Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Taman Mandara Disulap Jadi Sentra UMKM dan Ruang Publik Multifungsi

Taman Mandara Disulap Jadi Sentra UMKM dan Ruang Publik Multifungsi
Minat|Asia Tenggara

Taman Mandara: Dari Lahan Terbengkalai ke Ruang Publik Multifungsi

Revitalisasi Taman Mandara adalah upaya pemerintah kota mengembalikan dan mengembangkan taman kota menjadi ruang publik multifungsi yang menampung olahraga, rekreasi, aktivitas budaya, dan ekonomi kerakyatan dalam satu kawasan yang terhubung dengan kehidupan sehari-hari warga. Dalam konteks ini, Taman Mandara bukan lagi sekadar lapangan hijau, tetapi aset komunal yang sengaja didesain ulang agar menjadi pusat interaksi sosial, sentra UMKM, sekaligus simbol kota cerdas yang berpihak pada warganya. Pilihan menjadikan taman ini panggung utama peringatan Hari Jadi Kota ke-269 dengan tema “Bersama Menuju Pangkalpinang Smart” menunjukkan bahwa arah pembangunan kota ingin ditambatkan pada ruang publik yang hidup dan inklusif.

Keputusan Wali Kota Saparudin membuka Perlombaan Antar Perangkat Daerah di Taman Mandara pada 1 September merupakan sinyal politik ruang: taman ini bukan pinggiran, melainkan pusat. Ketika lomba antar-OPD, olahraga tradisional, dan kegiatan budaya dikemas di satu lokasi, pesan yang muncul jelas: taman harus bekerja untuk masyarakat, bukan hanya untuk estetika. Revitalisasi taman publik dalam skema ini menjadi strategi pengembangan kota berkelanjutan yang menghubungkan kesehatan, kebudayaan, dan ekonomi lokal, alih-alih proyek infrastruktur yang berdiri sendiri dan cepat dilupakan.

Taman Mandara Disulap Jadi Sentra UMKM dan Ruang Publik Multifungsi

Revitalisasi Taman Publik sebagai Strategi Pangkalpinang Smart

Peringatan Hari Jadi Kota ke-269 digunakan pemerintah kota sebagai momentum untuk menguji gagasan Pangkalpinang Smart: kota cerdas yang tidak terjebak pada jargon digital, tetapi tampak pada bagaimana ruang publik dikelola. Dengan menjadikan Taman Mandara lokasi utama rangkaian kegiatan hingga akhir September, pemerintah sedang menguji apakah taman bisa menjadi platform kolaborasi antarorganisasi perangkat daerah sekaligus ruang belajar sosial bagi warga. Di sini, konsep ruang publik multifungsi diterjemahkan konkret: ada lomba seni, olahraga, hingga permainan tradisional.

Tekanan Saparudin bahwa lomba antar-OPD bukan soal menang-kalah, melainkan penguatan sinergi, penting untuk dibaca sebagai bagian dari pengembangan kota berkelanjutan. Kota tidak mungkin cerdas bila perangkat pemerintahnya bekerja dalam silo. Dengan memaksa OPD “turun ke rumput” bersama, pemerintah mendorong budaya kerja yang lebih cair dan komunikatif. Apalagi, lahan yang sempat terbakar akibat musim panas menjadi pengingat bahwa tata kelola lingkungan, pemeliharaan taman, dan gotong royong warga bukan isu terpisah, melainkan fondasi kota yang ingin bertahan menghadapi perubahan iklim dan tekanan urbanisasi.

Taman Mandara Disulap Jadi Sentra UMKM dan Ruang Publik Multifungsi

Ruang Publik Multifungsi: Olahraga, Budaya, dan UMKM dalam Satu Denyut

Gagasan menjadikan Taman Mandara sebagai ruang publik multifungsi tidak berhenti pada jogging track dan taman hijau. Saparudin menyatakan secara eksplisit bahwa taman ini akan dikembalikan fungsinya sebagai ruang untuk berolahraga, bersantai, dan mengembangkan aktivitas ekonomi kerakyatan. Lebih jauh, ia menekankan pemanfaatan taman untuk perlombaan seni, olahraga, dan kegiatan budaya, menjadikan satu kawasan sebagai simpul pertemuan komunitas olahraga, seniman, dan pelaku budaya lokal. Ini adalah definisi masa kini dari revitalisasi taman publik: ruang yang bisa dipakai pagi untuk lari, siang untuk festival kuliner, dan malam untuk pertunjukan budaya.

Pilihan untuk menghidupkan kembali permainan tradisional seperti gasing, dambus, dan kereta surong lewat kegiatan di taman menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur publik tidak boleh memutus memori kolektif warga. Taman tidak sekadar dilapisi paving blok, tetapi menjadi arsip hidup kebudayaan lokal. Dalam jangka panjang, ruang publik multifungsi seperti ini berpotensi memper kuat identitas kota dan mencegahnya menjadi kota generik tanpa karakter. Kota yang terlalu fokus pada mal dan pusat belanja tertutup akan kehilangan ini; Taman Mandara berusaha mengambil posisi sebaliknya.

Taman Mandara Disulap Jadi Sentra UMKM dan Ruang Publik Multifungsi

Pemberdayaan UMKM Lokal: Taman sebagai Pasar Baru

Elemen paling strategis dari transformasi Taman Mandara adalah keberpihakan pada pemberdayaan UMKM lokal. Penataan kawasan secara terang diarahkan untuk mendukung kegiatan ekonomi masyarakat melalui penyediaan ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Rencana menyediakan tempat UMKM di tengah rute jogging dan area rekreasi adalah keputusan cerdas: aliran manusia yang berolahraga otomatis menjadi aliran pelanggan potensial. Dalam bahasa sederhana, taman diubah menjadi pasar baru tanpa harus membangun gedung megah.

Ketika wali kota menyebut, “Orang lari-lari kan, nanti ada tempat UMKM yang bisa jadi tempat nongkrong-nongkrong,” ia sedang menjelaskan model bisnis ruang publik versi kota. UMKM mendapat akses sentra bisnis di lokasi strategis dengan traffic pengunjung tinggi, sementara warga mendapatkan pilihan kuliner dan produk lokal yang dekat dan terjangkau. Revitalisasi taman publik yang sadar UMKM seperti ini layak dicatat sebagai praktik baik pengembangan kota berkelanjutan: ekonomi bergerak, tetapi tetap bertumpu pada skala kecil dan kearifan lokal, bukan sekadar menarik investasi raksasa yang sering kali menggeser pelaku usaha kecil.

Sinergi OPD, CSR, dan Jalan Panjang Menuju Kota yang Layak Huni

Revitalisasi Taman Mandara tidak akan selesai dengan pemotongan pita. Pemerintah kota sudah menyiapkan site plan kawasan dan membuka peluang dukungan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari berbagai pemangku kepentingan. Di atas kertas, ini tampak ideal: APBD tidak terbebani, sektor swasta dilibatkan, dan kota memperoleh fasilitas MCK, sarana olahraga, serta penataan taman dan pepohonan yang lebih baik. Namun, keberhasilan model ini sangat bergantung pada konsistensi sinergi antar-OPD dan transparansi penggunaan dana CSR.

Rangkaian kegiatan HUT ke-269 yang melibatkan Bakuda, Dinas Pariwisata, Dinas Pemuda dan Olahraga, serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menunjukkan bahwa kota ini sedang belajar bekerja lintas sektor. Itu langkah penting bila kota ingin menjaga Taman Mandara tetap hidup, bukan proyek seremonial musiman. Kesimpulannya tegas: menjadikan taman sebagai pusat UMKM dan ruang publik multifungsi adalah pilihan tepat, tetapi ia menuntut disiplin pemeliharaan, pendampingan UMKM, dan keberanian menjaga kultur gotong royong yang sejak awal ditegaskan dalam lomba antar-OPD. Tanpa itu, label Pangkalpinang Smart berisiko tinggal slogan; dengan itu, Taman Mandara berpeluang menjadi contoh nyata kota layak huni yang berpihak pada warganya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!