Pencurian sekolah mengincar lebih dari uang
Pencurian sekolah adalah tindakan mengambil uang atau barang dari lingkungan pendidikan tanpa izin, sering kali ketika ruang kelas dan kantor tidak diawasi. Tiga kasus di Banjarmasin dan Bengkulu Tengah menunjukkan bahwa sasarannya beragam: uang kas sekolah, uang infak, laptop, perlengkapan dapur, hingga fasilitas belajar yang dirusak. Pola ini layak menjadi perhatian karena sekolah yang sedang menerapkan pembelajaran jarak jauh atau tutup pada malam hari dapat menyisakan ruang dan barang dalam pengawasan terbatas. Namun, rincian setiap kejadian tetap harus dibedakan: sebagian masih dalam penyelidikan, dan dugaan bukanlah kesimpulan tentang pelaku. Peristiwa di SDN Sungai Andai 3 diketahui setelah uang dalam lemari kantor dilaporkan hilang; rekaman CCTV kemudian ditinjau untuk menelusuri kejadian tersebut.

Uang kas hilang, CCTV menjadi petunjuk
Di SDN Sungai Andai 3, Banjarmasin, uang kas sebesar Rp12 juta dan uang seorang guru sebesar Rp80 ribu dilaporkan hilang. Sekolah menduga kejadian berlangsung pada Rabu (21/10) siang, ketika pembelajaran jarak jauh dan kerja dari rumah diterapkan. Kehilangan baru diketahui pada Jumat (23/10), setelah seorang guru menyadari uang dalam lemari ruang kantor raib. Rekaman CCTV menunjukkan seseorang masuk dengan melompati pagar lalu mencongkel jendela dari luar; pihak sekolah memeriksa rekaman itu untuk menelusuri peristiwa tersebut. Tiga proyektor LCD juga sempat diduga hendak diambil, tetapi kemudian ditemukan di lokasi lain di lingkungan sekolah. Kasus ini memperlihatkan pentingnya membedakan barang yang benar-benar hilang dari barang yang sempat berpindah atau diduga menjadi sasaran. Dalam pencurian sekolah, rekaman kamera dapat menjadi petunjuk penyelidikan, tetapi tidak dengan sendirinya menetapkan identitas atau kesalahan seseorang.
Perlengkapan dapur dan fasilitas belajar ikut jadi sasaran
Di SDN 48 Bengkulu Tengah, sekolah dibobol maling dan sejumlah barang sekolah hilang, termasuk tabung gas 3 kilogram, magic com, dan speaker yang disimpan di ruang guru. Pintu ruang guru ditemukan terbuka pada Senin (2/11) pagi, sementara grendel gembok dilaporkan rusak. Perkiraan sekolah, pencurian terjadi pada Minggu (1/11) malam atau dini hari, setelah penjaga masih berpatroli pada sore sebelumnya. Kerusakan meluas ke CCTV dan lemari kaca; Papan Interaktif Digital berukuran 75 inci yang merupakan bantuan Kemendikdasmen juga ditemukan rusak. Sekolah telah melapor ke Polsek Talang Empat, yang melakukan olah tempat kejadian perkara. Pihak sekolah berharap pelaku segera ditangkap dan kejadian serupa tidak berulang. Hilangnya perlengkapan sehari-hari sekaligus rusaknya perangkat belajar membuat kasus ini lebih dari sekadar kehilangan barang: fasilitas sekolah juga menjadi sasaran perusakan.

Uang infak dan laptop raib saat PJJ
Kasus lain dilaporkan di TK Kemala Bhayangkari 4, Banjarmasin. Pihak sekolah menduga pencurian terjadi saat siswa menjalani pembelajaran jarak jauh. Setelah kembali ke sekolah, seorang guru hendak mengambil uang infak Rp178 ribu yang disimpan di lemari, tetapi uang itu sudah tidak ada. Guru lain kemudian mendapati satu unit laptop juga raib dari lemari di dekat tempat penyimpanan uang. Kerugian materiil diperkirakan mencapai Rp8.128.000. Polisi membenarkan laporan tersebut dan menyatakan penyelidikan masih berlangsung; sebuah kotak laptop telah diamankan sebagai barang bukti. Ketiga kejadian ini menunjukkan bahwa uang maupun perlengkapan dapat menjadi sasaran ketika sekolah tidak ramai. Namun, respons harus bertumpu pada pemeriksaan dan proses hukum, bukan dugaan yang berkembang tanpa bukti. Pengamanan ruang, penyimpanan barang berharga, serta tindak lanjut laporan perlu diperlakukan sebagai bagian dari perlindungan kegiatan belajar.






