Riset, Pendidikan, dan Visi Emas: Pesan Politik yang Jelas
Riset dan pendidikan adalah proses sistematis untuk membangun pengetahuan, kecakapan, dan karakter, yang menghubungkan temuan ilmiah, pengalaman hidup, serta nilai sosial menjadi fondasi pengambilan keputusan dan inovasi jangka panjang. Dalam pertemuan di Istana Kepresidenan, Presiden Prabowo Subianto mengumpulkan lebih dari 150 periset terbaik untuk berdialog tentang peran riset dalam pembangunan nasional. Ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan sinyal politik bahwa riset dan pendidikan ditempatkan di garis depan strategi Visi Indonesia Emas 2045. Presiden secara terbuka menegaskan bahwa pendidikan adalah fondasi utama lahirnya inovasi dan terobosan yang menentukan daya saing masa depan. Di sini terlihat jelas: pemerintah ingin mengubah narasi pembangunan dari sekadar proyek fisik menjadi pembangunan berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi nasional.

Ketika Kecerdasan Bukan Sekadar Soal Kampus
Di luar Istana, Presiden Prabowo berbicara blak-blakan tentang faktor yang membentuk kecerdasan seseorang dalam sebuah acara di Djakarta Theater pada Jumat, 7 Agustus 2026. Ia menegaskan bahwa kecerdasan, menurut pandangannya, bukan semata hasil sekolah atau kampus tertentu. Menjadikan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebagai contoh, ia menyebut kampus Bahlil tidak terlalu terkenal dan bahkan “kalau dicari di Google, kampusnya sudah enggak ada”. Pernyataan ini memicu tawa, tetapi juga mengandung pesan serius: karakter, pengalaman hidup, dan tempaan kesulitanlah yang membentuk kualitas seseorang. Prabowo menilai kecerdasan banyak dibentuk keluarga, terutama peran seorang ibu dan perjuangan memberi makan serta merawat anak. Dengan kata lain, pengembangan sumber daya manusia tidak boleh direduksi menjadi nama kampus; ia adalah kombinasi pendidikan formal dan pendidikan kehidupan.
Ekosistem Penelitian Sebagai Mesin Inovasi Nasional
Pertemuan di Istana menjadi forum dialog langsung antara Presiden dan para peneliti mengenai pengembangan ekosistem riset nasional agar lebih produktif, berdaya saing, dan mampu menjawab tantangan pembangunan. Ini menunjukkan niat untuk membangun ekosistem penelitian yang tidak terfragmentasi, melainkan terhubung antara pemerintah, lembaga riset, perguruan tinggi, dan dunia industri. Presiden meninjau berbagai inovasi nasional: teknologi pendukung pembangunan Giant Sea Wall, pengembangan teknologi nuklir menuju PLTN, tabung CNG efisien sebagai alternatif LPG, hingga teknologi Foodguard untuk keamanan Program Makan Bergizi Gratis. Ia juga melihat inovasi ketahanan pangan, kemandirian energi, pengelolaan sampah, teknologi pertahanan, dan solusi untuk program tiga juta rumah. Pertemuan ini menegaskan komitmen pemerintah mendorong riset dan inovasi sebagai motor penggerak pembangunan nasional, bukan sekadar pelengkap.
Dari Laboratorium ke Produk Murah: Manfaat Nyata bagi Masyarakat
Salah satu momen paling simbolik terjadi ketika Presiden memesan sepatu sekolah dari karet lokal hasil inovasi lembaga riset, yang diproduksi dengan harga di bawah Rp80 ribu. Tindakan sederhana ini adalah pernyataan politik: riset harus keluar dari laboratorium dan masuk ke kehidupan sehari-hari warga. Langkah tersebut dinilai sebagai bentuk dukungan agar hasil riset dalam negeri dapat diproduksi massal dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Dengan menyoroti produk murah berkualitas, Presiden mengirim pesan bahwa inovasi nasional tidak boleh berhenti pada prototipe. Ia harus menjawab kebutuhan dasar rakyat—dari sepatu sekolah, pangan, energi, hingga perumahan—dan menjadi bagian dari strategi pengembangan sumber daya manusia yang menyeluruh. Pendidikan dan riset, dalam kerangka ini, adalah investasi sosial, bukan sekadar proyek elit.
Menuju Indonesia Emas 2045: Antara Ide Besar dan Tindak Nyata
Dengan menempatkan riset dan pendidikan sebagai kunci Indonesia Emas 2045, pemerintah mengakui bahwa masa depan tidak bisa ditopang retorika tanpa basis ilmiah. Investasi pada pendidikan, riset, dan inovasi disebut sebagai bagian dari strategi mencapai visi tersebut. Di sisi lain, pandangan Presiden bahwa kecerdasan dibentuk oleh karakter, keluarga, dan tempaan hidup menegaskan bahwa pengembangan sumber daya manusia tidak bisa semata diukur dari ranking kampus atau indeks formal. Pertanyaannya kini: apakah komitmen politik ini akan diikuti reformasi anggaran, regulasi, dan budaya birokrasi yang mendukung ekosistem penelitian? Sinergi yang disebutkan antara pemerintah, lembaga riset, perguruan tinggi, dan industri hanya akan berarti jika hasilnya terasa di dapur masyarakat—pangan aman, energi terjangkau, rumah layak, dan peluang pendidikan merata. Indonesia Emas 2045, pada akhirnya, akan diuji bukan di panggung pidato, tetapi di kualitas hidup warganya.





