Apa arti wajib belajar 13 tahun?
Wajib belajar 13 tahun adalah kebijakan yang menambahkan satu tahun pendidikan prasekolah bagi anak usia 5–6 tahun sebelum mereka memasuki sekolah dasar. Intinya bukan mendorong anak lebih cepat mengejar pelajaran SD, melainkan memberi mereka waktu untuk mengenal lingkungan belajar dan tumbuh bersama teman sebaya. Pemerintah Kota Surabaya menerangkan bahwa tambahan prasekolah ini berfokus pada kegiatan bermain sambil belajar untuk membentuk karakter anak. Karena penerapan kebijakan dapat berbeda antardaerah, orang tua sebaiknya mencari tahu aturan dan layanan yang berlaku di wilayah masing-masing. Di Surabaya, pemerintah kota menyatakan pendidikan sejak jenjang PAUD menjadi bagian dari program wajib belajar setempat. Jadi, istilah pendidikan PAUD wajib perlu dipahami dalam konteks pelaksanaan daerah, bukan sebagai alasan untuk memaksa anak menjalani pembelajaran akademik yang belum sesuai usianya.
PAUD adalah fondasi, bukan kelas calistung dini
Menganggap PAUD sekadar tempat bermain berarti melewatkan peran pentingnya. Masa usia dini merupakan periode perkembangan yang berharga, ketika anak belajar berkomunikasi, mengelola emosi, mengikuti kegiatan bersama, dan membangun kemandirian. Pemerintah Kota Surabaya menyebut PAUD sebagai masa emas perkembangan serta menekankan pembentukan karakter sebelum anak masuk SD. Namun, fondasi ini tidak dibangun dengan membebani anak agar lancar membaca, menulis, dan berhitung sejak dini. Di PAUD, huruf dan angka dikenalkan bertahap; kegiatan bermain, lagu, dan interaksi sosial memberi anak ruang belajar sesuai tahap tumbuh kembangnya. Pendekatan Holistik Integratif juga menghubungkan pembelajaran di kelas dengan pola asuh di rumah. Artinya, persiapan anak SD seharusnya mencakup kesiapan sosial, emosional, dan kognitif—bukan sekadar kemampuan mengerjakan latihan akademik.

Yang bisa disiapkan orang tua
Orang tua tidak perlu menunggu hari pertama sekolah untuk mendukung kesiapan anak. Mulailah dengan membiasakan rutinitas sederhana, mengajak anak membaca bersama, bermain bergiliran, berbicara tentang perasaannya, serta memberi kesempatan melakukan tugas kecil secara mandiri. Sebelum memilih PAUD, tanyakan bagaimana kegiatan harian dirancang, bagaimana guru mendampingi anak yang belum terbiasa berpisah dari keluarga, dan bagaimana orang tua dilibatkan. Kebijakan pendidikan anak usia dini juga perlu didukung akses yang nyata, bukan hanya sosialisasi. Banjarnegara telah mengadakan sosialisasi dan advokasi agar pemangku kepentingan memahami pelaksanaan satu tahun prasekolah. Surabaya mengoptimalkan pendataan anak usia 5–6 tahun hingga tingkat kecamatan dan kelurahan untuk memperluas akses, serta menyiapkan beasiswa PAUD melalui program Kampung Pancasila. Tanyakan kepada layanan setempat tentang pilihan PAUD dan dukungan yang tersedia bila biaya, transportasi, atau kebutuhan inklusif menjadi kendala.
Kesimpulan: utamakan kesiapan, bukan tekanan
Tambahan satu tahun prasekolah dapat menjadi jembatan yang membantu anak beradaptasi dengan rutinitas, aturan, dan suasana belajar di SD. Di Banjarnegara, pemerintah daerah menyoroti bahwa pengalaman PAUD dapat membantu menyiapkan mental dan kemampuan kognitif anak. Manfaat itu lebih mungkin tercapai ketika kegiatan sesuai usia dan keluarga ikut mendukung prosesnya. Karena itu, orang tua sebaiknya memandang wajib belajar 13 tahun sebagai dorongan untuk memastikan anak memperoleh pengalaman PAUD yang bermakna, bukan perlombaan agar anak menguasai calistung lebih cepat. Cari layanan yang memperhatikan perkembangan anak secara menyeluruh, bangun kebiasaan positif di rumah, dan komunikasikan kebutuhan anak dengan pendidik. PAUD yang baik membantu anak masuk SD dengan rasa aman, rasa ingin tahu, dan kemampuan bergaul. Itulah ukuran persiapan yang patut didahulukan.






