Literasi keuangan anak: fondasi kemandirian yang sering diabaikan
Literasi keuangan anak adalah proses mengajarkan pemahaman tentang uang, menabung sejak dini, dan membedakan kebutuhan dengan keinginan melalui pengalaman nyata, permainan, dan aktivitas kreatif yang disesuaikan dengan tahap perkembangan siswa sekolah dasar agar mereka mampu mengelola uang saku dan merencanakan masa depan secara lebih bertanggung jawab. Di tengah gempuran budaya konsumtif, mengandalkan nasihat umum “hemat itu baik” sudah tidak cukup. Anak butuh program finansial sekolah dasar yang konkret: mereka memegang uang, membuat celengan, bermain peran, lalu diajak refleksi atas pilihan yang diambil. Tanpa itu, kebiasaan boros terbentuk lebih cepat daripada kesadaran finansial. Karena itu, inisiatif lokal seperti KKN di desa dan sekolah rakyat bukan sekadar kegiatan pengabdian; ia adalah intervensi awal yang dapat mengubah cara generasi muda memandang uang dan cita-cita.
“Dolanan Nang Sekolah” di Kalibeji: menabung dan berani bermimpi
Program “Dolanan Nang Sekolah” yang digelar mahasiswa KKN angkatan ke-58 kelompok 101 UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto di tiga SD Negeri di Kalibeji, Sempor, Kebumen, pada 29–31 Juli 2026, adalah contoh gamblang bagaimana literasi keuangan anak bisa dikemas dekat dengan dunia mereka. Dengan total peserta sekitar 80 siswa di SDN 1, 105 di SDN 2, dan 92 di SDN 3 Kalibeji, tema menabung dan cita-cita dipakai bukan hanya untuk mengajarkan edukasi uang anak-anak, tetapi juga untuk menekan risiko putus sekolah dan memupuk keberanian bermimpi. Sosialisasi ini menekankan disiplin mengelola uang secara sederhana dan penetapan cita-cita sebagai bagian dari perencanaan masa depan, bukan slogan motivasi yang menguap. Pernyataan kordes bahwa sekolah, orang tua, dan guru harus terus menerapkan kebiasaan ini adalah kritik halus: tanpa keberlanjutan, semangat anak akan turun lebih cepat daripada saldo celengannya.
“Gemar Tabung” di Bendo: ketika teori uang bertemu seni melukis celengan
Di SDN 1 Bendo, Sragen, program “Gemar Tabung: Gerakan Mari Menabung Edukasi Literasi Keuangan untuk Anak Sekolah Dasar” menunjukkan bahwa edukasi uang anak-anak bisa sistematis sekaligus menyenangkan. Mahasiswa KKN-PPM dari prodi Akuntansi, Manajemen, dan Hukum menyusun materi yang membahas pengertian dan fungsi uang, perbedaan kebutuhan dan keinginan, arti menabung, cara menabung, serta pentingnya menyisihkan uang saku—semua dengan contoh konkret yang dekat dengan kehidupan siswa. Kutipan yang layak diingat dari kegiatan ini adalah bahwa setelah materi, siswa langsung diajak melukis dan menghias celengan akrilik sebagai media untuk menumbuhkan ketertarikan terhadap kebiasaan menabung dan menjadikan pembelajaran lebih interaktif. Di sini tampak jelas: tanpa jembatan kreatif berupa seni, literasi keuangan mudah jatuh menjadi ceramah abstrak. Celengan yang mereka lukis menjadi simbol pilihan: uang dihabiskan seketika, atau disimpan demi tujuan yang mereka tentukan sendiri.

Permainan, barang bekas, dan seni: bahasa yang dipahami anak
Kekuatan program di Kalibeji dan Bendo terletak pada pendekatan yang mengakui bahwa anak belajar paling baik melalui permainan dan karya. Di Kalibeji, permainan kereta digunakan untuk membantu siswa menggali potensi diri dan cita-cita, sekaligus menghubungkannya dengan kebiasaan menabung demi pendidikan yang berkelanjutan. Beberapa guru menyoroti pemanfaatan barang bekas, seperti botol plastik, yang diubah menjadi kerajinan bermanfaat; ini bukan sekadar kreativitas, tetapi pelajaran ekonomi domestik: nilai bisa diciptakan dari sesuatu yang dianggap sampah. Di Bendo, sesi melukis celengan menjadikan program finansial sekolah dasar terasa bukan sebagai tugas, melainkan pengalaman estetis yang menyentuh emosi dan imajinasi siswa. Respons positif anak—seperti pengakuan seorang siswa yang mulai menghindari boros dan menyisihkan uang sakunya setelah ikut kegiatan—menunjukkan bahwa pendekatan ini jauh lebih efektif daripada daftar larangan tanpa konteks.
Dari program lokal ke gerakan literasi keuangan anak yang berkelanjutan
Inisiatif lokal di Kalibeji dan Bendo memperlihatkan bahwa menabung sejak dini tidak cukup diajarkan sebagai konsep; ia perlu dibiasakan melalui rutinitas yang menyentuh kehidupan nyata anak. Mahasiswa KKN berharap siswa terbiasa menyisihkan sebagian uang saku dan memahami pentingnya mengelola uang sejak usia dini, sementara para guru meminta agar kegiatan serupa dilakukan terus-menerus dengan ide yang lebih menarik dan beragam. Ini seharusnya dibaca sebagai ajakan membangun ekosistem literasi keuangan anak di sekolah rakyat: KKN datang dengan energi dan kreativitas, sekolah menyediakan kesinambungan, orang tua menguatkan praktik di rumah. Jika pola ini diulang dan diperluas, kesadaran finansial sejak dini akan menjadi fondasi kemandirian ekonomi di masa depan, bukan privilese anak kota yang akrab dengan aplikasi perbankan. Masa depan siswa SD hari ini ditentukan oleh apakah kita memberi mereka alat berpikir tentang uang, atau sekadar menyuruh mereka “hemat” tanpa menjelaskan caranya.






