Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Model Bisnis hingga Kredit, UMKM Didorong Naik Kelas

Dari Model Bisnis hingga Kredit, UMKM Didorong Naik Kelas
Minat|Asia Tenggara

Dua jalur untuk memperkuat UMKM

Dukungan UMKM adalah rangkaian upaya yang membantu usaha kecil merencanakan bisnis, meningkatkan mutu produk, menjangkau pelanggan, dan memperoleh modal agar dapat tumbuh secara berkelanjutan. Perbandingan Ogan Ilir dan Bontang memperlihatkan bahwa kebutuhan itu tak cukup dijawab dengan satu jenis program: pengusaha perlu dibekali kemampuan mengelola usaha, sekaligus mendapat jalan nyata menuju pasar dan pembiayaan. Di Ogan Ilir, Rumah BUMN berfokus pada pembenahan kemampuan usaha dari dalam. Di Bontang, pemerintah kota menggabungkan pembinaan dengan pembenahan regulasi, perluasan akses pasar UMKM, kemitraan, dan dukungan kredit. Perbedaan ini bukan soal memilih pendekatan yang lebih baik. Keduanya menargetkan hambatan berbeda, dan akan lebih berdampak bila pelatihan bisnis dapat berlanjut ke peluang menjual produk serta memperoleh modal.

Ogan Ilir: belajar merancang usaha sambil berkreasi

Pelatihan UMKM Ogan Ilir berlangsung pada Selasa, 27 Oktober 2026, di Rumah BUMN Ogan Ilir, kompleks Perumahan Serai, Kelurahan Indralaya Indah, dan diikuti 20 UMKM binaan. Peserta belajar menyusun Business Model Canvas (BMC) sekaligus mempraktikkan pembuatan bolu pisang—kombinasi yang lebih berguna daripada teori bisnis tanpa penerapan produk. Dalam materi yang dibawakan M. Arifin, pemilik Konveksi Pelajar, BMC membantu peserta mengenali segmen pelanggan, keunggulan produk, strategi pemasaran, sumber pendapatan, dan biaya. Bekal ini dapat membuat keputusan usaha lebih terarah, dari menentukan siapa calon pembeli hingga menilai cara produk menawarkan nilai. Praktik bolu pisang menambahkan ruang untuk mengolah keterampilan dan gagasan produk. Namun, perencanaan dan inovasi hanya menjadi awal: agar usaha benar-benar naik kelas, pelaku tetap membutuhkan pembeli dan sumber modal.

Bontang: membuka pintu pasar dan pembiayaan

Bontang tercatat memiliki 21.670 UMKM berdasarkan data RPJMD 2025–2029. Skala tersebut membuat pembinaan perlu melampaui pelatihan perorangan. Pemkot Bontang mendorong pembenahan regulasi, bimbingan teknis pemasaran digital, peningkatan kualitas kemasan, serta kemitraan antara perusahaan besar dan UMKM lokal untuk membantu produk masuk ke pasar dan rantai pasok. Di sisi modal, pemerintah daerah mendorong kerja sama kredit 0 persen dengan Bank Kaltimtara. Akses kredit UMKM Bontang dapat membuka kesempatan bagi usaha yang membutuhkan tambahan modal, tetapi jangkauannya juga bergantung pada dukungan bank serta kesiapan pelaku memenuhi persyaratan administrasi dan dokumen. Artinya, kebijakan pembiayaan perlu disertai pendampingan yang membuat proses pengajuan dapat dipahami dan dijalankan. Forum Konsultasi Publik DKUMPP pada Kamis, 29 Oktober 2026, turut menjadi ruang untuk mengevaluasi layanan dan menjaring masukan pelaku usaha.

Pelatihan perlu tersambung dengan peluang nyata

Ogan Ilir menempatkan kemampuan merancang usaha dan berinovasi sebagai titik mula. Bontang lebih menonjolkan dukungan yang menghubungkan usaha dengan pasar dan modal, sembari tetap mendorong peningkatan kapasitas serta pemanfaatan teknologi digital. Keduanya saling melengkapi: produk yang dirancang dengan baik perlu saluran penjualan, sedangkan pembiayaan akan lebih bermanfaat ketika usaha memiliki rencana dan pasar yang jelas. Bontang juga menghadapi tantangan nyata: pelaku usaha masih perlu memperluas pasar dan memanfaatkan teknologi digital untuk mengembangkan bisnis. Karena itu, keberhasilan program sebaiknya dinilai dari manfaat bagi pengusaha—apakah kemasan dan pemasaran membaik, kemitraan membuka peluang penjualan, dan pembiayaan menjangkau pihak yang membutuhkan. Dialog publik dapat membantu layanan tetap sesuai kebutuhan, tetapi tindak lanjutnya yang menentukan hasil. Ukuran “naik kelas” bukan banyaknya kegiatan, melainkan kemampuan UMKM mengubah keterampilan, akses, dan modal menjadi usaha yang lebih berdaya saing.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!