AI Masuk Kelas Agama: Transformasi Digital yang Bernuansa Iman
Pelatihan kecerdasan buatan untuk guru Pendidikan Agama Islam adalah program pembinaan terstruktur yang membekali pendidik dengan kecakapan digital, literasi AI, dan desain pembelajaran agama digital, sehingga mereka mampu memanfaatkan teknologi sebagai alat kolaboratif untuk menguatkan pemahaman keagamaan, membangun karakter peserta didik, dan menjaga nilai-nilai iman di tengah arus transformasi digital yang makin cepat.
Pelatihan guru PAI dan AI yang digelar berbagai kantor wilayah Kemenag di Aceh bukan sekadar ikut tren teknologi; ini adalah pernyataan politik pendidikan bahwa agama tidak boleh tertinggal dari perubahan digital. Di Aceh Timur, pembinaan bertema implementasi AI sebagai tools dalam pembelajaran PAI dibuka oleh Kakankemenag Saiful Bahri, dengan peserta sekitar 60 orang dari total kurang lebih 900 guru PAI di kabupaten tersebut. Angka ini menegaskan bahwa program masih bertahap, tetapi arahnya jelas: membangun inti guru pelopor yang akan menularkan praktik baru ke rekan-rekan mereka. Ketika negara lain ribut soal AI menggantikan guru, Kemenag justru memposisikan AI sebagai mitra pedagogis, bukan pengganti otoritas keilmuan dan keimanan.
Aceh Timur, Aceh Besar, Subulussalam: Pola Pelatihan yang Sistematis
Jika dilihat bersama, pembinaan guru PAI di Aceh Timur, Aceh Besar, dan Kota Subulussalam membentuk pola yang jelas: Kemenag transformasi digital bukan jargon, tetapi strategi yang sedang dijalankan lapis demi lapis. Di Aceh Timur, tema pelatihan langsung menyebut AI sebagai alat dalam pembelajaran PAI, dengan harapan guru mampu mengimplementasikan teknologi ini secara bijak untuk meningkatkan kualitas pendidikan agama dan melahirkan peserta didik yang cerdas serta adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Di Aceh Besar, sekitar 50 guru PAI dibekali keterampilan memanfaatkan AI sebagai alat bantu pembelajaran, pelatihan dibuka oleh Kepala Kankemenag Saifuddin di Aula SMPN 3 Ingin Jaya. Di Subulussalam, 50 guru PAI mengikuti pembinaan implementasi AI dalam pembelajaran yang digelar Bidang PAI Kanwil, dengan narasumber yang menekankan AI sebagai sarana kolaborasi, bukan pengganti guru. Formatnya serupa: jumlah peserta sekitar 50–60 per sesi, ruang aula pendidikan, dan fokus pada pemanfaatan konkret aplikasi AI. Ini menunjukkan pendekatan modular: Kemenag mencicil transformasi, membangun kompetensi inti guru lewat kelas-kelas intensif, daripada memaksakan paket pelatihan massal yang sering berakhir seremonial.

AI sebagai Alat, Bukan Tuhan Baru di Kelas Agama
Sikap para pejabat Kemenag di Aceh cukup tegas: AI adalah alat, bukan otoritas baru yang boleh menguasai guru maupun siswa. Saiful Bahri mengingatkan guru PAI agar mampu menguasai AI, bukan sebaliknya, dan menggunakannya untuk mendukung proses belajar mengajar, bukan bergantung penuh padanya. Pesan ini penting karena pembelajaran agama digital selalu memunculkan kekhawatiran: apakah algoritma akan mengaburkan sumber rujukan, apakah kecepatan konten akan menyingkirkan kedalaman tafsir?
Di Subulussalam, narasumber Tatang Laksamana menegaskan AI sebagai sarana kolaborasi yang memudahkan pembuatan video animasi, poster, soal, dan inovasi pembelajaran lain, dengan syarat prompt yang baik, etika, dan keamanan penggunaan AI dijaga. AI di sini diposisikan sebagai penguat kreativitas, bukan pengganti otoritas guru dalam menyaring mana informasi yang sesuai dengan akidah, fiqh, dan akhlak. Pendekatan ini sehat: murid belajar kritis, guru tetap penjaga nilai. Tanpa sikap seperti ini, kelas agama berisiko menjadi sekadar ruang konsumsi konten digital, bukan ruang pembentukan hati dan pikiran.

Dari Poster Anti-Bullying ke Akhlak Digital: Dampak Nyata bagi Siswa
Yang membuat program pelatihan kecerdasan buatan ini menarik adalah fokus konkretnya pada problem sosial anak-anak. Kabid PAI Kemenag Aceh, Aida Rina Elisiva, menjelaskan bahwa tujuan pembinaan adalah agar AI dimanfaatkan sebagai alat bantu guru PAI dalam mengedukasi dan membangun karakter peserta didik. Salah satu fokusnya ialah pencegahan perundungan di media sosial dan edukasi mengenai perilaku seksual berisiko, termasuk LGBT, melalui perancangan poster menggunakan aplikasi AI. Ini menyambungkan teknologi langsung ke isu moral yang dihadapi siswa.
Selain itu, pelatihan di Subulussalam memperkenalkan berbagai pemanfaatan AI: personalisasi materi, efisiensi penyusunan bahan ajar dan penilaian, pengembangan media interaktif, serta perluasan akses sumber belajar. Secara praktis, kelas PAI bisa berubah dari ceramah satu arah menjadi ruang interaktif dengan video, visual, dan latihan yang disesuaikan kebutuhan murid. Menurut Saifuddin, kecerdasan sains dan teknologi harus berjalan beriringan dengan pendidikan karakter dan akhlak, karena "tidak ada gunanya siswa-siswi kita cerdas secara sains, tapi akhlak nol". Guru PAI yang melek AI punya peluang lebih besar membentuk akhlak digital murid: bukan hanya tahu apa yang haram dan makruh, tetapi paham risiko perundungan, pelecehan, dan perilaku asusila di ruang online.
Mengapa Strategi Kemenag terhadap AI Patut Didukung
Pada level kebijakan, langkah Kemenag menata guru PAI dan AI sebagai pasangan pedagogis mencerminkan kesadaran bahwa generasi mendatang akan hidup dalam ekosistem algoritma. Kegiatan di Subulussalam bahkan secara eksplisit mengusung semangat transformasi digital pendidikan agama, dibuka oleh Kepala Seksi Pendidikan Islam dengan dukungan para pengawas dan staf pendis. Di sisi lain, Saifuddin menegaskan bahwa tujuan utama pendidikan agama tetap membentuk siswa berakhlak unggul. Ini adalah garis merah yang harus dijaga: teknologi mengikuti nilai, bukan menjadikannya usang.
Secara kritis, program ini belum sempurna: di Aceh Timur, hanya 60 dari sekitar 900 guru yang baru ikut pembinaan. Namun pendekatan bertahap dengan pelatihan intensif 50–60 guru per sesi memberi ruang praktik nyata, bukan sekadar sertifikat. Selama Kemenag terus memperluas jangkauan dan memastikan pelatihan tidak hanya teknis, tetapi menanamkan etika, fiqh media sosial, dan literasi keagamaan yang kuat, strategi Kemenag transformasi digital layak didukung. Di tengah dunia yang makin dipandu AI, kelas PAI yang kreatif dan sadar teknologi bukan kemewahan; itu kebutuhan dasar untuk menyiapkan generasi yang cakap digital tetapi tetap berpegang pada iman dan akhlak.






