Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Cerita hingga Pidato, Lomba Bahasa Inggris untuk Pelajar

Dari Cerita hingga Pidato, Lomba Bahasa Inggris untuk Pelajar
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Kompetisi sebagai ruang berlatih, bukan sekadar mencari juara

Lomba bahasa Inggris adalah ajang terstruktur bagi pelajar untuk melatih kemampuan berbahasa, keberanian tampil, dan kreativitas melalui tantangan yang sesuai jenjang pendidikan. Tiga kompetisi yang digelar pada 2026 memperlihatkan bahwa manfaatnya paling terasa ketika format lomba disesuaikan dengan kebutuhan peserta. Di Karangasem, PWI Kabupaten Karangasem dan BSD Learning Center mengadakan BSD Storytelling Challenge untuk siswa SD dan SMP dalam rangka memperingati Hari Pahlawan dan Hari Guru Nasional. Peserta SD kelas III–VI dan SMP kelas VII–IX diminta bercerita sepenuhnya dalam bahasa Inggris tanpa membaca naskah. Penyisihan berlangsung lewat video, dengan durasi tiga hingga empat menit untuk SD dan empat hingga lima menit untuk SMP. Format ini menuntut persiapan sekaligus memberi ruang berlatih sebelum tampil di depan publik—pilihan yang lebih mendidik daripada menjadikan peringkat sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.

Jadwalnya juga memberi peserta tahapan yang jelas: pendaftaran dibuka pada 30 Oktober–7 November, video penyisihan dikumpulkan pada 10–13 November, dan 10 peserta terbaik diumumkan pada 17 November. Semifinal dijadwalkan 22–23 November, lalu final dan penganugerahan pada 24 November 2026. Ketua panitia I Ketut Jemen Diantara menekankan bahwa tujuan lomba bukan hanya kemampuan bercerita, melainkan juga keberanian berkomunikasi, berkreasi, dan menunjukkan bakat. Karena itu, kompetisi storytelling siswa ini patut dinilai dari pengalaman belajar yang ditawarkan, bukan semata-mata siapa yang membawa pulang penghargaan.

Dari Cerita hingga Pidato, Lomba Bahasa Inggris untuk Pelajar

Donggala menawarkan lebih dari satu cara menguji kemampuan

Berbeda dari format storytelling tunggal di Karangasem, English Competition SMP di Donggala membagi tantangan ke tiga cabang: Quiz Competition, Spelling Bee, dan Story Telling Contest. Sebanyak 110 siswa SMP dan sederajat mengikuti ajang yang digelar MGMP Bahasa Inggris Rayon I Donggala Mosintuvu di Ruang Kasiromu, Kantor Bupati Donggala, pada 2 November 2026. Dari jumlah tersebut, 26 peserta memilih kuis, 64 mengikuti spelling bee, dan 20 tampil dalam story telling. Ragam ini penting: kemampuan bahasa Inggris tidak hanya berarti berbicara lancar, tetapi juga memahami materi dan mengeja dengan tepat. Pembagian cabang memberi siswa lebih banyak cara untuk memperlihatkan kekuatan mereka, meski penyelenggara tetap perlu menjaga agar setiap kategori memiliki tantangan yang seimbang.

Ajang tersebut merupakan bagian dari program kerja MGMP Bahasa Inggris Rayon I Donggala Mosintuvu tahun 2026. Pesertanya datang dari sekolah di Banawa, Banawa Tengah, Banawa Selatan, Rio Pakava, dan Pinembani. Panitia menyebut kompetisi sebagai sarana meningkatkan motivasi belajar sekaligus menampilkan bakat dan keterampilan berbahasa. Dukungan pemerintah daerah dan sekolah membantu membuka akses bagi siswa, tetapi nilai utama acara ini tetap terletak pada kesempatan untuk mencoba. Bagi pelajar yang belum siap bercerita di depan audiens, kuis atau spelling bee bisa menjadi pintu masuk yang lebih terukur untuk membangun kepercayaan diri.

Dari Cerita hingga Pidato, Lomba Bahasa Inggris untuk Pelajar

Dari jenjang sekolah menuju panggung nasional

Pada jenjang lebih tinggi, ALSA Local Chapter Universitas Hasanuddin memperluas ALSA English Competition (AECO) menjadi kompetisi tingkat nasional. Ajang yang kembali digelar setelah terakhir berlangsung pada 2024 itu diikuti 355 peserta dari berbagai daerah. Acara berlangsung pada 23–27 Oktober 2026 di Fakultas Hukum Unhas, Makassar, dengan peserta dari 35 SMA sederajat di Sulawesi serta perwakilan 15 perguruan tinggi. Skala ini mengubah fungsi lomba: selain menguji keterampilan, kompetisi menjadi ruang bertemu dan membangun jejaring lintas daerah. Namun, jangkauan nasional baru benar-benar bermakna bila kesempatan berpartisipasi tidak hanya dinikmati peserta yang sudah memiliki akses pada pembinaan bahasa Inggris.

AECO mempertandingkan sembilan kategori dalam dua jenjang. Tingkat SMA mencakup Debate, Speech, Newscasting, Paper Presentation, Battle of Brains, dan Storytelling; tingkat perguruan tinggi melombakan Speech, Newscasting, serta Paper Presentation. Perbedaan ini terasa masuk akal: mahasiswa mendapat ruang untuk menyampaikan gagasan dan presentasi akademik, sementara pelajar SMA memperoleh pilihan lebih luas, termasuk storytelling dan kuis. Tema inovasi teknologi yang bertanggung jawab juga menghubungkan kecakapan bahasa dengan isu yang lebih besar. SMA Negeri 1 Maros meraih predikat juara umum dan AECO Grand Trophy. Hasil itu patut diapresiasi, tetapi ukuran keberhasilan jangka panjangnya adalah apakah kompetisi terus berkembang sebagai ruang belajar dan daya saing bagi pelajar maupun mahasiswa.

Format berbeda, tujuan yang seharusnya sama

Ketiga ajang ini memperlihatkan jenjang yang saling melengkapi: storytelling membantu siswa SD dan SMP berani berbicara, kompetisi Donggala menyediakan pilihan untuk menguji keterampilan yang beragam, sedangkan AECO membawa peserta sekolah dan kampus ke arena nasional. Karena itu, lomba bahasa Inggris nasional bukan pengganti kegiatan lokal; keduanya melayani kebutuhan yang berbeda. PWI Karangasem juga menyatakan bahwa kegiatan ini menjadi awal program pendidikan dan akan dilanjutkan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak. ALSA LC Unhas berharap AECO terus berkembang sebagai ruang untuk meningkatkan kemampuan bahasa, kreativitas, dan daya saing.

Penyelenggara sebaiknya mempertahankan fokus pada proses: aturan yang jelas, kategori yang sesuai usia, dan umpan balik yang membantu peserta berkembang. Jumlah peserta memberi gambaran antusiasme, tetapi tidak cukup untuk mengukur dampak pendidikan. Yang lebih penting ialah apakah siswa pulang dengan keberanian mencoba lagi dan kemampuan yang dapat digunakan di luar panggung lomba. Dari cerita singkat hingga pidato dan presentasi, kompetisi paling bernilai bukan yang sekadar mengumpulkan pemenang, melainkan yang membuat lebih banyak peserta berani menggunakan bahasa Inggris.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!