Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Saling Menghargai hingga Berani Bersuara, Dua Upaya Cegah Kekerasan di Sekolah

Dari Saling Menghargai hingga Berani Bersuara, Dua Upaya Cegah Kekerasan di Sekolah
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Kesadaran dan keberanian adalah benteng pertama

Pencegahan kekerasan di sekolah adalah upaya mengenali perilaku yang melukai, menumbuhkan sikap saling menghormati, dan memastikan siswa tahu cara mencari pertolongan. Tanpa kesadaran dan keberanian untuk bertindak, candaan yang menyakiti atau ancaman dapat dianggap biasa dan dibiarkan berulang. Dua kegiatan pendidikan di tingkat SD dan SMA menyoroti sisi berbeda dari persoalan yang sama: anak perlu belajar menghargai teman, sementara remaja juga perlu tahu bahwa mereka berhak menolak dan melaporkan kekerasan. Keduanya bukan pengganti tanggung jawab sekolah maupun orang dewasa, tetapi menjadi pijakan agar siswa tidak menjadi penonton pasif. Membangun lingkungan sekolah aman berarti membuat batas perilaku jelas, mendengar pengalaman siswa, dan menyediakan jalur bantuan yang dapat mereka percaya.

Pendekatan ini lebih kuat daripada sekadar imbauan umum untuk bersikap baik. Anak-anak membutuhkan bahasa untuk mengenali perundungan; remaja membutuhkan keyakinan bahwa melapor bukan tindakan berlebihan. Anti-bullying sekolah seharusnya menggabungkan keduanya.

Di SD, belajar bahwa candaan bisa melukai

Pada 17 Oktober 2026, mahasiswa GIAT 17 UNNES mengadakan sosialisasi anti-bullying di SDN Gunung Tumpeng 01, Kecamatan Suruh. Sasarannya siswa kelas IV, V, dan VI, yang dipilih karena interaksi sosial serta hubungan pertemanan mereka semakin berkembang dan perlu dibarengi pemahaman tentang perundungan. Materinya membahas ejekan, hinaan, pengucilan, dan tindakan fisik yang menyakiti. Pesan pentingnya sederhana tetapi kerap luput: sesuatu yang dianggap bercanda oleh pelaku tetap dapat melukai orang lain.

Agar materi lebih mudah dipahami, mahasiswa menggunakan kipas edukatif berisi pesan pencegahan, penghargaan terhadap perbedaan, dan ajakan mencari bantuan. Siswa juga didorong untuk tidak ikut menertawakan teman yang dirundung, melainkan memberi dukungan serta melapor kepada guru atau orang dewasa tepercaya. Pilihan ini tepat untuk usia sekolah dasar: pencegahan kekerasan dimulai dari kebiasaan sehari-hari, bukan hanya dari hukuman setelah kejadian. Harapannya, empati dan hubungan pertemanan yang positif tumbuh sejak dini.

Di SMA, berani menolak dan melaporkan

Pada Jumat, 23 Oktober 2026, Pengadilan Negeri Tilamuta mengajak pelajar SMA Negeri 1 Tilamuta mengenali, menolak, dan melaporkan kekerasan melalui program LEDAKKAN SUARA. Jika edukasi untuk anak SD menekankan cara memperlakukan teman, ajakan bagi siswa SMA memperluas perhatian pada hak, batas pribadi, dan tindakan saat menghadapi ancaman. Kekerasan tidak terbatas pada serangan fisik: perundungan berkedok candaan, tekanan emosional dalam pertemanan atau pacaran, serta ancaman di media sosial juga perlu dikenali.

Program tersebut mengusung lima semangat: berani melihat, mendengar, berkata tidak, melapor, dan melindungi. Pelajar yang mengalami ancaman, pemerasan, atau kekerasan dianjurkan mencari bantuan kepada orang tua, guru, konselor sekolah, atau layanan perlindungan tepercaya. Pesan agar siswa berani bersuara perlu disertai jalur pelaporan yang aman dan respons yang tidak menyalahkan korban. Keberanian individu penting, tetapi tidak adil bila seluruh beban perlindungan diletakkan pada siswa.

Edukasi harus berlanjut di luar acara

Kedua kegiatan menunjukkan bahwa usia menentukan cara penyampaian, bukan pentingnya perlindungan. Siswa SD perlu mengenali dampak kata-kata dan belajar mendukung teman. Pelajar SMA perlu memahami hak untuk menolak, menjaga privasi digital, dan mencari pertolongan. Namun, satu kali sosialisasi tidak cukup untuk membentuk lingkungan sekolah aman. Guru, keluarga, dan pihak perlindungan harus membuat pesan tersebut hadir dalam keseharian serta memastikan siswa tahu kepada siapa mereka dapat bercerita.

GIAT 17 UNNES berharap siswa SDN Gunung Tumpeng 01 semakin memahami pencegahan perundungan dan membangun pertemanan positif. Sementara itu, Ketua PN Tilamuta berharap materi LEDAKKAN SUARA terus disisipkan guru dalam pembelajaran, pembinaan karakter, dan edukasi lain, serta berkembang menjadi gerakan kepedulian di Kabupaten Boalemo. Arah tindak lanjut ini patut didukung: edukasi hanya berarti jika berubah menjadi kebiasaan, respons yang berpihak pada keselamatan, dan pelaporan yang ditangani dengan serius. Saling menghargai membangun pencegahan dari bawah; keberanian melapor membantu menghentikan kekerasan ketika pencegahan gagal. Sekolah membutuhkan keduanya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!