Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Energi Bersama Membantu Petani Menekan Biaya dan Menguatkan Kemandirian

Energi Bersama Membantu Petani Menekan Biaya dan Menguatkan Kemandirian
Minat|Solusi Pintar

Energi komunal harus berangkat dari kebutuhan warga

Energi terbarukan berbasis komunitas adalah pemanfaatan sumber energi bersih yang dirancang dan dikelola dengan keterlibatan warga untuk menjawab kebutuhan setempat, bukan sekadar memasang teknologi dari luar. Prinsip itu penting bagi desa yang menghadapi tantangan berbeda—mulai dari irigasi sawah hingga aktivitas nelayan—karena keberhasilan energi bersama bergantung pada kecocokannya dengan kehidupan sehari-hari.

Di Serangan, Desa Utak Atik menjadi wadah agar masyarakat desa berperan sebagai pelaku inovasi, bukan hanya penerima teknologi; inisiatif ini digagas CAST Foundation dan Fab Lab Bali. Programnya berawal dari Desa Hidrogen Hijau pada awal 2024, lalu berkembang menjadi Desa Utak Atik yang diperkenalkan pada Desember 2025 sebagai ruang eksplorasi dan pengembangan teknologi energi terbarukan berbasis komunitas. Pendekatan bertahap—termasuk lokakarya rutin dengan kelompok anak-anak—mulai diperluas kepada kelompok pemuda, banjar lain, dan nelayan. Inilah arah yang patut dipertahankan: energi komunal Bali akan lebih berguna jika warga ikut membentuk prosesnya sesuai kebutuhan mereka.

Energi Bersama Membantu Petani Menekan Biaya dan Menguatkan Kemandirian

SIUMA menghubungkan energi dengan kebutuhan sawah

Bagi petani Subak Sembung di Denpasar Utara, pasokan air saat musim kemarau bukan persoalan abstrak, melainkan penentu produktivitas. SIUMA Subak Sembung menjawabnya dengan memadukan panel surya dan kincir air mikrohidro untuk menggerakkan pengelolaan irigasi serta memanfaatkan kembali air sungai bagi lahan pertanian. Sistem ini dilengkapi sensor kelembapan tanah, sehingga petani dapat mengenali bagian sawah yang memerlukan air dan menghindari penyiraman yang tidak perlu.

Ketua KUB Uma Palak Lestari, Wayan Sukadana, mengatakan sensor membantu petani menyalurkan air secara tepat sasaran dan efisien, terutama ketika pasokan terbatas. Manfaat seperti ini membuat energi terbarukan desa lebih dari sekadar sumber listrik: ia mendukung keputusan tani sehari-hari. Dengan irigasi yang lebih terukur, air tidak dibuang sia-sia dan petani memiliki alat praktis untuk menjaga sawah tetap produktif saat kemarau.

Energi Bersama Membantu Petani Menekan Biaya dan Menguatkan Kemandirian

Penghematan biaya memperluas kemandirian petani

Nilai SIUMA tampak ketika energi bersih dipakai melampaui urusan pengairan. Petani mulai mengganti traktor diesel dengan traktor listrik berbaterai yang dapat diisi memakai pasokan surya dan mikrohidro secara mandiri, sehingga penggunaan bahan bakar berkurang dan pengisian tidak menambah biaya listrik. Dukungan mesin giling padi elektrik berkapasitas hingga 200 kilogram per jam juga memperkuat tahap pascapanen dan pengolahan beras Mentik Susu, komoditas premium setempat.

Dampaknya berpotensi menjangkau seluruh ekosistem, bukan hanya petani yang mengoperasikan alat. Pertanian Subak Sembung dikelola 185 petani dan memberi dampak ekonomi langsung kepada lebih dari 400 warga; kawasan itu juga memiliki jalur joging sepanjang 2,4 kilometer dan 43 titik lampu otomatis bertenaga SIUMA. Perpaduan pertanian dan wisata tersebut dikaitkan dengan pendapatan kelompok lebih dari Rp585 juta per tahun. Angka itu menunjukkan bahwa kemandirian energi petani dapat membuka ruang ekonomi tambahan, meski keberlanjutannya tetap bergantung pada pengelolaan bersama.

Energi Bersama Membantu Petani Menekan Biaya dan Menguatkan Kemandirian

Kemandirian dibangun, bukan sekadar dipasok

Kisah Uma Palak Lestari memperlihatkan alasan energi bersih layak dinilai dari manfaat sosial dan produktifnya sekaligus. Program ini bagian dari Desa Energi Berdikari yang dikembangkan Pertamina, tetapi ukuran keberhasilannya bukan hanya keberadaan panel surya atau mikrohidro: yang lebih penting ialah apakah petani dapat mengairi lahan, mengoperasikan alat, dan mengolah hasil dengan ketergantungan biaya yang lebih rendah. Ketika akses energi mendukung langkah-langkah itu, komunitas memperoleh kendali lebih besar atas kegiatan pertanian dan peluang pendapatannya.

Model Serangan dan Subak Sembung menampilkan dua sisi yang saling melengkapi: warga sebagai pelaku pengembangan teknologi dan energi yang diterapkan langsung untuk kebutuhan sawah. Keduanya bukan alasan untuk menganggap satu prototipe dapat menjawab semua masalah desa; justru pendekatan lokal dan keterlibatan masyarakat perlu menjadi syarat replikasi. Kesimpulannya, energi komunal paling bernilai ketika menurunkan beban operasional sekaligus memperkuat kemampuan warga mengelola kebutuhan sendiri. Dengan ukuran itu, energi terbarukan bukan proyek tambahan, melainkan bagian dari fondasi produktivitas dan kemandirian komunitas petani.

Energi Bersama Membantu Petani Menekan Biaya dan Menguatkan Kemandirian

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!