Pengetahuan lingkungan harus berujung pada kebiasaan
Edukasi lingkungan sekolah adalah proses membangun pengetahuan dan kebiasaan agar siswa mampu menjaga kebersihan, mengelola sampah, serta melindungi alam di sekitar mereka. Nilainya paling besar ketika pelajaran tidak berhenti di ruang sosialisasi, tetapi diterapkan dalam keseharian. Pendekatan itu tampak dalam dua kegiatan berbeda: sosialisasi bagi siswa SMA Negeri 1 Siantar Narumonda dan Jumat Bersih di SMP Negeri 6 Lahat. Perum Jasa Tirta, PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM), dan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Utara mengadakan sosialisasi dan penyuluhan Sekolah Peduli Lingkungan di SMA tersebut pada Rabu, 4 November 2026. Sementara itu, SMP Negeri 6 Lahat menggelar Jumat Bersih pada Jumat, 6 November. Keduanya memperlihatkan bahwa kepedulian lingkungan siswa dapat tumbuh melalui dua jalur yang saling melengkapi: memahami persoalan dan berlatih mengambil tanggung jawab.
Sosialisasi menghubungkan halaman sekolah dengan Danau Toba
Kekuatan pendekatan mitra eksternal adalah kemampuannya memperluas pandangan siswa: sampah di sekitar sekolah bukan perkara lokal yang berhenti di pagar. Perwakilan Perum Jasa Tirta, Rijal Hasibuan, menjelaskan bahwa sampah yang masuk selokan dapat terbawa ke Sungai Aek Bolon dan akhirnya bermuara di Danau Toba. Dengan hubungan sebab-akibat yang nyata, pesan menjaga kebersihan menjadi lebih bermakna daripada imbauan umum. Kegiatan di Siantar Narumonda juga mendorong siswa memahami pengelolaan sampah dan pelestarian ekosistem Danau Toba. Urgensinya terasa dekat bagi sekolah yang sebelumnya sempat mengadakan pembelajaran daring karena kondisi udara terdampak asap. Kepala sekolah berharap warga sekolah menjaga kebersihan serta menghijaukan lingkungan dengan bunga dan tanaman bermanfaat, termasuk tanaman pendukung ketahanan pangan. Sosialisasi memberi konteks penting; tantangannya adalah memastikan pengetahuan itu menjadi tindakan yang terus dilakukan.
Jumat Bersih membentuk tanggung jawab bersama
Berbeda dari penyuluhan yang terutama menyampaikan pengetahuan, Jumat Bersih sekolah mengajak siswa belajar melalui kerja langsung. SMP Negeri 6 Lahat mengadakan kegiatan rutin itu untuk menjaga lingkungan tetap bersih, sehat, dan nyaman, dengan melibatkan warga sekolah. Kepala sekolah Rahmi Parianti menekankan bahwa kebersihan bukan hanya urusan ruang kelas, melainkan tanggung jawab bersama di seluruh area sekolah. Kebiasaan semacam ini mengajarkan disiplin, gotong royong, dan kepedulian melalui tindakan yang terlihat hasilnya. Ada manfaat praktis pula: lingkungan sekolah yang bersih dan nyaman mendukung suasana belajar yang kondusif. Karena itu, kegiatan rutin bukan pelengkap acara sekolah. Jika dilakukan konsisten, Jumat Bersih membantu mengubah kebersihan dari tugas sesaat menjadi bagian dari perilaku sehari-hari siswa. Keberlanjutan agenda ini juga menjadi harapan kepala sekolah agar kenyamanan dan kerapian lingkungan tetap terjaga.
Gabungkan pemahaman dengan praktik
Kedua model paling efektif bukan ketika diperlakukan sebagai pilihan yang bersaing, melainkan saat saling menguatkan. Sosialisasi menjelaskan mengapa sampah dan kebiasaan manusia berdampak pada sungai serta danau; kegiatan rutin memberi siswa kesempatan mempraktikkan tanggung jawab di lingkungannya sendiri. Dalam sosialisasi di Siantar Narumonda, Dinas Lingkungan Hidup juga mendorong aksi seperti membersihkan lingkungan, mengolah sampah, serta menjaga konservasi air dan energi. Sekolah berharap siswa terus menanam bunga dan tanaman bermanfaat, sedangkan Jumat Bersih di Lahat dirancang sebagai agenda rutin. Perbedaan bentuk kegiatan ini justru memperlihatkan bahwa edukasi lingkungan sekolah perlu hadir sebagai pengetahuan sekaligus kebiasaan. Sekolah yang hanya memberi ceramah berisiko membuat pesan cepat terlupakan; kegiatan bersih-bersih tanpa pemahaman juga dapat kehilangan konteks. Kesimpulannya, kepedulian tumbuh kuat ketika siswa tahu dampak tindakannya dan mendapat ruang untuk bertindak.






