Program Menabung Sejak Dini: Kampus Turun ke Sekolah Dasar

Program Menabung Sejak Dini: Kampus Turun ke Sekolah Dasar
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Literasi keuangan anak: bukan pelajaran tambahan, tapi kebutuhan pokok

Literasi keuangan anak adalah upaya terencana untuk mengenalkan cara mengelola uang, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menanamkan kebiasaan menabung sejak dini melalui pengalaman langsung yang menyenangkan dan mudah dipahami di lingkungan sekolah maupun keluarga. Di tengah godaan konsumsi dan budaya serba instan, menunda edukasi finansial siswa SD berarti membiarkan generasi baru tumbuh tanpa kompas keuangan yang jelas. Karena itu, program menabung sekolah tidak boleh dianggap sekadar kegiatan seremonial isi celengan, melainkan strategi karakter: melatih disiplin, tanggung jawab, dan kemampuan mengambil keputusan. Di sinilah peran universitas menjadi penentu arah, bukan hanya penyedia materi. Ketika kampus turun ke ruang kelas SD, seperti yang dilakukan berbagai tim Kuliah Kerja Nyata, literasi tidak berhenti di kampus, tetapi menyentuh kehidupan anak sehari-hari.

‘Kuy Menabung’ UIN Walisongo: celengan kaleng yang mengajarkan logika uang

Program literasi keuangan bertajuk “Kuy Menabung” yang digelar mahasiswa KKN Posko 17 Karya Panjati UIN Walisongo di SDN 1 Jatirunggo adalah contoh konkret bagaimana kampus bisa menghidupkan literasi keuangan anak di ruang kelas. Kegiatan ini diikuti 30 siswa kelas III sebagai upaya menanamkan kebiasaan menabung dan mengenalkan pengelolaan keuangan sejak usia dini. Alih-alih ceramah kering, mereka hadir dengan materi interaktif, permainan edukatif, kuis, hingga praktik membuat celengan dari kaleng bekas. Di sini, konsep abstrak seperti manfaat menyisihkan uang saku dan perbedaan kebutuhan dan keinginan menjadi sangat nyata karena langsung dikaitkan dengan uang jajan sehari-hari. Celengan yang dibuat dan dihias sendiri bukan sekadar karya seni; itu adalah simbol komitmen kecil anak untuk mulai menabung. Cara ini menunjukkan bahwa edukasi finansial siswa SD akan lebih kuat bila disentuh lewat tangan dan emosi, bukan hanya buku teks.

Program Menabung Sejak Dini: Kampus Turun ke Sekolah Dasar

‘Celeng Emas’ Unhas: latihan memilih antara mau dan perlu

Di SDN 69 Sikapaya, mahasiswa KKN Universitas Hasanuddin menghadirkan program Celeng Emas (Ceria Menabung, Generasi Emas) untuk siswa kelas VI sebagai upaya meningkatkan literasi keuangan sejak usia dini. Program ini menegaskan bahwa kebiasaan menabung sejak dini harus dibarengi kemampuan mengelola uang dengan bijak. Melalui sosialisasi interaktif, siswa diajak memahami pentingnya menabung sebagai bekal masa depan dan mengenali konsep dasar pengelolaan keuangan, terutama perbedaan antara kebutuhan dan keinginan dalam penggunaan uang sehari-hari. Penguatan materi dilakukan lewat lembar aktivitas bergambar, di mana anak diminta mengelompokkan ilustrasi menjadi kebutuhan atau keinginan, lalu mewarnainya. Metode ini mengubah topik yang sering dianggap “serius” menjadi permainan yang menyenangkan, tetapi tetap tajam secara konsep. Olivia Ichwan menekankan bahwa kebiasaan menabung dan kemampuan membedakan kebutuhan dengan keinginan adalah fondasi perilaku keuangan sehat sejak usia dini.

Pendekatan langsung dan kemitraan: saat universitas jadi bagian ekosistem sekolah

Dua contoh di atas menunjukkan pola yang sama: universitas tidak berhenti pada teori di bangku kuliah, tetapi membawa literasi keuangan anak langsung ke SD melalui program menabung sekolah yang konkret. Mahasiswa KKN tidak hanya memberi materi, tetapi juga membangun pengalaman: membuat celengan dari kaleng bekas, menghiasnya, menjawab kuis, hingga menyelesaikan lembar aktivitas bergambar. Pendekatan praktis ini membuat konsep literasi keuangan yang abstrak menjadi bisa disentuh dan diingat. Kepala SDN 1 Jatirunggo bahkan menilai pembiasaan mengelola uang sejak kecil membentuk karakter hemat, disiplin, dan bertanggung jawab. Di sisi lain, program “Kuy Menabung” dan “Celeng Emas” lahir sebagai bagian dari kerja Divisi Hubungan Masyarakat dan kontribusi mahasiswa untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat melalui pendidikan dasar yang aplikatif. Artinya, hubungan kampus–komunitas menjelma menjadi kemitraan yang memperluas edukasi finansial siswa SD di luar kurikulum formal.

Menuju gerakan nasional: saat setiap SD menjadi laboratorium keuangan anak

Jika program seperti “Kuy Menabung” dan “Celeng Emas” hanya berhenti sebagai kegiatan KKN, dampaknya akan terbatas pada satu angkatan siswa. Padahal, kebiasaan menabung sejak dini hanya akan kuat bila menjadi budaya sekolah. Ide besarnya sederhana: jadikan setiap SD laboratorium literasi keuangan anak, di mana program menabung sekolah berjalan sepanjang tahun, tidak hanya saat mahasiswa datang. Universitas sudah membuktikan bahwa pendekatan kreatif—celengan daur ulang, permainan, hingga diskusi tentang kebutuhan dan keinginan—mampu membuat anak paham dan tertarik mengelola uang. Langkah berikutnya ada di tangan sekolah dan pemangku kebijakan: mengadopsi, menyesuaikan, lalu mengintegrasikan model ini dalam kegiatan rutin. Kesimpulannya, kolaborasi kampus dan sekolah dasar bukan pelengkap, melainkan jalan strategis untuk menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas akademik, tetapi juga cerdas finansial sejak bangku SD.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!