Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Bagaimana Program Bank Membangun Kebiasaan Menabung Sejak Siswa Sekolah Dasar

Bagaimana Program Bank Membangun Kebiasaan Menabung Sejak Siswa Sekolah Dasar
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Menabung Lewat Rekening: Lompatan Besar dari Celengan ke Sistem Perbankan

Program menabung sekolah adalah inisiatif terstruktur yang memperkenalkan layanan perbankan, seperti rekening bank anak, kepada siswa sejak jenjang sekolah dasar dan menengah, dengan tujuan membentuk literasi keuangan siswa, kebiasaan menabung sejak dini, serta pemahaman praktis mengenai cara merencanakan kebutuhan finansial mereka secara bertahap melalui pengalaman langsung, bukan sekadar teori abstrak di kelas. Melihat perkembangan terbaru, program BNI Sahabat Sekolah Rakyat menjadi contoh jelas bagaimana institusi perbankan dapat masuk ke ruang belajar sebagai mitra pendidikan, bukan sekadar penyedia produk. Di sini, siswa tidak lagi memaknai menabung sebatas memasukkan uang receh ke celengan, tetapi mulai melihat uang sebagai sesuatu yang tercatat, terlacak, dan bisa direncanakan. Pergeseran ini penting: ia menggeser budaya menabung dari kebiasaan instingtif ke perilaku finansial yang sadar tujuan.

BNI Sahabat Sekolah Rakyat: Celengan Berubah Menjadi Buku Rekening

Kisah Selfi Nawawi N, siswi kelas 2 SRT 3 Sulawesi Selatan, menunjukkan dampak konkret ketika program menabung sekolah menyentuh kehidupan siswa. Sebelum mengikuti kegiatan BNI Sahabat Sekolah Rakyat, menabung baginya identik dengan celengan di rumah. Setelah mencoba langsung layanan perbankan, ia baru menyadari bahwa dirinya dapat memiliki tabungan melalui rekening meskipun belum bekerja. Kalimat Selfi, “Ternyata kita bisa menabung menggunakan buku rekening meskipun belum kerja. Saya ingin mempunyai tabungan yang banyak untuk dipakai kuliah nantinya,” menjadi kutipan penting yang menggambarkan pergeseran cara pandang generasi muda terhadap tabungan. Program ini tidak hanya memfasilitasi rekening bank anak, tetapi juga menyuntikkan gagasan bahwa menabung adalah strategi jangka panjang, bukan sekadar kebiasaan menyimpan sisa uang jajan tanpa tujuan. Di sinilah literasi keuangan siswa mulai memiliki wajah personal: tabungan sebagai tiket menuju masa depan pendidikan, bukan hanya angka di buku.

Belajar Melalui Praktik: Saat Teori Keuangan Turun ke Kehidupan Sehari-Hari

Program BNI Sahabat Sekolah Rakyat sengaja dirancang berbasis praktik, bukan ceramah satu arah. Siswa diajak melihat ID card yang bisa dipindai, mencoba fitur tabungan, dan memegang buku rekening sendiri. Guru Biologi Tiyah Wasma Terru mencatat bagaimana para siswa “sangat antusias melihat dan mencoba ID card yang bisa di-scan” dan banyak bertanya soal tabungan serta buku rekening. Antusiasme itu bukan sekadar euforia teknologi; ia menunjukkan bahwa ketika literasi keuangan siswa disajikan dalam bentuk pengalaman, konsep abstrak seperti saldo dan pencatatan transaksi menjadi nyata. Siswa mulai memahami bahwa menabung bukan hanya dilakukan melalui celengan; mereka dapat melihat bagaimana dana tercatat di rekening dan bagaimana kebiasaan tersebut dapat membantu mereka merencanakan kebutuhan di masa depan. Pendekatan berbasis praktik ini menjadikan kebiasaan menabung sejak dini sebagai perilaku yang masuk akal, bukannya kewajiban yang terasa dipaksakan.

Empat Pilar: Menabung Bukan Aktivitas Terpisah dari Pendidikan Holistik

Yang kerap terlewat dalam diskusi literasi keuangan siswa adalah konteks pendidikan holistik. Program BNI Sahabat Sekolah Rakyat tidak berdiri di ruang kosong; ia beroperasi melalui empat pilar: Cerdas Belajar, Cerdas Menabung, Cerdas Sekolah, dan Peduli Bersama. Artinya, kebiasaan menabung sejak dini diposisikan sejajar dengan kemampuan akademik dan kepedulian lingkungan. Dalam hal keuangan, siswa belajar bahwa menabung lewat rekening bank anak bukan tindakan individual yang terputus dari nilai lain, melainkan bagian dari cara mereka menata hidup, memikirkan masa depan, dan bertanggung jawab atas keputusan kecil hari ini. Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo menegaskan bahwa program ini dirancang untuk memberikan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan siswa sekaligus memperluas pengalaman belajar mereka di lingkungan sekolah. Di sini, bank berperan sebagai mitra yang menghubungkan pengetahuan keuangan dengan praktik keseharian, bukan sekadar pihak yang mempromosikan produk.

Dampak Jangka Panjang: Rekening Pertama Sebagai Pintu Menuju Kemandirian Finansial

Pertanyaan utamanya: apa dampak nyata pengenalan rekening bank anak bagi masa depan generasi muda? Melalui BNI Sahabat Sekolah Rakyat, literasi keuangan diperkenalkan bukan hanya sebagai pengetahuan, tetapi juga sebagai pengalaman yang bisa diterapkan siswa dalam kehidupan sehari-hari. Pengenalan rekening dan kebiasaan menabung diharapkan membantu siswa memahami pentingnya mempersiapkan kebutuhan masa depan secara bertahap, termasuk untuk pendidikan dan kebutuhan lain yang belum mereka bayangkan sekarang. Menurut Okki Rushartomo, pembelajaran melalui praktik langsung membantu siswa membangun kebiasaan sejak dini, mulai dari menabung hingga menjaga lingkungan. Rekening pertama yang mereka pegang hari ini adalah pintu menuju pemahaman lebih luas tentang sistem perbankan dan pengelolaan keuangan pribadi. Jika sekolah dan bank konsisten menjaga arah program menabung sekolah pada kepentingan siswa, bukan sekadar perluasan pasar, maka inisiatif seperti ini layak dipandang sebagai bagian penting dari desain pendidikan modern yang menyiapkan anak bukan hanya lulus ujian, tetapi juga siap mengatur hidupnya sendiri.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!