Bercerita sebagai latihan tampil di depan publik
Lomba storytelling Inggris adalah kompetisi yang mengajak peserta menyampaikan sebuah cerita dalam bahasa Inggris sekaligus melatih keberanian, kreativitas, dan kemampuan berbicara di depan publik. Di Karangasem, PWI Kabupaten Karangasem bekerja sama dengan Lembaga Kursus dan Pelatihan BSD Learning Center menggelar BSD Storytelling Challenge 2026 untuk pelajar SD dan SMP se-kabupaten. Nilai utama kegiatan ini bukan sekadar mencari pemenang: anak-anak mendapat alasan dan ruang untuk berlatih menyuarakan gagasan di hadapan orang lain. Keberanian berbicara di depan publik perlu dibangun sejak dini, dan bercerita memberi latihan yang konkret—peserta harus memilih kata, membentuk alur, lalu menyampaikan pesan dengan suara dan ekspresi. Ajang ini karena itu lebih bermakna jika keberanian tampil dihargai bersama kemampuan bahasa.
Ketua Panitia I Ketut Jemen Diantara, S.Pd., mengatakan tujuan lomba mencakup keberanian siswa tampil, berkomunikasi, berkreasi, dan menunjukkan bakat di depan publik. Pernyataan itu menegaskan bahwa kompetisi ini dirancang sebagai pengalaman belajar, bukan semata-mata perlombaan.

Tantangan berbeda untuk siswa SD dan SMP
Kesempatan tampil diberikan kepada siswa SD kelas III hingga VI dan siswa SMP kelas VII hingga IX. Setiap sekolah boleh mengirimkan maksimal lima peserta, sehingga ada batas yang perlu diperhitungkan sekolah saat memilih perwakilan. Format penyisihan menuntut cerita disampaikan sepenuhnya dalam bahasa Inggris tanpa membaca naskah. Peserta SD mendapat waktu tiga hingga empat menit, sementara peserta SMP diberi empat hingga lima menit. Batas waktu dan larangan membaca membuat tantangannya lebih luas daripada menghafal kosakata atau melafalkan kalimat: peserta perlu menguasai alur, menjaga perhatian pendengar, mengekspresikan emosi, dan menyampaikan pesan dengan jelas. Bagi storytelling siswa SD, format singkat dapat menjadi latihan awal yang terarah; storytelling siswa SMP mendapat ruang sedikit lebih panjang untuk mengembangkan cerita.
Tuntutan itu mungkin terasa berat bagi siswa yang belum terbiasa berbicara tanpa naskah. Namun, justru di sanalah latihan percaya diri berbicara Inggris menjadi nyata: peserta belajar mengelola gugup dan tetap menyampaikan cerita dengan kata-kata mereka sendiri.
Dari penyisihan daring menuju panggung final
Rangkaian lomba dimulai dengan pendaftaran pada 30 Oktober hingga 7 November 2026. Video penyisihan dikirim secara daring pada 10–13 November, lalu 10 peserta terbaik dijadwalkan diumumkan pada 17 November. Semifinal berlangsung pada 23–24 November, sebelum final dan penganugerahan pada 25 November 2026. Tahapan ini membuat peserta memiliki proses untuk mempersiapkan cerita, bukan hanya satu kesempatan tampil. Perjalanan dari rekaman video ke babak lanjutan juga memberi pengalaman menghadapi bentuk audiens yang berbeda. Bagi siswa, setiap tahap bisa menjadi latihan untuk menyusun cerita dan menyampaikannya lebih mantap. Jadwal yang berujung pada final memberi sasaran yang jelas, sementara fokus pada proses membantu menjaga makna kegiatan tetap lebih luas daripada hasil akhir.
Peringatan yang memberi konteks pada cerita
BSD Storytelling Challenge 2026 dirangkai dalam peringatan Hari Pahlawan dan Hari Guru Nasional dengan tema “Young Heroes, Inspiring Teachers: Building the Future Through Storytelling”. Tema tersebut menghubungkan kisah tentang kepahlawanan dan inspirasi guru dengan kesempatan siswa menyampaikan cerita mereka sendiri. Hubungan ini memberi lomba konteks yang lebih kuat daripada sekadar latihan bahasa: peserta diajak mengolah gagasan dan menyampaikannya kepada orang lain. Ketua PWI Karangasem I Ketut Parwata menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari program organisasi di bidang pendidikan dan langkah awal kolaborasi untuk memberi ruang pengembangan diri bagi generasi muda. Pada akhirnya, ukuran keberhasilan ajang ini semestinya bukan hanya siapa yang menang, tetapi juga berapa banyak siswa yang pulang dengan keberanian lebih besar untuk berbicara dan mencoba lagi.






