Literasi tumbuh lewat rutinitas dan dorongan
Budaya membaca siswa adalah kebiasaan membaca yang dibangun secara konsisten di lingkungan sekolah agar murid lebih mudah memperoleh pengetahuan, memahami informasi, dan mengembangkan cara berpikir. Dua SMP di Kota Tangerang menunjukkan bahwa literasi sekolah dapat diperkuat melalui jalur berbeda: rutinitas yang mendekatkan buku kepada siswa dan kompetisi yang mendorong sekolah menilai kemajuannya. SMPN 25 Kota Tangerang mengembangkan program terstruktur untuk menumbuhkan kebiasaan membaca, sedangkan SMPN 10 mengikuti penilaian Lomba Sekolah Literasi yang digelar Dinas Perpustakaan dan Aset Daerah Kota Tangerang. Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Namun, pembiasaan harian semestinya menjadi fondasi, sementara lomba berfungsi sebagai pemantik evaluasi dan pengakuan. Tanpa kebiasaan yang hidup setelah penilaian selesai, capaian kompetisi mudah berhenti sebagai daftar fasilitas dan dokumen, bukan perubahan nyata dalam pengalaman belajar siswa.
SMPN 25 mendekatkan bacaan ke keseharian
SMPN 25 mengambil jalur yang menempatkan akses dan pengulangan sebagai inti program membaca SMP. Kepala sekolah Marsum menjelaskan bahwa kegiatan literasi dijadwalkan secara klasikal maupun untuk seluruh siswa. Pojok baca tersedia di tiap kelas, sementara perpustakaan dan taman sekolah menyediakan pilihan tempat membaca di luar kelas. Siswa juga bebas memilih buku fiksi maupun nonfiksi. Pendekatan ini penting karena kebiasaan lebih mungkin tumbuh ketika bahan bacaan mudah dijangkau dan membaca tidak terasa sebagai tugas sesaat. Sekolah menyebut programnya sebagai jawaban atas minat baca yang dinilai masih rendah secara nasional; harapannya, membaca memperluas wawasan dan mendukung perkembangan intelektual serta emosional siswa. Upaya itu juga menghasilkan capaian: siswa SMPN 25 masuk lima besar Duta Literasi tingkat kota bersama peserta jenjang SMP dan SMA/SMK. Prestasi tersebut bernilai, tetapi kekuatan pendekatan ini tetap terletak pada rutinitas yang dapat dialami siswa setiap hari.
Marsum berharap penguatan budaya membaca dapat meningkatkan minat siswa ke depan.

SMPN 10 memakai lomba sebagai alat evaluasi
Berbeda dari penekanan SMPN 25 pada akses dan jadwal, SMPN 10 Kota Tangerang menjadikan penilaian sebagai momen untuk mengukur sekaligus memperbaiki ekosistem literasinya. Sekolah itu menjadi yang pertama menjalani penilaian Lomba Sekolah Literasi, dan proses oleh petugas DPAD rampung pada 28 Oktober 2026. Penilaian mencakup 34 indikator, mulai dari perpustakaan dan pojok baca di kelas hingga kegiatan unjuk bakat siswa. Keikutsertaan tahun ini juga menjadi tindak lanjut setelah sekolah belum berhasil dalam ajang serupa tahun sebelumnya. Menurut humas sekolah, evaluasi itu mendorong pelengkapan indikator dan peningkatan fasilitas serta program. Di luar kompetisi, SMPN 10 memiliki kegiatan literasi khusus setiap Selasa dan mewajibkan siswa membaca selama 15 menit sebelum kegiatan belajar mengajar. Jadi, lomba bukan pengganti pembiasaan: nilai terbaiknya muncul ketika standar penilaian mendorong rutinitas yang terus berlangsung.
Di SMPN 10, seluruh siswa membaca selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai setiap hari.
Kompetisi sebaiknya menguatkan kebiasaan
Perbedaan kedua sekolah memperlihatkan dua fungsi yang saling melengkapi. SMPN 25 menanamkan budaya membaca siswa melalui jadwal, ruang yang ramah bacaan, dan pilihan buku; SMPN 10 memakai lomba untuk meninjau fasilitas serta program, sembari menjaga kegiatan membaca rutin. Bagi siswa, manfaat langsungnya bukan gelar sekolah, melainkan akses bacaan yang mudah dan kemampuan memahami informasi dengan lebih baik. Gerakan literasi SMPN 10 juga dirancang untuk melatih keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis, sedangkan SMPN 25 mendorong guru menghubungkan bacaan dengan mata pelajaran lain. Kedua pendekatan itu akan lebih kuat jika guru turut menjadi teladan dan kegiatan literasi tidak dibatasi pada satu acara. Sekolah yang mengejar pengakuan tanpa kesinambungan berisiko mengejar indikator; sekolah yang membangun kebiasaan tanpa evaluasi pun bisa kehilangan kesempatan memperbaiki program.
Kedua sekolah menempatkan kompetisi dan rutinitas dalam konteks yang lebih luas: membangun kemampuan murid mengelola informasi serta membentuk karakter. SMPN 10 berharap kerja sama seluruh pihak dapat menjaga gerakan literasi, sementara SMPN 25 ingin minat baca siswa terus meningkat. Kesimpulannya, lomba sekolah literasi paling bermanfaat ketika menjadi cermin untuk memperbaiki kebiasaan sehari-hari, bukan tujuan akhir. Rutinitas membuat membaca hadir dalam proses belajar; penilaian membantu sekolah melihat apa yang sudah berjalan dan apa yang perlu diperkuat. Jika keduanya berjalan beriringan, budaya literasi berpeluang tumbuh melampaui ruang lomba dan menjadi bagian dari kehidupan sekolah.






