Mandat baru, pekerjaan lama yang harus dituntaskan
Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO) adalah organisasi profesi yang menghimpun sarjana kelautan untuk mempertemukan keahlian, pengalaman, dan gagasan bagi pembangunan sektor laut. Darwis Ismail terpilih sebagai Ketua Umum ISKINDO periode 2026–2031 dalam Kongres IV yang berlangsung di Jakarta pada 23 Oktober 2026. Ia memperoleh 15 suara, sementara Hendra Yusran Siry meraih enam suara; satu dari total 22 suara dinyatakan tidak sah. Hasil ini memberi Darwis mandat yang jelas, tetapi kemenangan pemilihan bukan ukuran keberhasilan kepemimpinan. Ujian sesungguhnya adalah apakah organisasi mampu menghubungkan kompetensi anggotanya dengan persoalan nyata sektor kelautan. Harapan Riza Damanik agar konsolidasi dan jejaring alumni diperkuat patut dibaca sebagai agenda kerja, bukan sekadar pesan serah terima.
Darwis bukan pendatang baru di organisasi. Alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan Universitas Hasanuddin angkatan 1992 itu pernah menjadi bendahara umum, sekretaris dewan pakar, lalu wakil ketua umum. Pengalaman tersebut semestinya membantu menjaga kesinambungan, tetapi sekaligus menuntut kepemimpinan yang membuka ruang bagi anggota di luar lingkaran pengurus pusat. Kongres diikuti 27 perwakilan Dewan Pengurus Wilayah, secara langsung maupun daring, sehingga keluasan suara daerah sudah tampak sebagai modal. Tantangannya kini memastikan keterlibatan itu tidak berhenti di forum kongres.

Jejaring alumni harus menghasilkan kerja bersama
Riza Damanik, yang menuntaskan masa jabatan Ketua Umum periode 2021–2026, berharap kepemimpinan Darwis memperkuat konsolidasi, memperluas solidaritas sarjana kelautan, dan meningkatkan kerja sama lintas kampus serta lintas sektor. Harapan itu tepat: jejaring alumni yang tersebar di berbagai daerah dan profesi bernilai jika berubah menjadi kolaborasi produktif, bukan hanya daftar kontak dan pertemuan sesekali. Karena itu, Ketua ISKINDO perlu membangun cara kerja yang membuat alumni, mahasiswa, akademisi, pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat pesisir dapat berkontribusi pada agenda bersama. Jika organisasi maritim ini ingin relevan bagi anggotanya, manfaat keanggotaan harus terasa dalam akses pada pengetahuan, kemitraan profesional, dan ruang untuk ikut memecahkan masalah.
Kepengurusan sebelumnya meninggalkan fondasi yang dapat diteruskan: pendataan anggota dan pendaftaran kartu secara digital, jaringan kepengurusan di 27 provinsi, serta kolaborasi dengan perguruan tinggi yang menghasilkan empat jurnal kelautan terakreditasi. ISKINDO juga menyediakan hibah riset untuk membantu penelitian mahasiswa anggota HIMITEKINDO yang sedang menyelesaikan skripsi. Langkah berikutnya bukan menambah program demi daftar capaian, melainkan memastikan inisiatif itu mudah dijangkau, berkelanjutan, dan terhubung dengan kebutuhan anggota. Dukungan penelitian, mentoring, dan ruang aktualisasi dapat menjembatani mahasiswa, alumni baru, serta para senior.

Riset kelautan perlu menjadi kontribusi, bukan slogan
Pengembangan riset kelautan dan publikasi ilmiah layak ditempatkan sebagai agenda strategis, bukan pelengkap kegiatan organisasi. Tantangan yang menunggu tidak kecil: keberlanjutan sumber daya ikan, kesehatan ekosistem pesisir, perubahan iklim, pengembangan ekonomi biru, serta kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada laut menuntut rekomendasi berbasis sains. Di sinilah ISKINDO dapat memberi nilai lebih—menghubungkan peneliti dengan praktisi dan pengambil kebijakan, lalu menerjemahkan temuan ilmiah menjadi usulan yang bisa digunakan. Empat jurnal terakreditasi dan hibah penelitian mahasiswa adalah titik awal yang berarti, tetapi dampaknya bergantung pada kesinambungan dukungan dan mutu kolaborasi.
Solidaritas lintas generasi juga perlu dirancang, bukan hanya diharapkan. Mahasiswa membawa pertanyaan dan metode baru; alumni muda memahami tantangan awal karier; para senior memiliki pengalaman serta jejaring yang bisa membuka pintu kerja sama. Ketiganya akan saling menguatkan jika organisasi menyediakan ruang untuk bertemu dan bekerja pada proyek konkret. Darwis menyebut ISKINDO sebagai modal besar yang perlu dihubungkan dengan kebutuhan pembangunan dan pengelolaan laut. Pernyataan itu menetapkan ukuran kepemimpinan yang tepat: bukan seberapa sering organisasi tampil, melainkan seberapa jauh keahlian anggotanya membantu menjawab kebutuhan publik.

Ukuran keberhasilan ada pada manfaat bagi anggota dan masyarakat
Pergantian kepemimpinan memberi kesempatan untuk merawat capaian sekaligus memperbaiki hal yang belum bekerja. Bagi Darwis, prioritas yang paling masuk akal ialah menyatukan konsolidasi organisasi, jejaring alumni, riset kelautan, dan solidaritas lintas generasi dalam agenda yang saling menopang. Dampaknya harus dapat dirasakan bukan hanya pengurus, tetapi juga mahasiswa yang membutuhkan dukungan penelitian, alumni yang mencari ruang kolaborasi, dan masyarakat pesisir yang menghadapi tekanan perubahan lingkungan serta ekonomi. Ini penting karena organisasi profesi akan kehilangan relevansi jika hanya kuat secara administratif, tetapi jauh dari kebutuhan orang-orang yang semestinya dilayaninya.
Darwis Ismail kini memimpin ISKINDO untuk periode lima tahun dengan bekal pengalaman organisasi dan mandat dari kongres. Namun, kepercayaan anggota harus terus diperbarui lewat kerja yang terbuka, kolaboratif, dan berlandaskan ilmu. Jika jejaring alumni benar-benar menjadi kemitraan, riset memperoleh dukungan, dan generasi muda mendapat tempat dalam pengambilan keputusan, ISKINDO dapat memperbesar sumbangannya bagi pembangunan maritim. Kesimpulannya sederhana: keberhasilan ketua baru tidak ditentukan oleh pergantian nama di pucuk organisasi, melainkan oleh manfaat nyata yang lahir dari keahlian kolektif anggotanya.






