Jurnalistik dimulai dari kebiasaan memahami informasi
Pelatihan jurnalistik siswa adalah kegiatan belajar yang mengajarkan cara mencari, memeriksa, mengolah, dan menyampaikan informasi melalui praktik membaca, wawancara, serta penulisan berita. Nilainya bagi sekolah bukan sekadar menghasilkan tulisan, melainkan membentuk kebiasaan bertanya tentang sumber dan ketepatan informasi sebelum membagikannya.
Pada Selasa (3/11/2026), Tribun Academy hadir di SMKN 3 Palembang dengan tema “Literasi Informasi Action: Membaca, Menulis, dan Berkarya di Era Digital”. Pemimpin Redaksi Prawira Maulana membekali siswa dengan dasar jurnalistik, proses kerja wartawan, nilai berita, dan cara menyajikan informasi agar mudah dipahami. Pelatihan itu juga menunjukkan bahwa literasi informasi sekolah perlu mencakup ruang digital: unggahan media sosial pun sebaiknya informatif, bukan sekadar menarik perhatian. Dengan demikian, literasi digital siswa menjadi kemampuan menilai dan menyampaikan pesan, bukan hanya menggunakan perangkat.

Membaca dan merangkum memberi dasar untuk menulis
Di SMPN 1 Proppo, Pamekasan, pelatihan jurnalistik bersama Jawa Pos Radar Madura digelar pada Rabu (4/11) untuk memperkuat literasi dan numerasi. Siswa mempelajari dasar jurnalistik sekaligus mempraktikkan peliputan, mulai dari wawancara hingga menyusun berita. Langkah praktik ini penting: membaca informasi saja belum cukup jika siswa belum mampu memilih pokok persoalan, memahami keterangan, lalu menyampaikan kembali isinya dengan runtut.
Kegiatan literasi SMP di sekolah tersebut juga dimulai sebelum pembelajaran: siswa mendapat waktu lima menit untuk membaca, kemudian merangkum bacaan. Kepala sekolah Slamet Riady menilai kebiasaan itu membangun budaya membaca sekaligus melatih siswa memahami dan menyampaikan kembali informasi. Rangkaian membaca, merangkum, lalu menulis berita membuat literasi terasa sebagai keterampilan yang dipakai, bukan tugas yang selesai di halaman buku.

Verifikasi harus menjadi kebiasaan, bukan materi sesaat
Kedua kegiatan memperlihatkan hubungan yang masuk akal antara rutinitas membaca dan kecakapan jurnalistik. Membaca memberi bahan; merangkum melatih siswa membedakan gagasan utama dari rincian; wawancara dan penulisan berita menuntut mereka menyusun keterangan secara jelas. Saat informasi bergerak cepat di media digital, urutan itu membantu siswa menahan diri sebelum meneruskan klaim yang belum diperiksa.
Namun, pelatihan sekali datang tidak otomatis membentuk kebiasaan. Nilai terbesarnya muncul bila keterampilan yang diperkenalkan diterapkan dalam kegiatan belajar sehari-hari: membaca dengan tujuan, merangkum secara akurat, memeriksa sumber, dan menulis untuk pembaca. Perpaduan antara praktik jurnalistik dan rutinitas lima menit membaca di Proppo memberi gambaran bahwa literasi dapat dibangun lewat latihan kecil yang berulang.
Ukuran keberhasilan ada pada cara siswa mengolah kabar
Pelatihan di SMKN 3 Palembang dan SMPN 1 Proppo sama-sama menempatkan siswa sebagai pembaca sekaligus penyampai informasi. Yang pertama menautkan jurnalistik dengan pembuatan konten media sosial, sementara yang kedua menghubungkan peliputan dengan penguatan literasi dan numerasi serta kebiasaan membaca sebelum kelas. Perbedaan pendekatan itu menunjukkan bahwa keterampilan jurnalistik dapat masuk ke sekolah melalui konteks yang dekat dengan kebutuhan siswanya.
Kesimpulannya, pelatihan jurnalistik paling berguna ketika tidak berhenti pada teknik menulis berita. Ia perlu berpijak pada kebiasaan membaca, merangkum, dan memeriksa informasi agar siswa mampu menyampaikan kembali sesuatu secara bertanggung jawab. Sekolah yang menghubungkan rutinitas literasi dengan praktik jurnalistik memberi bekal lebih kuat bagi siswa untuk memahami kabar sebelum ikut menyebarkannya.






