Energi bersih menjadi bagian dari sistem irigasi
SIUMA adalah sistem irigasi berbasis energi terbarukan yang memadukan panel surya, kincir mikrohidro, dan sensor kelembapan tanah untuk mengalirkan air sesuai kebutuhan lahan. Di Uma Palak Lestari, Subak Sembung, Denpasar Utara, pendekatan ini menjawab persoalan nyata: pasokan air yang terbatas saat musim kemarau dapat mengancam produktivitas sawah. Sistem tersebut memanfaatkan kembali air sungai dan menyediakan energi untuk pengairan, kegiatan usaha tani, serta penerangan di area persawahan seluas 10,26 hektar.
Nilai utama SIUMA bukan sekadar penggunaan teknologi baru, melainkan hubungan langsung antara energi dan kebutuhan petani. Sensor membantu menentukan petak yang perlu diairi, sehingga distribusi air lebih tepat sasaran dan tidak terbuang. Inilah bentuk energi surya irigasi yang praktis: teknologi bekerja untuk mengatasi keterbatasan air, bukan menjadi proyek yang terpisah dari keseharian sawah.

Penghematan biaya harus terasa sampai ke lahan
Bagi petani, kemandirian energi baru berarti jika beban operasional ikut turun. Di Uma Palak Lestari, traktor diesel mulai digantikan traktor listrik berbaterai yang dapat diisi menggunakan listrik dari panel surya dan mikrohidro. Perubahan ini mengurangi pemakaian bahan bakar dan memungkinkan petani mengisi daya secara mandiri tanpa tambahan biaya listrik.
Manfaatnya juga meluas ke tahap setelah panen. Mesin giling padi elektrik berkapasitas hingga 200 kilogram per jam mendukung pengolahan hasil, termasuk beras Mentik Susu yang bernilai premium. Jadi, mikrohidro untuk sawah bukan hanya soal memompa atau mengalirkan air; bersama energi surya, pasokan listrik bersih dapat menopang alat kerja dari pengolahan lahan hingga pengolahan gabah.
Skalanya sudah menyentuh kehidupan warga: 185 petani mengelola kegiatan pertanian di Subak Sembung, yang memberi dampak ekonomi langsung kepada lebih dari 400 warga. KUB bersama petani lokal mencatat pendapatan lebih dari Rp585 juta per tahun. Angka itu menunjukkan bahwa irigasi petani Bali dapat menjadi pintu masuk untuk membangun ekonomi yang lebih luas, asalkan pengelolaan, perawatan, dan manfaat teknologi tetap berada dekat dengan komunitas.

Inovasi komunitas tidak berhenti di Uma Palak
Energi terbarukan desa akan lebih bertahan jika warga ikut merancang, menguji, dan memahami teknologinya. Di Serangan, inisiatif Desa Utak Atik yang digagas CAST Foundation dan Fab Lab Bali berkembang dari program Desa Hidrogen Hijau. Setelah fase awal selama dua tahun, wadah pengembangan energi terbarukan berbasis komunitas itu diperkenalkan pada Desember 2025.
Modelnya menempatkan masyarakat sebagai pelaku inovasi, bukan sekadar penerima perangkat. Peneliti dan inovator lokal maupun internasional terlibat dalam kegiatan lintas bidang, sementara lokakarya bulanan selama dua tahun mengajak kelompok anak-anak di salah satu banjar Serangan belajar secara berkelanjutan. Keterlibatan kemudian diperluas kepada kelompok pemuda, banjar lain, dan nelayan. Edukasi, riset, dan pengembangan prototipe memberi desa ruang untuk menyesuaikan teknologi dengan kebutuhan setempat.
Kedua contoh ini menggarisbawahi hal penting: peralatan bersih saja tidak cukup. Keberhasilan memerlukan pengetahuan lokal, pengelola yang aktif, dan manfaat ekonomi yang dapat dirasakan warga. Secara nasional, Pertamina telah mengembangkan 310 titik Desa Energi Berdikari. Tantangan berikutnya ialah memastikan setiap titik memperkuat kemampuan komunitas dalam mengelola energi dan mempertahankan layanan, bukan hanya menambah jumlah proyek.
Kemandirian ditentukan oleh pengelolaan jangka panjang
SIUMA memperlihatkan bagaimana energi surya dan mikrohidro dapat menjawab kebutuhan irigasi sekaligus menekan ketergantungan petani pada bahan bakar dan listrik berbayar. Di Subak Sembung, penerangan otomatis juga mendukung jalur joging sepanjang 2,4 kilometer dan aktivitas warga, mempertemukan pertanian dengan peluang agrowisata.
Namun, teknologi tidak otomatis menjamin kemandirian. Sistem irigasi perlu dirawat, manfaatnya dibagi secara adil, dan warga perlu memiliki keterampilan untuk mengoperasikannya. Bila syarat itu dijaga, SIUMA dan inisiatif komunitas seperti Desa Utak Atik menawarkan arah yang patut diperluas: energi bersih bukan pajangan, melainkan sarana untuk menjaga sawah, menekan biaya, dan memperkuat ekonomi petani dari hulu hingga pascapanen.






