Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Energi Surya dan Biogas Menguatkan Kemandirian Komunitas

Energi Surya dan Biogas Menguatkan Kemandirian Komunitas
Minat|Solusi Pintar

Energi komunitas dimulai dari kebutuhan setempat

Energi komunitas adalah pemanfaatan sumber daya setempat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari warga, dari penerangan ruang bersama hingga listrik dan bahan bakar memasak. Nilainya bukan semata pada teknologi bersih, melainkan pada manfaat langsung yang dirasakan masyarakat. Dua inisiatif memperlihatkan bagaimana gagasan itu dapat diterapkan dalam konteks berbeda. Di kawasan permukiman Jabodetabek, program PELITA menyediakan penerangan tenaga surya bagi lingkungan warga dan fasilitas olahraga. Di kawasan transmigrasi Teluk Wondama, panel surya dan biogas mendukung kebutuhan energi yang lebih luas di kampung terpencil. Keduanya mengurangi ketergantungan pada pasokan energi konvensional, tetapi skala dan persoalan yang dijawab tidak sama. Perbandingan ini penting: energi surya warga dapat membuat ruang publik lebih aman selepas senja, sementara panel surya desa dan biogas komunitas berpotensi menopang layanan dasar serta kegiatan rumah tangga.

PELITA menerangi ruang bersama

Pada Rabu malam, 28 Oktober 2026, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono meresmikan program PELITA, inisiatif Kuda Biru Project, di Lapangan Voli Petukangan Utara, Jakarta Selatan. Tiga lampu tenaga surya dipasang di lapangan yang digunakan warga untuk berolahraga dan berkegiatan bersama. Lampu menyerap dan menyimpan energi matahari pada siang hari, lalu menyala otomatis saat gelap. Dampaknya sederhana tetapi berarti: warga, termasuk anak-anak, dapat menggunakan lapangan pada sore dan malam hari dengan lebih aman dan nyaman. PELITA berkembang dari satu titik di Jakarta Barat menjadi 25 titik di Jakarta, Kepulauan Seribu, Bogor, Bekasi, Depok, dan Tangerang Selatan. AHY juga menyoroti gang-gang sempit yang masih gelap pada malam hari. Perluasan ke lebih banyak permukiman dan fasilitas olahraga layak didorong, tetapi ukuran keberhasilannya harus berupa ruang yang benar-benar lebih aman dan berguna bagi warga.

Di Teluk Wondama, energi menopang layanan dasar

Di Kampung Werianggi, panel surya yang dipasang di balai kampung membuat listrik menyala lebih lama. Pada saat yang sama, kotoran sapi warga mulai diolah menjadi biogas untuk memasak. Di Puskesmas Nikiwar dan Windesi, tenaga kesehatan juga beralih dari catatan kertas ke rekam medis elektronik. Berbeda dari lampu PELITA yang berfokus pada ruang publik, pendekatan ini menghubungkan energi dengan kebutuhan rumah tangga, kesehatan, pangan, dan ekonomi lokal. Obeth O, warga penerima pelatihan, mengatakan kotoran sapi kini dapat menghasilkan gas untuk memasak. Perubahan itu menunjukkan bahwa biogas komunitas bukan gagasan abstrak: ia memanfaatkan limbah setempat untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, pendekatan di Teluk Wondama juga berlangsung di tengah kerusakan hutan akibat kebakaran dan kepentingan industri kayu. Karena itu, energi bersih di sana sebaiknya dinilai sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan sekaligus memperbaiki akses layanan, bukan sebagai proyek teknologi yang berdiri sendiri.

Energi Surya dan Biogas Menguatkan Kemandirian Komunitas

Skala berbeda, pelajaran yang sama

PELITA dan inisiatif Teluk Wondama membuktikan bahwa satu model tidak cocok untuk semua tempat. Di lingkungan kota, lampu surya dapat mengatasi titik gelap yang membatasi penggunaan ruang bersama. Di kawasan transmigrasi terpencil, kombinasi panel surya dan biogas lebih relevan karena kebutuhan energi berkaitan dengan listrik kampung, kegiatan memasak, dan layanan kesehatan. Keduanya memberi warga peran sebagai penerima manfaat langsung, bukan sekadar penonton pembangunan. Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia mengembangkan pendekatan Teluk Wondama setelah pengamatan lapangan selama Agustus hingga November 2026. Presiden Prabowo menyebut idealnya setiap desa memiliki PLTS berkapasitas satu megawatt untuk memperkuat kemandirian energi. Itu merupakan arah kebijakan, bukan bukti bahwa kapasitas tersebut sudah terwujud. Keberlanjutan tetap bergantung pada pelatihan, pemeliharaan, dan kesinambungan program; tenaga kesehatan setempat berharap pelatihan digitalisasi dapat terus diterapkan dan program Tim Patriot berlanjut.

Kesimpulannya, jalan menuju energi mandiri perlu bertolak dari kebutuhan warga, bukan sekadar pemasangan perangkat. PELITA memperlihatkan bagaimana energi surya warga dapat membuat fasilitas bersama lebih aman digunakan, sedangkan Teluk Wondama menunjukkan potensi panel surya desa dan biogas komunitas untuk menopang kebutuhan yang lebih luas. Jika kedua pendekatan disertai dukungan jangka panjang dan perhatian pada lingkungan, energi bersih dapat menjadi layanan nyata bagi permukiman maupun wilayah terpencil.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!