Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Program Adiwiyata: Membangun Budaya Sekolah Peduli Lingkungan

Program Adiwiyata: Membangun Budaya Sekolah Peduli Lingkungan
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Adiwiyata: Dari Sertifikasi ke Budaya Sekolah

Program Adiwiyata sekolah adalah skema sertifikasi lingkungan sekolah yang mendorong pendidikan lingkungan berkelanjutan dengan mengintegrasikan pengetahuan, kebijakan, dan kebiasaan ramah lingkungan ke dalam seluruh aktivitas, tata kelola, dan budaya warga sekolah sehari-hari. Membangun sekolah yang peduli lingkungan tidak cukup hanya dengan menghadirkan halaman hijau dan ruang kelas yang bersih. Adiwiyata menuntut perubahan cara berpikir: dari proyek fisik ke pembentukan karakter. Kepala SD Negeri 23 Mempawah Hilir menegaskan bahwa Adiwiyata bukan sekadar program untuk memenuhi indikator penilaian. Pernyataan ini penting: selama sekolah mengejar sertifikasi lingkungan sekolah sebagai piagam di dinding, bukan sebagai perubahan perilaku, program akan mandek. Adiwiyata baru bermakna ketika menjadi budaya yang tumbuh dan berkembang di lingkungan sekolah, lalu terbawa ke rumah dan masyarakat.

Program Adiwiyata: Membangun Budaya Sekolah Peduli Lingkungan

Mempawah: Penilaian sebagai Uji Komitmen, Bukan Seremoni

Penilaian Adiwiyata di SDN 23 Mempawah Hilir pada Selasa (13/10/2026) adalah contoh bagaimana sertifikasi lingkungan sekolah seharusnya dibaca sebagai uji komitmen, bukan seremoni belaka. Penilaian ini dihadiri tim penilai kabupaten, unsur kecamatan, bidang pendidikan, bidang lingkungan hidup, komite sekolah, hingga tokoh masyarakat. Komposisi ini menunjukkan bahwa sekolah ramah lingkungan adalah proyek sosial bersama, bukan urusan kepala sekolah semata. Di lapangan, pembiasaan yang dibangun mencakup menjaga kebersihan kelas dan halaman, memilah serta membuang sampah pada tempatnya, merawat tanaman, menghemat penggunaan air dan energi, hingga melibatkan peserta didik dalam kegiatan pelestarian lingkungan. Jika kebiasaan ini konsisten, penilaian menjadi cermin jujur sejauh mana pendidikan lingkungan berkelanjutan sudah hidup dalam rutinitas, bukan sekadar tertulis di dokumen.

Pati: Mengurangi Plastik dan Menata Kebiasaan Harian

SMPN 6 Pati menunjukkan bahwa program Adiwiyata sekolah bisa dimulai dari dapur dan botol minum. Sekolah ini memperkuat komitmen mewujudkan lingkungan sekolah yang bersih, sehat, dan berwawasan lingkungan melalui pembiasaan membawa alat makan dan tumbler pribadi, sosialisasi pemilahan sampah, serta kerja bakti rutin yang melibatkan seluruh warga sekolah. Melalui program ini, seluruh guru dan siswa diajak untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, khususnya dari kemasan makanan dan minuman. Ini bukan kebijakan besar, tetapi menyentuh perilaku paling sehari-hari. Kesadaran untuk menjaga lingkungan ditanamkan melalui pemilahan sampah dan kegiatan Jum’at bersih yang dilakukan sebelum KBM dimulai, menumbuhkan disiplin, gotong royong, dan tanggung jawab. Berbagai program tersebut menjadi bagian dari komitmen SMPN 6 Pati dalam membangun budaya sekolah yang berwawasan lingkungan.

Program Adiwiyata: Membangun Budaya Sekolah Peduli Lingkungan

Sukabumi: Pembinaan Terstruktur dan Integrasi Program

Di Sukabumi, pendekatan Adiwiyata bergerak melalui pembinaan terstruktur. Dinas Lingkungan Hidup mengusulkan 42 sekolah mengikuti pembinaan program Adiwiyata tahun ini, masing-masing 21 sekolah dari dua instansi berbeda. Angka ini menunjukkan skala ambisius: perubahan budaya lingkungan tidak bisa mengandalkan satu dua sekolah teladan. Pembinaan menekankan kebiasaan sehari-hari, mulai dari memilah sampah, menghemat penggunaan air dan listrik, menjaga sanitasi, hingga merawat tanaman, sebagai bagian penting membangun budaya ramah lingkungan di pendidikan. "Ke depan, DLH Kabupaten Sukabumi juga mendorong agar program Adiwiyata terintegrasi dengan berbagai program sekolah lainnya, terutama sekolah sehat dan sekolah ramah anak". Integrasi ini logis: sanitasi baik, pengelolaan sampah, dan suasana nyaman adalah fondasi bersama bagi sekolah sehat, ramah anak, dan sekolah ramah lingkungan.

Dari Penilaian ke Kebiasaan: Arah Baru Sekolah Ramah Lingkungan

Tiga contoh di Mempawah, Pati, dan Sukabumi menunjukkan pola yang sama: program Adiwiyata sekolah yang efektif selalu menyasar kebiasaan, bukan dekorasi. Penilaian menjadi momentum bagi sekolah untuk memperlihatkan berbagai upaya menanamkan perilaku ramah lingkungan sekaligus mengevaluasi sejauh mana pendidikan lingkungan hidup diterapkan dalam aktivitas sehari-hari. Di sisi lain, pembinaan Adiwiyata diharapkan mendorong sekolah menjadikan kepedulian lingkungan sebagai budaya sehari-hari, bukan sekadar memenuhi persyaratan administrasi atau mengejar penghargaan. Ke depan, program Adiwiyata diharapkan semakin terintegrasi dalam kegiatan belajar mengajar maupun kehidupan sehari-hari di sekolah. Pendidikan lingkungan berkelanjutan hanya akan bertahan jika tertanam dalam rutinitas: alat makan pribadi, pemilahan sampah, hemat energi, dan kerja bakti yang konsisten. Sertifikat boleh kedaluwarsa; budaya tidak.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!