaknai hanya milik sekolah umum, tetapi juga madrasah, yang selama ini sering dipinggirkan dalam wacana inovasi pendidikan lingkungan. Jika dimanfaatkan dengan serius, gelombang baru peserta ini bisa mengubah wajah sekolah peduli lingkungan di tingkat lokal.

Program Adiwiyata Meluas ke 42 Sekolah: Dari Sertifikat ke Budaya

42 Sekolah Dibina: Peluang Emas Mengubah Kebiasaan Sehari-hari

Esensi program Adiwiyata sekolah adalah mengubah kebiasaan kecil menjadi budaya besar: memilah sampah, menghemat air dan listrik, menjaga sanitasi, hingga merawat tanaman sebagai rutinitas warga sekolah. Ketika 42 sekolah di Sukabumi masuk skema pembinaan, pertanyaannya bukan lagi “berapa sertifikat yang akan keluar”, melainkan “seberapa jauh kebiasaan itu menempel pada siswa dan guru”. Kepala bidang di dinas lingkungan setempat menegaskan bahwa keberhasilan Adiwiyata tidak diukur dari banyaknya sertifikat, melainkan dari konsistensi perilaku menjaga lingkungan di dalam dan di luar sekolah. Ini pernyataan penting yang seharusnya menjadi standar nasional, bukan sekadar jargon lokal.

Dampak praktisnya sangat nyata bagi peserta didik. Sanitasi yang baik, lingkungan bersih, pengelolaan sampah yang tepat, dan suasana sekolah yang nyaman menjadi fondasi lingkungan belajar yang sehat dan aman. Sekolah peduli lingkungan bukan hanya tampak hijau di poster, tetapi terasa aman di toilet, teduh di halaman, dan tertib di tempat sampah. Di sini, program Adiwiyata menyentuh inti mutu pendidikan: anak yang belajar di ruang bersih dan tertata cenderung lebih fokus dan sehat. Jika pembinaan di 42 sekolah ini konsisten, generasi muda akan tumbuh dengan standar baru tentang apa itu sekolah yang layak: bersih, hijau, dan menghargai lingkungan.

Penghargaan Berjenjang: Dari Madrasah hingga SMA, dari Kabupaten ke Level Lebih Tinggi

Program Adiwiyata mencakup berbagai jenjang pendidikan, dari madrasah hingga SMA, dengan sistem penghargaan berjenjang yang dimulai dari level kabupaten. Di Sidoarjo, pemerintah daerah melalui dinas lingkungan hidup dan kebersihan menggelar penyerahan penghargaan Sekolah Adiwiyata Kabupaten kepada 16 lembaga pendidikan tingkat dasar dan menengah. Salah satunya adalah MTsN 2 Sidoarjo yang lolos setelah penilaian dokumen dan verifikasi lapangan ketat oleh tim penilai. Penghargaan Adiwiyata di sini berfungsi sebagai filter: hanya sekolah yang mampu membuktikan praktik nyata pengelolaan lingkungan yang layak naik kelas. Ini menegaskan bahwa madrasah pun dapat menjadi model sekolah peduli lingkungan, bukan sekadar pengikut.

Kepala madrasah penerima penghargaan menyatakan bahwa predikat Adiwiyata bukan titik akhir, melainkan pemantik semangat untuk terus berinovasi dalam pengelolaan sampah, pemanfaatan lingkungan hidup, dan pembentukan karakter siswa yang peduli, mandiri, dan menghargai lingkungan sejak dini. Pernyataan ini penting karena membalik logika lomba: penghargaan bukan tujuan, tetapi awal komitmen baru. Di sisi lain, kepala daerah menegaskan bahwa persoalan sampah tidak mungkin diselesaikan pemerintah saja dan harus dibudayakan dari lingkungan sekolah. Jika setiap jenjang pendidikan memaknai penghargaan Adiwiyata sebagai mandat untuk berinovasi, bukan piala di lemari, maka sistem penghargaan berjenjang ini akan punya daya ubah sosial yang besar.

Program Adiwiyata Meluas ke 42 Sekolah: Dari Sertifikat ke Budaya

Koordinasi Lintas Dinas: Adiwiyata Harus Menyatu dengan Sekolah Sehat dan Ramah Anak

Ekspansi program Adiwiyata ke 42 sekolah di Sukabumi lahir dari koordinasi lintas instansi: Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama masing-masing mengusulkan 21 sekolah. Ini menunjukkan bahwa pembinaan Adiwiyata tidak bisa lagi berdiri sendiri di bawah satu dinas lingkungan. Pejabat lingkungan setempat bahkan mendorong agar program Adiwiyata terintegrasi dengan program sekolah sehat dan sekolah ramah anak. Ini langkah logis. Indikator ketiga program tersebut saling berkaitan: sanitasi, kebersihan, pengelolaan sampah, hingga kenyamanan ruang belajar. Memisahkan program-program ini hanya akan melahirkan tumpang tindih administrasi dan kelelahan guru mengisi formulir, bukan perubahan perilaku.

Integrasi program juga menjawab kritik klasik bahwa Adiwiyata terlalu administratif. Jika indikator lingkungan disatukan dengan indikator kesehatan dan perlindungan anak, sekolah terdorong melihat lingkungan sebagai ekosistem utuh: toilet bersih sebagai isu kesehatan, halaman hijau sebagai ruang bermain aman, dan pengelolaan sampah sebagai sarana pendidikan karakter. Di Sidoarjo, kepala dinas lingkungan menegaskan bahwa program Adiwiyata dirancang bukan sekadar ajang perlombaan seremonial, melainkan pendorong budaya ramah lingkungan yang berkelanjutan di sekolah. Pernyataan ini sejalan dengan gagasan integrasi: semakin sedikit lomba terpisah, semakin besar peluang membangun satu budaya lingkungan sekolah yang kuat.

Dari Slogan ke Karakter: Apa yang Harus Dilakukan Sekolah Berikutnya?

Ekspansi program Adiwiyata sekolah ke 42 peserta baru dan pemberian penghargaan kepada 16 sekolah di daerah lain menunjukkan satu hal: pemerintah mulai serius menjadikan sekolah sebagai motor perubahan lingkungan. Namun keseriusan di atas kertas tidak otomatis berubah menjadi budaya. Sekolah harus berani menggeser fokus dari dekorasi menuju pembiasaan. Poster hijau tidak ada artinya jika tempat sampah tetap bercampur; taman rindang tidak bermakna jika toilet kotor. Kepala sekolah dan kepala madrasah memegang peran kunci, sebagaimana diingatkan kepala daerah yang menekankan pentingnya inovasi dan pembiasaan menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

Langkah berikutnya jelas. Pertama, jadikan indikator Adiwiyata sebagai bagian dari tata tertib dan budaya harian, bukan hanya dokumen penilaian. Kedua, libatkan siswa sebagai penggerak, bukan penonton, dalam pengelolaan sampah dan perawatan ruang belajar. Ketiga, dorong integrasi nyata dengan program sekolah sehat dan ramah anak, sehingga satu aksi lingkungan mendukung banyak target sekaligus. Jika tiga hal ini dilakukan, penghargaan Adiwiyata akan berubah dari piagam di dinding menjadi karakter di diri siswa. Dan ketika siswa membawa pulang kebiasaan itu, barulah program Adiwiyata layak disebut berhasil membangun budaya lingkungan sekolah yang berkelanjutan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!