Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kota-Kota Adopsi Data Geospasial untuk Perencanaan Pembangunan yang Lebih Akurat

Kota-Kota Adopsi Data Geospasial untuk Perencanaan Pembangunan yang Lebih Akurat
Minat|Asia Tenggara

Data Geospasial: Fondasi Baru Kebijakan Pembangunan Daerah

Data geospasial pembangunan adalah kumpulan data yang memuat informasi lokasi, sebaran, dan karakteristik suatu objek atau fenomena di permukaan bumi, yang dipakai pemerintah untuk merencanakan, melaksanakan, serta mengevaluasi program pembangunan agar lebih tepat sasaran dan efisien di setiap wilayah. Pendekatan ini menggeser perencanaan berbasis asumsi menjadi perencanaan berbasis data. Kota Payakumbuh dan Sorong menunjukkan bahwa peta bukan sekadar gambar, melainkan alat politik kebijakan publik. Payakumbuh memperkuat pemanfaatan data dan informasi geospasial sebagai dasar perencanaan pembangunan, agar kebijakan, penetapan prioritas program, dan pengalokasian anggaran selaras dengan kondisi serta kebutuhan masyarakat di tiap wilayah. Ini bukan pilihan kosmetik; ini keputusan strategis yang menentukan siapa yang menikmati pembangunan dan siapa yang tertinggal.

Payakumbuh: Menyusun Prioritas dan Anggaran dari Peta

Keputusan Pemerintah Kota Payakumbuh untuk menjadikan data geospasial sebagai salah satu dasar perencanaan pembangunan daerah adalah langkah berani memutus perencanaan yang spekulatif. Wali Kota Payakumbuh melalui Asisten III, Ifon Satria, menegaskan bahwa kualitas pembangunan sangat ditentukan oleh kualitas data yang digunakan pemerintah dalam mengambil keputusan. Pernyataan ini bukan slogan; data geospasial membantu pemerintah melihat bukan hanya angka, tetapi juga lokasi dan sebaran persoalan maupun potensi wilayah.

Dengan informasi berbasis lokasi tersebut, intervensi pembangunan dapat diarahkan secara lebih presisi: dari penentuan tata ruang hingga pelayanan publik. Data geospasial mendukung penyusunan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy), memastikan program yang dirancang benar-benar dibutuhkan masyarakat dan menjadi dasar alokasi anggaran berbasis data sesuai kondisi faktual di lapangan. Ketika Payakumbuh memperkuat pendataan berbasis geospasial dan simpul jaringan antarlembaga, kota ini sedang membangun infrastruktur pengetahuan yang menentukan arah kebijakan pembangunan daerah ke depan.

Sorong dan Forum Satu Data: Mengakhiri Ego Sektoral Data

Jika Payakumbuh menata fondasi data geospasial, Kota Sorong membangun tata kelola perencanaan berbasis data melalui Forum Satu Data Indonesia tingkat kota. Kepala Bappeda Sorong, Saul Erens Solossa, menyebut forum ini sebagai wadah komunikasi dan koordinasi antara pembina data, walidata, koordinator forum, serta produsen data untuk memperkuat tata kelola data pemerintah daerah. Kalimat kunci dalam kebijakan ini sederhana: perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembangunan daerah harus bertumpu pada data yang akurat, mutakhir, terpadu, dapat dipertanggungjawabkan, mudah diakses, dan dapat dibagipakaikan.

Plt. Sekda Sorong, Ruddy R. Lakku, mempertegas risiko perencanaan tanpa data: "Jangan sekali-kali membuat perencanaan atau kegiatan tanpa data yang benar. Karena kalau datanya tidak benar, programnya pasti salah". Forum Satu Data Indonesia di Sorong menjadi arena untuk meruntuhkan ego sektoral dalam pengelolaan data sekaligus memperkuat sinergi dengan BPS sebagai pembina data yang mendorong penerapan prinsip Satu Data Indonesia di seluruh OPD. Inilah jantung alokasi anggaran berbasis data: data tidak lagi terkunci di masing-masing dinas, tetapi menjadi referensi bersama dalam menetapkan prioritas pembangunan.

Dampak Nyata: Dari Tata Ruang hingga Keuangan Daerah

Pendekatan perencanaan berbasis data yang menggabungkan data geospasial dan Satu Data Indonesia memiliki konsekuensi praktis yang langsung menyentuh warga. Di Payakumbuh, data geospasial diterapkan dalam perencanaan tata ruang, membantu pemerintah menentukan pemanfaatan lahan berdasarkan karakteristik wilayah agar pembangunan lebih terarah dan berkelanjutan. Data ini juga dipakai untuk memetakan kawasan rawan bencana, mengidentifikasi wilayah terdampak, merancang infrastruktur yang lebih tangguh, serta menentukan jalur dan titik evakuasi.

Pada dimensi keuangan, data geospasial membuka peluang pengelolaan keuangan daerah yang lebih cermat: pendataan objek pajak, aset daerah, dan potensi ekonomi berdasarkan lokasi dapat membantu pemerintah mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah. Dalam pelayanan publik, informasi berbasis lokasi memberi gambaran lebih jelas mengenai kebutuhan jaringan jalan, air, listrik, dan fasilitas dasar lain dengan mempertimbangkan sebaran penduduk. Singkatnya, setiap titik di peta menjadi argumen kuat untuk kebijakan pembangunan daerah yang lebih responsif, bukan lagi sekadar produk kompromi politik.

Tantangan dan Arah ke Depan: Data Bukan Arsip, tapi Instrumen

Baik Payakumbuh maupun Sorong menunjukkan bahwa data geospasial pembangunan dan Satu Data Indonesia bukan proyek teknis, melainkan agenda politik tentang siapa yang mengendalikan informasi. Payakumbuh melalui Bappeda terus memperkuat pendataan berbasis geospasial dan membangun sistem pengelolaan data pembangunan yang lebih terintegrasi, akurat, serta mudah dimanfaatkan oleh seluruh perangkat daerah. Namun, ini membutuhkan aparatur yang mampu mengumpulkan, mengelola, memperbarui, mengintegrasikan, dan memanfaatkan data geospasial, agar data tidak berhenti sebagai arsip, tetapi menjadi instrumen perencanaan dan pengambilan keputusan.

Di Sorong, tantangan serupa muncul dalam bentuk peningkatan kapasitas admin dan operator data di setiap perangkat daerah serta penghilangan ego sektoral pengelolaan data. Satu Data Indonesia hanya bermakna jika tiap OPD menyerahkan sebagian kontrol atas datanya demi standar bersama. Kesimpulannya, kota-kota yang lambat membangun perencanaan berbasis data berisiko menetapkan prioritas program dan alokasi anggaran secara buta. Sebaliknya, kota yang serius mengintegrasikan data geospasial dan Satu Data bergerak menuju kebijakan pembangunan daerah yang lebih akurat, transparan, dan responsif terhadap kebutuhan lokal.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!