Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Guru PAI Kuasai Keterampilan AI: Dari Koding ke Kelas

Guru PAI Kuasai Keterampilan AI: Dari Koding ke Kelas
Minat|Eksplorasi Aplikasi AI

AI Masuk Kelas Agama: Transformasi yang Tak Bisa Ditunda

Pelatihan AI pendidikan Islam adalah serangkaian program terstruktur yang membekali guru Pendidikan Agama Islam dan guru madrasah dengan keterampilan koding, pemanfaatan kecerdasan artifisial, serta literasi digital agar mereka mampu mengintegrasikan pembelajaran berbasis AI ke dalam kelas, menyusun media ajar, mengelola kelas, dan menangani persoalan sosial-keagamaan siswa secara lebih efektif dan kontekstual. Inisiatif ini bukan tambahan kosmetik, tetapi upaya sadar mengubah cara guru agama bekerja di era teknologi yang menguasai kehidupan siswa. Jika dulu buku dan papan tulis menjadi alat utama, kini guru PAI keterampilan AI menjadi syarat untuk tetap relevan, didengar, dan mampu menuntun generasi yang tumbuh bersama gawai dan algoritma. Literasi digital guru agama tidak lagi kemewahan, melainkan bagian dari akhlak profesional.

Barsela: Koding dan AI Jadi Kompetensi Dasar Guru Madrasah

Di wilayah Barat Selatan Aceh, 65 guru MIN mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) yang digelar Bidang Pendidikan Madrasah Kantor Wilayah Kementerian Agama Aceh di Meulaboh pada 17–19 Juni 2026. Program ini secara terang menyatakan bahwa guru madrasah tidak boleh gagap digital. Materi yang diberikan bukan teori abstrak, tetapi kebijakan, konsep dasar koding, pemanfaatan AI, hingga implementasinya dalam pembelajaran di madrasah. Ini artinya, koding dan AI diperlakukan sebagai keterampilan pedagogis, bukan hobi teknis. Apalagi, Koding dan Kecerdasan Artifisial sudah ditetapkan sebagai mata pelajaran pilihan resmi dalam struktur kurikulum madrasah melalui KMA Nomor 1503 Tahun 2025. Tanpa pelatihan seperti ini, kebijakan hanya akan tinggal di atas kertas. Dengan penguatan literasi digital dan pembelajaran berbasis AI, guru MIN dipaksa naik kelas menjadi perancang ekosistem belajar yang lebih adaptif.

Guru PAI Kuasai Keterampilan AI: Dari Koding ke Kelas

Aceh Besar: AI Dipakai Mengajar Akhlak, Bukan Menggeser Nilai

Di Aceh Besar, sekitar 50 guru PAI dibekali keterampilan memanfaatkan AI sebagai alat bantu dalam pembelajaran, dalam pembinaan bertema implementasi AI sebagai tools pendidikan agama Islam yang dibuka di Aula SMPN 3 Ingin Jaya pada 3 September 2026. Ini bukan sekadar upgrade teknis, tetapi reposisi peran guru PAI di tengah banjir konten digital. Saifuddin menegaskan bahwa perkembangan teknologi menuntut guru bukan hanya mengikuti perubahan, tetapi bijak menggunakannya. AI digunakan untuk menghadirkan materi lebih menarik dan kreatif, misalnya pembuatan poster dengan AI untuk kampanye anti-perundungan dan edukasi perilaku seksual berisiko atau LGBT. Di sini pembelajaran berbasis AI diarahkan ke isu nyata yang dihadapi siswa di media sosial, sekaligus menguatkan akhlak. “Tidak ada gunanya siswa-siswi kita cerdas secara sains, tapi akhlak nol. Itu akan mengundang bencana, kejahatan dan ancaman lainnya,” ujar Saifuddin. Pesan ini jelas: teknologi dipakai sebagai jalan masuk dakwah, bukan pengganti tujuan pendidikan agama.

Guru PAI Kuasai Keterampilan AI: Dari Koding ke Kelas

Subulussalam: AI Sebagai Rekan Kolaborasi, Bukan Guru Pengganti

Di Kota Subulussalam, 50 guru PAI mengikuti pembinaan implementasi AI dalam pembelajaran PAI di Aula Kantor Kementerian Agama setempat pada 3 September 2026. Pesan yang digarisbawahi para narasumber tegas: AI bukan untuk menggantikan guru, melainkan sarana kolaborasi untuk mendukung kualitas pembelajaran. Tatang Laksamana menjelaskan bagaimana AI memudahkan pembuatan video animasi, poster, soal, dan inovasi pembelajaran lain, dengan syarat guru memahami rumus prompt, etika, dan keamanan penggunaan AI. Praktik langsung penggunaan berbagai aplikasi AI untuk merancang media pembelajaran membuat pelatihan ini nyata, bukan wacana. Guru belajar menyusun prompt efektif, menghasilkan desain visual, dan bahan ajar yang selaras dengan nilai keislaman. Personaliasi materi, efisiensi penyusunan bahan ajar dan penilaian, serta pengembangan media interaktif diperkenalkan sebagai manfaat langsung bagi siswa dan guru. Di sini, guru PAI keterampilan AI menjadi jembatan antara teks agama dan dunia digital anak didik.

Dari Literasi Digital ke Etika Teknologi: Mengapa Guru Agama Harus Memimpin

Rangkaian pelatihan di Barsela, Aceh Besar, dan Subulussalam menunjukkan satu pola jelas: literasi digital guru agama sedang dinaikkan derajatnya menjadi agenda strategis. Di Barsela, Bimtek KKA ditegaskan sebagai upaya memperkuat kompetensi literasi digital dan pemanfaatan AI dalam pembelajaran madrasah. Di Aceh Besar, guru PAI diingatkan agar memiliki kecakapan digital saat menggunakan media sosial dan teknologi AI. Di Subulussalam, pembinaan diharapkan menjadi langkah awal bagi guru PAI untuk terus berinovasi menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan teknologi, dengan nilai-nilai keislaman sebagai fondasi utama. Ini seharusnya dibaca sebagai pergeseran paradigma: guru agama bukan lagi penjaga materi akidah dan fikih saja, melainkan pembimbing dalam etika teknologi dan kehidupan digital. Jika pelatihan AI pendidikan Islam terus diperdalam, guru PAI keterampilan AI akan menjadi garda depan membentengi siswa dari konten destruktif sekaligus membuka akses ilmu yang lebih luas. Kesimpulannya, masa depan pembelajaran berbasis AI di kelas agama sangat ditentukan oleh seberapa berani guru memelopori perubahan, bukan menghindari teknologi.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!