Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Dibacakan Buku hingga Anak Jatuh Cinta pada Membaca

Dari Dibacakan Buku hingga Anak Jatuh Cinta pada Membaca
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Membaca untuk Anak Bukan Cukup: Tujuannya Adalah Hobi Membaca Anak

Hobi membaca anak adalah keadaan ketika anak memilih membaca sebagai aktivitas favoritnya, bukan sekadar kewajiban sekolah atau kegiatan yang diminta orang tua, melainkan pilihan yang ia cari sendiri di waktu luang karena merasa buku adalah teman yang menyenangkan dan menenangkan. Membacakan buku pada anak itu mudah, yang sulit adalah menularkan rasa cinta sampai membaca menjadi pilihan mereka sendiri. Jika kita berhenti di tahap dibacakan buku sebelum tidur, literasi anak sejak dini hanya menjadi ritual manis tanpa daya dorong jangka panjang. Orang tua perlu mengakui hal ini dengan jujur: target kita bukan anak yang patuh saat dibacakan, tapi anak yang mencari buku seperti ia mencari mainan favorit. Sikap ini mengubah cara kita merancang strategi mendorong membaca—lebih sedikit ceramah, lebih banyak pengalaman menyenangkan dan konsisten.

Saya berpihak pada gagasan bahwa orang tua harus berani memindahkan fokus dari “berapa halaman dibaca hari ini” ke “seberapa sering anak memilih buku tanpa diperintah”. Membaca untuk anak adalah pintu, bukan tujuan akhir. Ketika tujuan kita adalah menumbuhkan literasi anak sejak dini yang hidup, kita akan lebih berani bereksperimen dengan cara-cara yang membuat buku terasa dekat dengan keseharian: di ruang keluarga, di mobil, di meja makan. Tanpa keberanian mengubah pola pikir, kebiasaan membaca akan berhenti di ritus manis sebelum tidur dan gagal menjadi hobi membaca anak yang bertahan hingga dewasa.

Mulai dari Contoh: Anak Menangkap Kebiasaan Membaca, Bukan Instruksi

Salah satu kisah paling kuat datang dari Stephanie Aprilla Paskarina, seorang ibu pecinta buku yang berhasil menjadikan kegiatan baca sebagai aktivitas harian bersama putrinya, Kirana. Ia tidak hanya membacakan buku, tetapi menunjukkan kecintaan pribadi terhadap buku di depan anak. Menurutnya, anak akan lebih mudah menangkap kebiasaan yang mereka lihat daripada sekadar mendengar instruksi. Ini bukan teori kosong: ia menjalankan hobi membaca, menulis, dan belajar hal baru di sela-sela waktu keluarga, bukan diam-diam menunggu anak tidur. Jadinya, membaca tampil sebagai bagian alami dari ritme rumah, bukan tugas tambahan. "Saya ingin bisa menjalankan hobi dengan leluasa setelah kami selesai family time, ketika semuanya sedang sibuk dengan hobi atau aktivitas masing-masing," tuturnya.

Di sini saya berpihak jelas: orang tua yang tidak punya hubungan pribadi dengan buku akan kesulitan menumbuhkan hobi membaca anak. Anak bisa merasakan apakah kita membaca karena terpaksa atau karena menikmati. Strategi mendorong membaca yang efektif dimulai dari rak buku orang tua, bukan rak buku anak. Mulailah dari buku yang membuat Anda nyaman dan senang, lalu biarkan anak melihat bahwa membaca itu menyenangkan dan Anda benar-benar menikmatinya. Ketika ia melihat Anda tersenyum, termenung, atau tertawa bersama buku, pesan yang sampai adalah: buku itu penting dan layak diberi ruang. Keteladanan semacam ini jauh lebih kuat dari seribu nasihat tentang pentingnya membaca.

Dari Dibacakan Buku hingga Anak Jatuh Cinta pada Membaca

Buku yang Tepat: Menyocokkan Usia, Minat, dan Momen Sehari-hari

Saya menolak anggapan bahwa semua buku “pasti bermanfaat” sehingga bisa diberikan begitu saja. Untuk menyalakan hobi membaca anak, pemilihan buku yang tepat adalah senjata utama. Stephanie memilih buku sebelum tidur berdasarkan ketertarikan Kirana saat itu, kemudian mereka membaca bersama dan membicarakan gambar atau ceritanya, bahkan sering membaca buku yang sama berkali-kali. Buku bukan dipaksakan, melainkan diikuti minat anak—entah itu cerita, teka-teki, atau gambar. Ia menempatkan buku di ruang keluarga, ruang makan, kamar, bahkan di mobil, sehingga anak dapat mengaksesnya dengan mudah kapan saja. Ini bukan dekorasi manis, melainkan strategi literasi anak sejak dini: buku hadir di tempat yang strategis, bersaing sehat dengan gawai dan mainan.

Contoh konkret lain adalah ketika minat Kirana sedang tertuju pada teka-teki. Stephanie menjadikan The Big Book of Tricky Riddles for Kids sebagai salah satu favorit karena anaknya sedang tertarik dengan teka-teki, bahkan menjadikannya sumber inspirasi untuk catatan kecil yang ia tempelkan di lunchbox. Cara ini menunjukkan bahwa buku bisa merembes ke kehidupan sehari-hari, tidak berhenti di rak. Saya berpendapat, ketika buku mampu “hidup” di luar sesi baca formal—menginspirasi obrolan, permainan, atau kejutan di bekal—anak akan memandang membaca sebagai pintu menuju pengalaman seru. Di sinilah keinginan membaca mandiri lahir: anak merasa buku punya dampak langsung pada harinya, bukan sekadar tugas belajar.

Belajar dari Buku Parenting: Orang Tua Juga Perlu Dididik

Kita sering berharap anak cinta buku, tetapi lupa bahwa orang tua juga butuh pendidikan tentang pengasuhan dan literasi. Di luar kisah individu, ada banyak rekomendasi buku parenting yang dapat membantu orang tua memahami anak dengan lebih dalam. Buku Unconditional Parenting karya Alfie Kohn, misalnya, menyajikan alasan tentang kedisiplinan dalam mengatur anak dan cara orang tua merasakan emosi, menyikapi, dan bertindak terhadap anak, termasuk cara selain pujian untuk menunjukkan cinta kasih dengan disiplin tinggi. Sibling Without Rivalry dari Adele Faber dan Elaine Mazlish menawarkan panduan mengurangi konflik antar saudara dan memperlakukan anak secara adil berdasarkan penelitian dan workshop di bidang parenting. Rekomendasi buku parenting seperti ini membantu orang tua tidak sekadar “baik hati”, tetapi juga terinformasi.

Kisah Stephanie menunjukkan betapa kuatnya refleksi orang tua saat membaca buku yang relevan dengan pengalaman mereka. Ia menyebut Can I Talk to You sebagai buku yang terasa dekat karena mengangkat refleksi dan percakapan penulis dengan anak-anak pada fase usia yang mirip dengan usia anaknya sendiri. Ketika orang tua membaca buku parenting dan keluarga yang membuat mereka lebih paham menjadi orang tua, mereka akan lebih peka menangkap kebutuhan literasi anak, bukan hanya kebutuhan akademiknya. Saya berpendapat, literasi anak sejak dini akan tumbuh lebih seimbang jika orang tua menyadari bahwa mendidik anak adalah proses belajar sepanjang hayat. Rekomendasi buku parenting dari tokoh publik dan penulis berpengalaman memberi kompas, agar pilihan bacaan keluarga bukan sekadar populer, tetapi benar-benar berkualitas.

Mengasosiasikan Buku dengan Rasa Senang, Bukan Kewajiban

Inti dari seluruh strategi mendorong membaca adalah asosiasi emosi. Stephanie mengaku berusaha mengasosiasikan buku dengan sesuatu yang menyenangkan dan menggabungkannya dengan rutinitas sehari-hari. Ia menjadikan sesi baca sebelum tidur sebagai momen hangat: memilih buku berdasarkan ketertarikan anak, membaca bersama, dan mengobrol tentang gambar atau cerita. Yang lebih penting, sejak pertama memegang buku, ia mengajarkan anak untuk menghargai buku tersebut: tidak dirobek, tidak diinjak, apalagi dicoret. Buku diperlakukan seperti barang yang disayang dan harus dijaga baik-baik. Sikap ini membentuk relasi emosional: buku bukan benda asing, melainkan “teman” yang pantas dihormati. Dalam perspektif saya, ketika anak melihat membaca bukan sebagai kewajiban, tetapi sebagai sesuatu yang menyenangkan dan bisa terus menemani mereka bertumbuh, maka kita telah mencapai tujuan literasi anak sejak dini yang sesungguhnya.

Kesimpulannya tegas: kalau kita ingin hobi membaca anak tumbuh, kita perlu menghentikan pendekatan berbasis rasa takut atau kewajiban. Anak-anak saat ini tumbuh di tengah begitu banyak informasi dan stimulasi; mereka butuh cukup ruang untuk bertumbuh dan menjadi dirinya sendiri. Buku bisa menjadi ruang aman itu, asalkan orang tua tidak menjadikannya alat tekanan. Jadikan rumah sebagai ekosistem literasi: orang tua membaca dengan tulus, buku-buku menarik tersedia dan mudah dijangkau, dan setiap sesi baca dibungkus dengan rasa senang, bukan ancaman nilai rapor. Dengan cara ini, dari dibacakan buku di pangkuan orang tua, pelan-pelan anak akan melangkah ke fase di mana buku adalah pilihannya sendiri—dan di situlah cinta pada membaca berakar kuat.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

Related Products

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!