Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Membaca 15 Menit hingga Kolaborasi Keluarga

Dari Membaca 15 Menit hingga Kolaborasi Keluarga
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Literasi perlu hadir di luar ruang kelas

Literasi sekolah adalah kebiasaan memahami, menggunakan, dan mendiskusikan informasi yang dibangun secara konsisten melalui kegiatan belajar serta dukungan lingkungan siswa. Karena itu, keberhasilannya tidak semestinya dibebankan kepada guru saja: keluarga, pengelola perpustakaan, dan pemerintah daerah perlu ikut membentuk rutinitas membaca yang terasa dekat dengan kehidupan anak. Di Gorontalo, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sudarman Samad menegaskan bahwa penguatan literasi merupakan tanggung jawab bersama. Pesan itu mengemuka dalam Workshop Optimalisasi Peran Guru, Tenaga Kependidikan, Orang Tua, dan Murid yang digelar SMA Negeri 2 Gorontalo di Hotel Grand Q, Kota Gorontalo, pada 30 Oktober 2026. Kolaborasi yang dibahas di sana menempatkan keluarga sebagai bagian dari proses, bukan penonton: sekolah mengasah pemahaman dan cara berpikir, sementara orang tua membantu anak membangun kebiasaan membaca di rumah. Inilah pendekatan yang lebih masuk akal daripada menganggap literasi selesai ketika bel pulang berbunyi.

Dorongan tersebut sejalan dengan kebijakan Kemendikdasmen pada 2026 yang memprioritaskan peningkatan kompetensi guru dan tenaga kependidikan, termasuk melalui pelatihan literasi, numerasi, dan Pembelajaran Mendalam. Pelatihan dapat memperkuat pengajaran, tetapi budaya membaca siswa baru berpeluang bertahan jika anak juga melihat buku hadir dalam keseharian keluarga. Membaca bersama, berbincang tentang cerita, atau memberi ruang bagi anak memilih bacaan merupakan praktik sederhana yang menghubungkan pembelajaran dengan rumah. Tanpa kesinambungan itu, literasi mudah berubah menjadi tugas sesaat, bukan bekal untuk memahami informasi dan berpikir kritis.

Lima belas menit harus menjadi kebiasaan, bukan slogan

Dispusip Bantul mendorong sekolah membiasakan siswa membaca minimal 15 menit setiap hari. Ajakan itu disampaikan dalam gelar wicara penguatan literasi di SD Negeri Sembungan pada 4 November 2026, yang juga disertai penambahan koleksi buku perpustakaan. Program penguatan tersebut direncanakan menyasar lima sekolah, mulai jenjang SD hingga SMP. Angka 15 menit terasa sederhana, tetapi nilai utamanya terletak pada pengulangan: waktu singkat yang dilakukan rutin lebih berpeluang membentuk kebiasaan daripada kegiatan besar yang hanya muncul sesekali. Bantul juga mengaitkan gerakan ini dengan kebutuhan memberi anak alternatif dari bermain gim atau mengakses hiburan melalui telepon seluler. Itu bukan alasan untuk mempertentangkan buku dan teknologi; sekolah perlu menawarkan aktivitas membaca yang menarik, bukan sekadar meminta siswa menjauh dari layar.

Kepala Dispusip Bantul, Dian Mutiara Sri Rahmawati, menekankan bahwa koleksi perpustakaan tidak cukup hanya tersedia—buku harus dipakai. Karena itu, membaca 15 menit sebaiknya diikuti pilihan bacaan yang sesuai usia, suasana yang nyaman, serta kesempatan berbagi kesan atau berdiskusi. Peran keluarga tetap penting: orang tua dapat menjadi teladan, mendampingi anak, dan menyediakan bahan bacaan yang cocok. Jika sekolah dan rumah sama-sama memberi ruang bagi aktivitas membaca, target harian itu tidak terasa sebagai hukuman atau pekerjaan tambahan, melainkan bagian wajar dari hari siswa.

Buku bermutu perlu bertemu kegiatan yang hidup

Penyaluran buku bacaan bermutu di Bengkulu Tengah memberi sekolah bahan penting untuk membangun minat baca, tetapi bantuan hanya akan berarti jika buku benar-benar dibuka dan digunakan. Pemerintah kabupaten melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan mengapresiasi dukungan Kemendikdasmen dan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa untuk sekolah dasar dan menengah. Kepala dinas Erriyanto menilai bacaan dengan tema beragam, tampilan menarik, dan isi yang sesuai kebutuhan anak dapat membantu memperkuat fondasi literasi. Namun, menambah koleksi tanpa merancang cara pemanfaatannya berisiko menjadikan buku sekadar pajangan perpustakaan. Guru dapat menghidupkannya melalui membaca bersama sebelum pelajaran, waktu membaca mandiri, kegiatan bercerita, dan diskusi tentang isi buku. Sudut baca juga dapat mendekatkan bahan bacaan dengan keseharian siswa.

Pendekatan ini menegaskan bahwa dukungan pemerintah bukan pengganti kerja sekolah, melainkan modal yang perlu diterjemahkan menjadi kegiatan rutin. Buku yang sesuai minat dapat mengundang anak membaca; pendampingan guru membantu mereka memahami isi dan menyampaikan gagasan. Pemerintah Kabupaten Bengkulu Tengah menyatakan siap mengawal pemanfaatan bantuan agar tepat guna dan memberi manfaat bagi pendidikan. Ukuran keberhasilannya semestinya bukan hanya jumlah buku yang sampai, tetapi juga apakah siswa menggunakannya, membicarakannya, dan terdorong mencari bacaan berikutnya. Dengan cara itu, buku bacaan bermutu menjadi sumber belajar aktif, bukan sekadar tambahan inventaris.

Dari Membaca 15 Menit hingga Kolaborasi Keluarga

Kolaborasi memperluas gerakan literasi

Program Sedekah Ilmu dan Buku (Sibuk) di Kepulauan Riau memperlihatkan bagaimana gerakan literasi dapat melibatkan lebih dari satu lembaga. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan provinsi, Moh. Bisri, menginisiasi program tersebut dan bekerja sama dengan Taman Bacaan Masyarakat. Ia menyebut Indeks Pembangunan Literasi daerah masih jauh dari harapan. Di provinsi itu terdapat 137 lokasi TBM, sedangkan koleksi perpustakaan provinsi berjumlah sekitar 27 ribu judul, dibanding kebutuhan ideal 50 ribu judul. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa tantangannya bukan hanya meminta anak membaca, tetapi juga memastikan akses bacaan dan kegiatan tersedia. Sibuk menjadi contoh upaya menghubungkan pemerintah, madrasah, perpustakaan, dan komunitas agar sumber daya yang terbatas dapat menjangkau lebih banyak pembaca.

Kunjungan Bisri ke MAN Tanjungpinang berlangsung setelah pembukaan kegiatan Bulan Bahasa di perpustakaan madrasah pada 28 Oktober. Kepala madrasah sependapat bahwa membaca dan menulis memperkaya pengetahuan, serta berharap program literasi madrasah mendapat dukungan pemerintah provinsi. Harapan itu tepat: gerakan bersama perlu berlanjut setelah acara, melalui akses buku, jadwal membaca, dan keterlibatan warga. Kisah dari Gorontalo, Bantul, Bengkulu Tengah, dan Kepulauan Riau mengarah pada kesimpulan serupa. Membentuk budaya membaca siswa tidak bisa mengandalkan satu kampanye atau satu pihak. Rutinitas harian, bahan bacaan yang menarik, pendampingan keluarga, dan kerja sama antarlembaga perlu berjalan beriringan. Ketika semuanya hadir, literasi lebih mungkin menjadi kebiasaan yang bertahan, bukan slogan di dinding sekolah.

Dari Membaca 15 Menit hingga Kolaborasi Keluarga

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!