Naik kelas perlu strategi dan dukungan
UMKM naik kelas adalah proses ketika usaha kecil memperkuat produk, pengelolaan, pemasaran, dan daya saing agar mampu berkembang serta menjangkau pasar yang lebih luas. Dua pendekatan di Ogan Ilir dan Pontianak menunjukkan bahwa proses itu membutuhkan bekal praktis sekaligus dukungan yang melampaui ruang pelatihan.
Di Ogan Ilir, Rumah BUMN melatih 20 UMKM pada Selasa, 27 Oktober 2026, melalui perencanaan bisnis dan praktik membuat bolu pisang. Sehari sebelumnya, Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan mendorong pengusaha UMKM untuk berkembang dalam Bursa Wirausaha Unggulan 2026 di Auditorium Universitas Tanjungpura. Perbedaan fokusnya menarik: satu kegiatan membantu peserta menata usaha dari dalam, sementara yang lain menegaskan perlunya dukungan agar usaha dapat tumbuh dalam lingkungan yang lebih luas. Keduanya penting, tetapi pelatihan akan lebih berdampak jika terhubung dengan pasar, pembiayaan, dan pendampingan yang berkelanjutan.
Ogan Ilir: merancang usaha sambil berlatih produk
Pelatihan UMKM di Rumah BUMN Ogan Ilir memadukan perencanaan dengan praktik, pilihan yang lebih berguna daripada teori bisnis yang berhenti di ruang kelas. Peserta mempelajari Business Model Canvas (BMC), metode untuk memetakan segmen pelanggan, keunggulan produk, pemasaran, sumber pendapatan, dan pengelolaan biaya. Materi itu dibawakan M. Arifin, pemilik Konveksi Pelajar, dalam sesi tentang inovasi produk dan penyusunan model bisnis.
Setelah membahas strategi, peserta juga praktik membuat bolu pisang. Kombinasi ini memberi ruang untuk menghubungkan gagasan dengan keterampilan mengolah bahan pangan menjadi produk bernilai ekonomi. Namun, manfaat BMC bukan sekadar menghasilkan kanvas yang terisi: nilainya bergantung pada keputusan yang dibuat setelah peserta mengenali pelanggan, menghitung biaya, dan menyusun cara memasarkan produk. Karena itu, latihan semacam ini paling kuat ketika menjadi awal pendampingan, bukan kegiatan sekali selesai.
Pontianak: membangun ekosistem, bukan hanya semangat
Bursa Wirausaha Unggulan 2026 di Pontianak membawa perhatian dari keterampilan usaha ke lingkungan yang mendukung pertumbuhan. Bahasan menilai UMKM kian nyata perannya dalam menggerakkan ekonomi daerah dan menyatakan banyak usaha mulai naik kelas. Ia juga menyebut perubahan istilah dari “pelaku usaha UMKM” menjadi “pengusaha UMKM” sebagai dorongan bagi rasa percaya diri. Pengakuan penting, tetapi identitas baru perlu diikuti peningkatan mutu produk, manajemen, pemasaran, dan daya saing.
Bahasan menyebut adanya penandatanganan komitmen bersama dari 14 kabupaten dan kota untuk mendukung UMKM. Itu memberi sinyal bahwa penguatan ekosistem UMKM tak bisa dibebankan kepada pengusaha seorang diri. Pemerintah daerah perlu bekerja bersama dunia usaha, perbankan, dan pemangku kepentingan lain agar keterampilan dari pelatihan mendapat jalur menuju pasar dan dukungan usaha. Tanpa hubungan itu, ajakan naik kelas berisiko menjadi slogan yang lebih cepat berkembang daripada kemampuan bisnisnya.

Dua pendekatan harus saling menguatkan
Ogan Ilir menunjukkan pentingnya bekal konkret: memahami pelanggan, menyusun strategi, dan mencoba membuat produk. Pontianak mengingatkan bahwa kemajuan individu juga bergantung pada jaringan dukungan yang lebih luas. Perbandingan ini bukan soal memilih pelatihan atau kolaborasi; UMKM membutuhkan keduanya. Perencanaan membantu pengusaha mengambil keputusan dengan lebih terarah, sedangkan ekosistem yang sehat memberi peluang agar keputusan itu berbuah pertumbuhan.
Kesimpulannya, upaya UMKM naik kelas akan lebih meyakinkan ketika pelatihan bisnis terhubung dengan dukungan pemerintah daerah, dunia usaha, perbankan, dan pemangku kepentingan lainnya. Business Model Canvas dapat menjadi peta awal, tetapi kolaborasi menentukan apakah peta itu mengarah pada peluang nyata. Ukuran keberhasilan semestinya bukan semata jumlah peserta atau ramainya ajakan, melainkan kemampuan usaha memperbaiki produk, pengelolaan, pemasaran, dan daya saing.






