Energi desa harus dikelola, bukan sekadar dipasang
PLTS desa adalah sistem listrik tenaga surya yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan warga sekaligus membangun kemampuan komunitas dalam mengelola pasokan energi secara berkelanjutan. Ukuran keberhasilannya bukan hanya panel yang terpasang, melainkan apakah warga mampu memanfaatkan dan merawatnya setelah pendampingan berakhir. Dua upaya memperlihatkan jalan berbeda menuju tujuan itu: Tim Sobat Bumi UNY mengoptimalkan fasilitas di Iroyudan, Bantul, sedangkan Pertamina membangun jaringan pemberdayaan melalui Desa Energi Berdikari. Perbandingan ini penting karena energi terbarukan tak otomatis menghasilkan kemandirian energi. Infrastruktur harus disertai keterampilan, kepemilikan lokal, dan rencana pengelolaan yang realistis. Tanpa itu, panel surya berisiko menjadi aset yang bergantung pada pihak luar. Sebaliknya, ketika masyarakat terlibat sejak pemetaan kebutuhan hingga pengoperasian, listrik bersih dapat menjadi fondasi kegiatan produktif, bukan sekadar proyek instalasi.
Iroyudan: pembenahan teknis dengan pijakan komunitas
Selama empat hari, 20–23 Oktober 2026, Tim Desa Energi Berdikari Sobat Bumi Universitas Negeri Yogyakarta merampungkan optimalisasi PLTS di Iroyudan bersama PT Mobah Indonesia dan tokoh masyarakat setempat. Fokusnya jelas: meningkatkan distribusi daya dan memperbarui penyimpanan. Tim menambah kapasitas distribusi 1,1 kWp sehingga total kapasitas sistem mencapai 3,5 kWp. Sistem ini dilengkapi baterai LiFePO 48 V 100 Ah dan inverter hibrida off-grid 5.000 VA. Skala tersebut tentu tak sebanding dengan program lintas desa, tetapi justru memungkinkan perhatian lebih dekat pada kebutuhan dan kesiapan fasilitas di satu lokasi. Tokoh lokal membantu menjembatani komunikasi dan kebutuhan warga, sementara mitra teknis mendukung keamanan serta ketepatan pemasangan. Setelah uji fungsi dan serah terima, fasilitas dinyatakan siap mendukung aktivitas produktif warga.
Pertamina: skala luas, dengan tuntutan kemandirian nyata
Pertamina mencatat 62 desa telah mencapai tahap mandiri dari 310 titik program Desa Energi Berdikari. Cakupannya jauh melampaui satu instalasi: 274 program memakai panel surya, sementara lainnya menggunakan biogas atau metana, mikrohidro, biodiesel, dan sistem hibrida. Program itu juga menjangkau 300.768 penerima manfaat dan mencatat nilai ekonomi energi terbarukan Rp6,40 miliar per tahun. Namun ukuran program bukan jaminan pemberdayaan berhasil. Corporate Secretary Pertamina Arya Dwi Paramita menekankan perlunya strategi keluar agar masyarakat dapat melanjutkan program tanpa ketergantungan pada perusahaan. Prinsip ini membedakan DEB dari bantuan infrastruktur semata: warga ditempatkan sebagai pelaku yang mengembangkan potensi lokal, sementara Pertamina berperan sebagai katalis. Model berskala besar menjanjikan jangkauan dan ragam manfaat, tetapi keberhasilannya tetap harus dinilai dari kemampuan komunitas mengelola hasilnya.

Skala berbeda, ukuran keberhasilan yang sama
Iroyudan memperlihatkan pendekatan yang terfokus: kapasitas PLTS ditingkatkan, komponen dimodernisasi, lalu sistem diuji bersama mitra dan tokoh lokal. Pertamina, sebaliknya, mengoordinasikan ratusan titik dengan aneka teknologi dan menuntut desa mengambil alih pengembangan program. Keduanya bukan pilihan yang saling meniadakan. Proyek lokal dapat menunjukkan bagaimana teknis, pendampingan, dan penerimaan warga bertemu dalam praktik; program luas dapat memperbanyak kesempatan dan menghubungkan energi dengan kegiatan ekonomi, pangan, serta wisata. Tantangannya ialah memastikan pelatihan dan pengelolaan tumbuh secepat instalasi. Pertamina mencatat 24 program masih dikembangkan dan menargetkan 334 program pada akhir 2026. Target tersebut layak dinilai bukan hanya dari jumlah titik, tetapi juga dari berapa banyak komunitas yang sanggup mengoperasikan dan mengembangkan sistemnya sendiri.
Pada akhirnya, kemandirian energi desa tidak ditentukan oleh besar kecilnya proyek, melainkan oleh siapa yang mampu menjaga manfaatnya tetap hidup. Optimalisasi Iroyudan menawarkan contoh kerja dekat dengan komunitas; Desa Energi Berdikari menunjukkan ambisi pemberdayaan dalam skala luas. Keduanya akan lebih bermakna bila warga memiliki keterampilan, peran dalam keputusan, dan dukungan untuk mengembangkan manfaat lokal setelah pendampingan selesai. Itulah ukuran yang seharusnya mengarahkan perluasan PLTS desa dan program energi terbarukan berikutnya.






