KuybeliKuybeli

Lebih dari 50% Pelanggaran Kosmetik Ilegal Berasal dari TikTok

Lebih dari 50% Pelanggaran Kosmetik Ilegal Berasal dari TikTok
Minat|Makeup

TikTok, Kosmetik Ilegal, dan Ilusi Diskon yang Berbahaya

Fenomena kosmetik ilegal TikTok adalah maraknya peredaran dan penjualan produk perawatan kecantikan, tubuh, dan skincare yang tidak memenuhi ketentuan hukum, memanfaatkan fitur belanja sosial serta algoritma konten yang mendorong pembelian impulsif melalui tautan dan siaran langsung di platform tersebut, hingga menciptakan ilusi keamanan dan keaslian di mata konsumen awam. TikTok bukan sekadar aplikasi hiburan; ia telah berubah menjadi etalase raksasa produk kecantikan, di mana batas antara rekomendasi jujur dan jualan berbahaya makin kabur. Dalam ruang yang serbacepat ini, godaan harga murah dan testimoni bombastis sering menang melawan sikap kritis. Itulah alasan utama mengapa peringatan BPOM kosmetik harus dibaca sebagai alarm keras, bukan sekadar berita sekilas yang lewat di beranda. Jika kita lengah, kulit dan kesehatan menjadi taruhannya, bukan hanya saldo dompet.

Lebih dari 50% Pelanggaran Kosmetik Ilegal Berasal dari TikTok

Data BPOM: Kenapa TikTok Jadi Episentrum Pelanggaran

BPOM menegaskan bahwa lebih dari 50 persen pelanggaran peredaran kosmetik secara daring yang ditemukan dalam intensifikasi pengawasan 2026 berasal dari TikTok. Dalam periode 11–22 Mei, 9.617 tautan penjualan dipantau dan 9.042 di antaranya—94,02 persen—terbukti melanggar ketentuan dengan estimasi nilai keekonomian sekitar Rp260,7 miliar. Sebelumnya, BPOM juga mengungkap nilai ekonomi produk kosmetik ilegal yang diperdagangkan di platform ini diperkirakan mencapai Rp260 miliar. Angka ini bukan sekadar statistik; ini menunjukkan kejahatan yang sudah aktif mengeksploitasi pengguna. TikTok tercatat sebagai platform dengan transaksi kategori perawatan kecantikan dan skincare terbesar dibandingkan kategori produk lainnya, dengan total pendapatan diperkirakan menyentuh Rp35,61 triliun dan pertumbuhan 79,73 persen. Ketika uang sebesar itu berputar, ruang bagi oknum untuk menyelipkan kosmetik ilegal terbuka lebar, dan konsumen yang terlena promosi agresif menjadi sasaran empuk.

Bagaimana Algoritma dan Live Shopping Menciptakan Celah Kejahatan

Masalah utamanya bukan TikTok sebagai teknologi, melainkan cara fitur-fitur tertentu dipakai oleh penjual nakal. BPOM menyebut fitur Live Shopping menjadi salah satu faktor yang membuat platform ini banyak dimanfaatkan untuk menjual kosmetik. Dalam siaran langsung, penjual bisa menampilkan klaim berlebihan, memicu rasa FOMO, dan menekan konsumen agar membeli cepat tanpa sempat memeriksa legalitas produk. Ditambah lagi, algoritma TikTok turut dimanfaatkan pelaku pelanggaran: ketika pengguna memberi tanda suka pada konten kosmetik tertentu, sistem akan menampilkan lebih banyak konten serupa sehingga produk ilegal bisa menjangkau semakin banyak calon pembeli. Kondisi ini menciptakan celah yang mudah disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk memperdagangkan kosmetik ilegal ataupun produk yang tidak memenuhi ketentuan. Selama kita tetap pasif dan hanya mengandalkan “yang muncul di FYP pasti bagus”, maka algoritma akan menjadi mesin promosi bagi mereka, bukan pelindung kita.

Siapa yang Paling Terdampak dan Mengapa Kita Tak Boleh Acuh

Kategori perawatan tubuh, kecantikan, dan skincare termasuk dalam 10 kategori dengan pendapatan penjualan tertinggi di TikTok Shop dalam beberapa bulan terakhir, dengan total pendapatan diperkirakan mencapai Rp35,61 triliun dan pertumbuhan 79,73 persen. Artinya, pengguna yang aktif mengikuti tren kecantikan—mulai dari remaja yang baru belajar skincare hingga orang dewasa yang ingin tampil lebih menarik di kamera—berada di garis depan risiko. TikTok tercatat menjadi platform dengan transaksi kategori perawatan kecantikan dan skincare terbesar dibandingkan kategori produk lainnya, dan di sanalah pelaku pelanggaran paling agresif menyasar. BPOM mencatat peningkatan jumlah tautan melanggar dibanding tahun sebelumnya, menandakan bukan hanya pengawasan yang kian tajam, tapi juga kejahatan yang makin kreatif. Mengabaikan peringatan BPOM kosmetik sama artinya membiarkan kulit menjadi kelinci percobaan bagi formula yang tak teruji, dan memberi ruang bagi bisnis yang merusak kesehatan publik demi keuntungan cepat.

Belajar dari Peringatan BPOM: Saatnya Mengubah Cara Kita Belanja Kosmetik Online

Poin terpenting dari temuan BPOM adalah sederhana: kita tak bisa lagi memandang belanja kosmetik di TikTok sebagai aktivitas ringan tanpa konsekuensi. Badan ini mengungkap tingginya peredaran kosmetik ilegal di platform digital, khususnya TikTok, dan menilai tingginya nilai transaksi membuka peluang besar bagi pihak yang tidak bertanggung jawab untuk memperdagangkan kosmetik yang tidak memenuhi ketentuan. Ketika lebih dari separuh pelanggaran ditemukan di satu platform saja, itu bukan kebetulan, melainkan pola. Algoritma yang dirancang untuk membuat kita betah menonton telah berubah menjadi jalur distribusi produk yang belum tentu aman. BPOM merespons dengan meningkatkan pengawasan terhadap peredaran kosmetik di platform digital, tetapi pengawasan eksternal tidak akan pernah cukup tanpa perubahan perilaku konsumen. Kesimpulannya, masa depan belanja kosmetik aman online bergantung pada kemauan kita untuk menolak klaim berlebihan, menghargai informasi regulasi, dan berhenti menganggap viral sebagai sinonim dari tepercaya.

Kuybeli Take

TikTok, Kosmetik Ilegal, dan Ilusi Diskon yang BerbahayaFenomena kosmetik ilegal TikTok adalah maraknya peredaran dan penjualan produk perawatan kecantikan, tub...

, Kuybeli editorial

Kuybeli earns a commission when you shop through our links, at no extra cost to you. Editorial content is independently selected by our team.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!