Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Program Adiwiyata: Dari Halaman Hijau ke Budaya Sekolah

Program Adiwiyata: Dari Halaman Hijau ke Budaya Sekolah
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Adiwiyata Bukan Sekadar Taman Hijau

Program Adiwiyata sekolah adalah upaya sistematis menjadikan seluruh aktivitas pendidikan—dari kurikulum, tata kelola, hingga kebiasaan harian—berorientasi pada pelestarian lingkungan, sehingga kesadaran ekologis tidak berhenti sebagai teori di kelas, tetapi tumbuh menjadi karakter dan budaya bersama warga sekolah. Di sinilah letak persoalan utama: banyak sekolah mengira Adiwiyata cukup diwujudkan dengan halaman hijau dan slogan di dinding. Padahal, penilaian Adiwiyata sekolah menuntut bukti bahwa perilaku ramah lingkungan telah menyatu dalam keseharian siswa, guru, dan orang tua, bukan dekorasi menjelang lomba. Ketika kepala SD Negeri 23 Mempawah Hilir menegaskan bahwa Adiwiyata bukan sekadar program untuk memenuhi indikator penilaian, ia sedang mengkritik praktik formalitas yang masih kuat di banyak tempat.

Program Adiwiyata: Dari Halaman Hijau ke Budaya Sekolah

Penilaian Komprehensif: Menguji Komitmen Sekolah Ramah Lingkungan

Penilaian Adiwiyata sekolah seharusnya dibaca sebagai uji komitmen, bukan sekadar ajang pamer fasilitas. SD Negeri 23 Mempawah Hilir mengikuti penilaian Adiwiyata tingkat kabupaten sebagai momentum untuk memperlihatkan upaya menanamkan perilaku ramah lingkungan dan mengevaluasi penerapan pendidikan lingkungan hidup dalam aktivitas sehari-hari. Kehadiran tim penilai, camat, dinas pendidikan, dinas lingkungan hidup, komite, lurah, RT, KKKS, tokoh masyarakat, dan guru menunjukkan bahwa sekolah ramah lingkungan adalah proyek sosial bersama, bukan urusan kepala sekolah seorang diri. Di sini tampak pergeseran penting: kesadaran lingkungan sekolah dinilai dari pembiasaan konkret—memilah sampah, merawat tanaman, menghemat air dan energi, menjaga kebersihan kelas dan halaman—bukan dari dokumen rencana yang rapi tetapi tidak hidup dalam perilaku siswa.

Integrasi ke Kurikulum: Proyek Nyata, Bukan Materi Tambahan

Jika Adiwiyata ingin melahirkan pendidikan berkelanjutan siswa, kuncinya ada pada kurikulum yang berani memasukkan lingkungan sebagai pengalaman belajar, bukan sisipan di akhir semester. SMP Negeri 7 Kota Cirebon memberi contoh melalui praktik massal pembuatan eco-enzyme yang melibatkan siswa kelas 7, 8, dan 9. Program ini melatih siswa memanfaatkan limbah organik rumah tangga—sayur dan buah—menjadi produk bernilai guna, sekaligus menghubungkan pelajaran sains, kewirausahaan, dan kepedulian lingkungan dalam satu proyek nyata. Inovasi lain seperti sabun "Resik Pitu" dari eco-enzyme kulit buah, pupuk cair dari limbah sayuran dan air cucian beras, kebun hidroponik melon dan semangka, wirausaha lele, serta peternakan ayam petelur menjadikan konsep sekolah ramah lingkungan terasa konkret di tangan siswa, bukan hanya di laporan kegiatan.

Program Adiwiyata: Dari Halaman Hijau ke Budaya Sekolah

Whole School Approach: Lingkungan, Budaya, dan Karakter Menyatu

Contoh lain datang dari SD 002 Linggang Bigung yang mengadopsi Education for Sustainable Development (ESD) dengan pendekatan Whole School Approach. Di sini pendidikan berkelanjutan siswa tidak hanya bicara soal pohon dan sampah, tetapi juga budaya lokal dan karakter. Kurikulum dan tata kelola sekolah dirancang terintegrasi, memadukan pelestarian lingkungan, kearifan lokal, dan pembentukan karakter. Kebudayaan Dayak Rentenuukng dan Jawa digabung dalam ekosistem pembelajaran untuk menanamkan toleransi, gotong royong, dan kebanggaan terhadap warisan budaya sejak dini. Pemerintah daerah mendorong filosofi "Berakar, Bernalar, Berdampak" sebagai pijakan: siswa tetap berakar pada budaya luhur, berpikir kritis dan kreatif, lalu menghasilkan tindakan nyata yang berdampak positif bagi lingkungan sekitar. Target agar gerakan ini berjalan konsisten dan terukur hingga 2030 menunjukkan bahwa Adiwiyata dan ESD diposisikan sebagai agenda jangka panjang, bukan proyek tahunan.

Kemitraan dan Masa Depan Adiwiyata: Dari CSR ke Tanggung Jawab Kolektif

Satu pelajaran penting dari berbagai sekolah ini: program Adiwiyata sekolah akan rapuh jika berdiri sendiri. SMP Negeri 7 Kota Cirebon menggandeng Pertamina dan universitas sebagai mitra CSR dan pendamping teknis untuk memantau, mengevaluasi, dan merencanakan dukungan lanjutan bagi program lingkungan dan inovasi kreatif mereka. Di Kutai Barat, dinas pendidikan dan kebudayaan menegaskan bahwa keberhasilan model pendidikan berbasis lingkungan dan budaya membutuhkan keterlibatan aktif orang tua dan tokoh masyarakat. SD Negeri 23 Mempawah Hilir pun menekankan bahwa mewujudkan lingkungan sekolah yang bersih, sehat, rindang, dan nyaman memerlukan sinergi seluruh warga sekolah, komite, orang tua, pemerintah kecamatan dan kelurahan, serta masyarakat sekitar. Ke depan, program Adiwiyata diharapkan semakin terintegrasi dalam kegiatan belajar mengajar maupun kehidupan sehari-hari di sekolah. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah sekolah punya taman hijau, tetapi apakah seluruh ekosistem sekolah siap menjadikan kepedulian lingkungan sebagai budaya bersama.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!