Mengapa Upskilling Digital Guru Tidak Bisa Ditunda
Pelatihan coding guru dan program AI pendidikan adalah rangkaian upaya terstruktur untuk meningkatkan kompetensi pendidik dalam merancang, mengelola, dan mengevaluasi pembelajaran berbasis teknologi, termasuk pembelajaran berbasis kecerdasan buatan, agar proses belajar menjadi lebih relevan dengan kehidupan digital peserta didik dan tetap menempatkan guru sebagai aktor utama yang mengarahkan penggunaan teknologi secara etis, kreatif, dan bermakna. Di tengah derasnya arus aplikasi, platform, dan alat berbasis kecerdasan buatan, mengabaikan upskilling pendidik digital sama saja membiarkan kelas tertinggal beberapa langkah dari dunia nyata. Guru yang lemah literasi digital cenderung menjadikan teknologi sekadar pajangan, bukan alat pedagogis. Karena itu, pelatihan coding guru dan pemanfaatan AI bukan pelengkap, melainkan syarat minimum agar sekolah mampu bertahan di era transformasi digital yang semakin menuntut kreativitas dan adaptasi cepat.
Probolinggo: Coding dan AI Masuk ke Kelas PAUD
Langkah paling berani muncul dari pendidikan anak usia dini: 209 guru PAUD di Kota Probolinggo mengikuti bimbingan teknis penguatan model pembelajaran berbasis coding dan kecerdasan buatan selama dua hari, 12–13 Agustus 2026, di Ballroom Hotel Pasebansena. Ketika banyak orang masih ragu mengenalkan teknologi pada anak kecil, Dinas Pendidikan setempat memilih pendekatan yang lebih cerdas: bukan menjejali materi rumit, tetapi menjadikan konsep coding sebagai permainan, pola, logika, dan kegiatan kreatif yang dekat dengan dunia anak. Pengenalan AI pun diarahkan sebagai alat untuk membantu guru membuat media pembelajaran yang lebih kreatif dan menarik, bukan sekadar memamerkan kecanggihan teknologi. Sikap ini penting: yang ditingkatkan bukan gadget, melainkan kapasitas guru mengemas teknologi menjadi pengalaman belajar yang aman, menyenangkan, dan sesuai tahap perkembangan. Rencana lomba inovasi media pembelajaran PAUD dan pendidikan nonformal pada September mendatang menjadi bukti bahwa pelatihan ini tidak berhenti di sertifikat, tetapi didorong menghasilkan karya nyata guru.

Sibolga: Kolaborasi PGRI dan Disdik Menggerakkan Guru
Di Sibolga, pelatihan coding dan Artificial Intelligence bagi guru digelar melalui kolaborasi PGRI kota dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di SMPN 5 Sibolga. Ini bukan kegiatan seremonial; ia ditempatkan sebagai bagian dari program prioritas “Sibolga Power” yang bertujuan meningkatkan kompetensi guru menghadapi perkembangan teknologi di dunia pendidikan. Kepala dinas menegaskan bahwa guru hari ini dituntut tidak hanya menguasai materi ajar, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi untuk menciptakan pembelajaran yang menarik dan bermakna bagi peserta didik. Di sini terlihat pergeseran posisi guru: bukan penerima kebijakan, melainkan subjek perubahan. Ketika Ketua PGRI kota menyatakan bahwa AI bukan lagi teknologi masa depan, melainkan bagian dari kehidupan pendidikan hari ini, pesan pentingnya jelas—guru tidak boleh berhenti pada menjadi pengguna pasif. Peluncuran program “Sejuta Guru Mahir Coding dan Artificial Intelligence” di tingkat nasional menjadi latar kuat mengapa pelatihan seperti ini mendesak, bukan opsional.
Lebong: Dosen UMB Mengajarkan Guru SMP “Berteman” dengan AI
Jika Probolinggo dan Sibolga menekankan pengenalan coding dan AI, tim dosen Universitas Muhammadiyah Bengkulu di SMP Negeri 9 Lebong melangkah lebih jauh: mengajak guru SMP “berteman” dengan AI melalui program Pelatihan Literasi Digital dan Pemanfaatan AI sebagai Asisten Pembelajaran untuk Meningkatkan Kualitas Pengajaran Guru SMP. Pendekatannya tegas: AI ditempatkan sebagai asisten, bukan pengganti guru. Alih-alih berhenti pada definisi, guru diajak mempraktikkan langsung bagaimana AI membantu merancang pembelajaran, membuat bahan ajar, menyusun soal dan asesmen, serta melakukan refleksi pembelajaran. Masalah utama yang mereka jawab bukan kurangnya perangkat—akses internet, laptop, dan gawai sudah ada—melainkan kebingungan mengoptimalkan teknologi digital untuk pembelajaran. Karena itu, guru dikenalkan pada literasi digital, etika penggunaan teknologi, keamanan data, platform pembelajaran digital, hingga penerapan AI yang kontekstual sesuai kebutuhan kelas. Menariknya, program ini tidak berhenti ketika pelatihan usai; guru akan terus didampingi dalam menerapkan AI secara nyata, memvalidasi media, melakukan micro-teaching, hingga mengevaluasi dampak penggunaan AI terhadap pembelajaran.
Pelatihan Coding dan AI: Ujian Serius Komitmen Institusi Pendidikan
Rangkaian pelatihan coding guru dan program AI pendidikan di Probolinggo, Sibolga, dan Lebong menunjukkan satu hal: institusi pendidikan mulai memahami bahwa kualitas sekolah di era digital ditentukan oleh keberanian meng-upskilling pendidik, bukan sekadar membeli perangkat baru. Di Probolinggo, Dinas Pendidikan menegaskan bahwa guru di zaman serba digital harus melek teknologi dan terus belajar mengikuti perkembangan zaman demi meningkatkan kualitas pendidikan dan mencerdaskan anak bangsa. Di Sibolga, pemerintah kota melalui Dinas Pendidikan berkomitmen mendukung setiap upaya peningkatan kompetensi guru dan berharap ilmu hasil pelatihan benar-benar diimplementasikan di sekolah. Di Lebong, perguruan tinggi hadir sebagai mitra yang memberikan kontribusi nyata menjawab tantangan pendidikan di era digital. Jika komitmen ini konsisten, pembelajaran berbasis kecerdasan buatan dapat menjadi alat yang meringankan beban teknis guru sehingga mereka memiliki lebih banyak ruang untuk fokus pada hal paling penting: memahami peserta didik dan merancang pengalaman belajar yang relevan, humanis, dan siap menghadapi masa depan digital.






