AI Masuk Kelas PAI: Inti Gerakan Baru Kemenag
Gerakan pelatihan guru PAI berbasis kecerdasan buatan adalah upaya terstruktur untuk membekali guru agama dengan literasi digital, keterampilan pembelajaran berbasis AI, serta kemampuan menjaga kekuatan akidah dan akhlak peserta didik di tengah banjir informasi ruang digital, sehingga pelajaran agama tidak tertinggal oleh zaman dan tetap menjadi kompas moral bagi generasi muda.
Gelombang pembinaan guru PAI AI training yang kini digelar berbagai kantor wilayah Kementerian Agama bukan sekadar tren sesaat, melainkan strategi transformasi pendidikan digital yang mulai menyentuh ruang kelas agama. Di Aceh Timur, Kakankemenag Saiful Bahri membuka Pembinaan Guru PAI bertema implementasi AI sebagai tools pembelajaran pada 16 Juli 2026, diikuti sekitar 60 peserta dari total kurang lebih 900 guru PAI di daerah itu. Momentum serupa berulang di Banda Aceh, Aceh Besar, dan Subulussalam, memperlihatkan pola yang sama: AI tidak diposisikan sebagai ancaman, tetapi sebagai alat bantu yang harus dikuasai, bukan ditakuti. Pesannya tegas: jangan sampai AI mengatur guru, gurulah yang memandu AI demi kualitas pembelajaran agama yang lebih hidup.

Dari Banda Aceh hingga Aceh Besar: Pola Nasional yang Mulai Terbentuk
Jika dilihat sekilas, setiap kegiatan pembinaan guru PAI tampak seperti acara lokal biasa. Namun rangkaian pelatihan di Banda Aceh, Aceh Timur, Aceh Besar, dan Subulussalam menunjukkan pola nasional pembinaan guru Kemenag yang semakin sistematis. Di Banda Aceh, Kepala Kantor Kemenag kota membuka pembinaan Guru PAI Tahun 2026 dengan tema implementasi AI sebagai tools pembelajaran, menyasar guru SD, SMP, dan SMA se-kota. Di Aceh Besar, sekitar 50 guru PAI dibekali keterampilan memanfaatkan kecerdasan buatan sebagai alat bantu dalam pembelajaran di Aula SMPN 3 Ingin Jaya, juga dengan tema serupa. Di Subulussalam, 50 guru PAI kembali dikumpulkan untuk pembinaan implementasi AI dalam pembelajaran PAI oleh tim bidang PAI kantor wilayah. Skala per sesi—50 sampai 60 guru—memang belum menyentuh seluruh guru, tetapi sudah cukup untuk menciptakan efek berantai jika peserta serius menularkan ke rekan-rekannya.
Menurut Saiful Bahri, ilmu yang diperoleh peserta pembinaan di Aceh Timur diharapkan ditularkan kepada guru lainnya di jenjang SD hingga SMK agar dampaknya meluas. Pernyataan ini mengungkap strategi yang cerdas: membangun agen perubahan di setiap daerah, bukan menunggu semua guru mengikuti pelatihan formal. Dengan melibatkan berbagai level satuan pendidikan dan beberapa kabupaten/kota sekaligus, pembinaan guru PAI AI training ini mulai membentuk ekosistem baru, di mana AI menjadi bagian wajar dari percakapan tentang metode mengajar fikih, akidah, atau akhlak, bukan lagi topik asing yang menakutkan.

Pembelajaran Berbasis AI: Antara Kreativitas Digital dan Benteng Nilai
Substansi yang dibawa dalam pelatihan ini bukan sebatas pengenalan istilah kecerdasan buatan pendidikan, tetapi juga praktik pembelajaran berbasis AI yang menyentuh kebutuhan kelas. Di Aceh Timur, guru diingatkan agar memanfaatkan AI sebagai sarana pendukung pembelajaran yang kreatif, efektif, dan inovatif, bukan sebagai sesuatu yang membuat mereka bergantung penuh. Di Aceh Besar, AI dipandang mampu menghadirkan materi lebih menarik dan menjadi sarana kreatif menyampaikan pesan pendidikan agama. Artinya, guru didorong melampaui metode ceramah, menuju kelas yang lebih interaktif dengan media visual, soal digital, atau simulasi yang dirancang melalui AI.
Yang menarik, Subulussalam menunjukkan sisi paling konkret dari transformasi ini. Di sana, guru diperkenalkan pada berbagai pemanfaatan AI: personalisasi materi, efisiensi penyusunan bahan ajar dan penilaian, pengembangan media interaktif, serta perluasan akses sumber belajar. Setelah teori, peserta langsung mempraktikkan aplikasi AI untuk merancang media pembelajaran, mulai dari menyusun prompt hingga menghasilkan desain visual dan bahan ajar untuk kelas PAI. Salah satu pendekatan cerdas lain muncul di Aceh Besar: AI dipakai untuk merancang poster kampanye anti perundungan dan edukasi perilaku seksual berisiko atau LGBT, sekaligus menanamkan nilai Islam dalam isu yang sangat digital dan dekat dengan keseharian siswa.

Menjaga Akidah di Era AI: Guru Tetap Sentral, Bukan Digantikan
Transformasi pendidikan digital kerap dicurigai sebagai ancaman terhadap nilai agama. Namun narasi yang dibangun dalam pembinaan ini justru sebaliknya: AI diposisikan sebagai pelayan, sementara guru tetap pemegang kendali nilai. Di Banda Aceh, Kepala Kankemenag menegaskan bahwa AI adalah alat bantu pembelajaran, bukan pengganti guru dalam membentuk akidah, akhlak, dan karakter peserta didik. Di Aceh Besar, Saifuddin mengingatkan bahwa pemanfaatan teknologi tidak boleh menggeser tujuan utama pendidikan agama, yaitu membentuk siswa berakhlak unggul. Kedua sikap ini mengirim pesan penting: kecakapan digital wajib, tetapi tidak boleh mengorbankan misi spiritual pendidikan agama.
Kepala Bidang PAI, Aida Rina, menyoroti tantangan besar di ruang digital: arus informasi media sosial yang memaparkan anak pada konten yang tidak sesuai nilai agama dan usia. Di sini, AI justru diharapkan menjadi bagian dari solusi. Dengan literasi AI, guru PAI bisa mendesain materi yang dekat dengan dunia maya siswa sekaligus membangun batasan pergaulan di dunia nyata maupun virtual. Di Subulussalam, narasumber bahkan menegaskan bahwa AI adalah sarana kolaborasi yang memudahkan pembuatan video animasi, poster, dan soal, dengan tetap memperhatikan tips, etika, dan keamanan penggunaan AI. Pesan moralnya jelas: kuasai alatnya, jangan biarkan alat mengaburkan standar akhlak.
Langkah Berikutnya: Dari Pelatihan Sesi ke Sesi ke Gerakan Kolektif
Rangkaian pelatihan ini baru langkah pertama, belum garis akhir. Dengan jumlah peserta sekitar 50 orang di Aceh Besar, 50 orang di Subulussalam, dan 60 orang di Aceh Timur dari sekitar 900 guru, jelas masih ada kesenjangan akses yang harus dijembatani. Namun desain programnya memberi harapan. Di Aceh Timur, peserta diminta menularkan ilmu ke guru lain agar manfaat terasa di SD hingga SMK. Di Subulussalam, kegiatan ini disebut sebagai langkah awal agar guru terus berinovasi menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan teknologi, dengan nilai keislaman sebagai fondasi utama.
Ke depan, transformasi pendidikan digital untuk PAI akan ditentukan oleh dua hal. Pertama, konsistensi pembinaan guru Kemenag lintas daerah agar gerakan ini tidak berhenti di beberapa kabupaten saja. Kedua, keberanian guru PAI untuk bereksperimen merancang pembelajaran berbasis AI sembari melatih nalar kritis siswa terhadap informasi digital. Jika dua syarat ini terpenuhi, kecerdasan buatan pendidikan tidak akan menjauhkan siswa dari agama, melainkan mengantar mereka memahami Islam secara lebih mendalam dan kontekstual di layar yang setiap hari ada di genggaman mereka.






