Kepedulian sosial perlu dilatih, bukan sekadar diajarkan
Kepedulian sosial siswa adalah kemampuan mengenali kebutuhan orang lain dan meresponsnya dengan tindakan nyata, yang dapat tumbuh melalui kebiasaan berbagi serta pengalaman terlibat dalam kegiatan masyarakat. Dua program di Jepara dan Sumenep memperlihatkan cara sekolah membentuk kebiasaan itu: satu mengajak pelajar menyisihkan uang saku, satu lagi mengumpulkan barang untuk panti asuhan. Keduanya lebih bermakna daripada pelajaran moral yang berhenti sebagai nasihat, sebab siswa berhadapan langsung dengan pilihan dan tanggung jawab untuk membantu. Pemkab Jepara mendorong gerakan Pekan Peduli Sosial (PPS) 2026 agar pelajar belajar berbagi sejak bangku sekolah. Peluncurannya berlangsung di SMPN 1 Kedung pada 2 November 2026, dengan ajakan agar siswa membantu sesuai kemampuan. Pesan pentingnya bukan besarnya sumbangan, melainkan terbentuknya kebiasaan memberi secara sukarela.
PPS mengubah uang saku menjadi pelajaran solidaritas
PPS yang diinisiasi BAZNAS Kabupaten Jepara berlangsung selama sepekan, 2–9 November 2026, dan menyasar peserta didik dari PAUD hingga perguruan tinggi. Ajakan menyisihkan uang saku disesuaikan dengan jenjang: Rp1.000 per hari untuk PAUD, TK/RA, dan SD/MI; Rp2.000 untuk SMP/MTs serta SMA/MA/SMK; dan Rp3.000 untuk mahasiswa. BAZNAS menegaskan keikutsertaan bukan kewajiban, sehingga nilai pendidikannya bergantung pada kesukarelaan, bukan tekanan. Pembagian hasilnya juga menghubungkan latihan berbagi dengan manfaat yang dapat dirasakan: 50 persen dikembalikan kepada sekolah atau kampus untuk kegiatan sosial setempat, sedangkan 50 persen dikelola BAZNAS Jepara untuk membantu masyarakat, termasuk melalui bantuan panti asuhan, beasiswa, serta dukungan bagi warga terdampak musibah dan bencana.
PPS mengumpulkan Rp1,07 miliar pada 2023, naik menjadi Rp1,43 miliar pada 2024, lalu tercatat Rp1,26 miliar pada 2025. Angka itu menunjukkan gerakan ini mampu menghimpun dukungan besar, tetapi ukuran keberhasilannya seharusnya juga mencakup apakah kebiasaan berbagi terus hidup setelah pekan kegiatan berakhir. Pada peluncuran 2026, BAZNAS Jepara menyalurkan beasiswa kepada 40 siswa di empat lokasi. Dukungan bagi teman sebaya yang kesulitan mengakses pendidikan memberi tujuan yang dekat dan konkret bagi ajakan menyisihkan uang saku.
Valuable Box membawa siswa dari kelas ke panti asuhan
Di Sumenep, Organisasi Pelajar Hidayatullah (OPH) SMP Integral Luqman Al Hakim menjalankan pendekatan yang lebih langsung melalui Valuable Box. Siswa dari berbagai kelas mengumpulkan barang layak pakai dan kebutuhan sehari-hari, termasuk pakaian, buku bacaan, beras, serta minyak goreng. Bantuan itu kemudian disalurkan kepada anak yatim dan penghuni Panti Asuhan Al Istiqomah di Perum Satelit, Pabian, Kota Sumenep. Berbeda dari PPS yang menekankan penyisihan uang saku dalam gerakan bersama, Valuable Box mengajak siswa memilih dan menyumbangkan barang yang bisa digunakan orang lain. Kedua cara ini sama-sama menolak anggapan bahwa membantu harus menunggu seseorang kaya. Nilai tambahnya, siswa tak hanya mendengar tentang solidaritas, tetapi ikut menjalankan proses pengumpulan dan penyaluran bantuan.
Dukungan sekolah terhadap inisiatif OPH menegaskan bahwa pendidikan karakter tak harus terbatas pada ruang kelas. Pengalaman memberi dan bertemu dengan kebutuhan masyarakat membantu siswa memahami tanggung jawab sebagai anggota komunitas. Bantuan yang diterima panti memberi dampak praktis bagi penghuninya, sementara pengalaman mengorganisasi donasi memberi pelajaran bagi para siswa. Agar program sosial sekolah seperti ini tidak menjadi kegiatan sekali jalan, sekolah perlu menjaga kesinambungan dan melibatkan siswa dalam perencanaan, bukan hanya pengumpulan barang. Dengan begitu, kepedulian tumbuh sebagai kebiasaan yang disertai pemahaman, bukan sekadar respons sesaat.

Dua pendekatan, satu pelajaran yang harus berlanjut
PPS Jepara dan Valuable Box Sumenep menawarkan dua jalur yang saling melengkapi: berbagi sedikit tetapi rutin, serta mengumpulkan bantuan yang segera disalurkan kepada penerima. Keduanya menunjukkan bahwa program sekolah dapat membuat solidaritas terasa dekat, baik ketika penerimanya teman sebaya yang menghadapi hambatan pendidikan maupun anak-anak di panti asuhan. Namun, besarnya dana atau banyaknya barang bukan satu-satunya tolok ukur. Program yang berhasil juga menanamkan pilihan sukarela, menjelaskan ke mana bantuan disalurkan, dan memberi siswa kesempatan untuk terlibat langsung. Kesimpulannya, sekolah paling efektif menumbuhkan kepedulian sosial bukan dengan meminta siswa menghafal nilai kebaikan, melainkan dengan membangun ruang aman dan teratur untuk mempraktikkannya. Kebiasaan kecil yang terus diulang dapat menjadi solidaritas yang bertahan jauh setelah kegiatan selesai.






