Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Sekolah Latih Siswa Hadapi Bencana dengan Simulasi dan Game

Sekolah Latih Siswa Hadapi Bencana dengan Simulasi dan Game
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Mitigasi bencana sekolah: dari teori ke pengalaman nyata

Mitigasi bencana sekolah adalah serangkaian program, latihan, dan pembelajaran yang dirancang khusus untuk menyiapkan siswa dan warga sekolah mengambil keputusan cepat, aman, dan terukur ketika bencana alam terjadi, dengan menggabungkan pengetahuan, simulasi, dan teknologi pendidikan kebencanaan agar kesiapsiagaan anak bencana menjadi kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar hafalan di atas kertas. Di banyak daerah rawan bencana, pendekatan lama yang hanya menekankan ceramah dan poster sudah tidak memadai. Banjir yang merusak ratusan bangunan sekolah di Aceh Tamiang pada akhir 2025 menunjukkan betapa rapuhnya sistem pendidikan ketika kesiapsiagaan hanya berhenti pada pengetahuan konseptual. Karena itu, universitas dan sekolah mulai berani bereksperimen dengan simulasi rutin, permainan edukatif, dan kolaborasi lintas disiplin untuk membangun refleks tanggap darurat sejak usia dini.

Belajar dari Jepang: UM menata ulang kurikulum keseharian

Langkah paling menarik datang dari tim peneliti Universitas Negeri Malang yang memilih belajar langsung ke Jepang, bukan sekadar mengutip jurnal dari jauh. Melalui kunjungan akademik ke Hiroshima University dan Higashihiroshima Shiritsu Takamigaoka Elementary School pada 6–10 Oktober 2026, mereka mengkaji bagaimana Home Economics Education, numerasi, dan literasi geografis dipakai untuk meningkatkan kesiapsiagaan anak menghadapi bencana. Penelitian berjudul “Home Economics Education for Disaster Resilience: A Comparative Study of Numeracy and Geographic Literacy Integration in Japan and Indonesia” menempatkan mitigasi bencana sekolah di ruang paling dekat dengan kehidupan anak: cara mereka memahami lingkungan, menghitung kebutuhan, dan memilih perlengkapan prioritas saat darurat. Simulasi bencana di sekolah Jepang dilakukan sedikitnya tiga kali setahun dan bisa ditingkatkan hingga setiap bulan, bergantung risiko lokal. Ini pesan tegas: latihan berkala jauh lebih penting daripada satu kali sosialisasi seremonial.

Unisri: mitigasi bencana yang komunikatif, bukan menakut-nakuti

Jika UM bermain di ranah kurikulum, mahasiswa Universitas Slamet Riyadi memilih turun langsung ke kelas dengan pendekatan komunikatif. Di SDN 2 Sruni Boyolali, yang berada di kawasan rawan bencana Gunung Merapi, kelompok mahasiswa Ilmu Komunikasi semester 3 menggelar program pengabdian bertema “Tanggap Bencana, Sigap Semua, Berani Bicara” pada Senin (13/10), menggandeng 36 siswa dalam sosialisasi interaktif dan pengalaman praktik. Alih-alih menakuti anak dengan gambaran erupsi, mereka membekali siswa pemahaman gejala awal sebelum letusan agar respons menjadi tenang dan siaga. Konsep reporter cilik membuat kesiapsiagaan anak bencana terasa dekat: siswa diajak mengamati gejala alam dan menceritakannya kembali secara jelas dan percaya diri. Ini kritik halus terhadap pola lama yang kaku; mitigasi bencana sekolah seharusnya menguatkan keberanian berbicara dan kemampuan mengolah informasi, bukan hanya menambah daftar larangan.

UNSAM dan IVR Serious Game: latihan banjir tanpa basah

Di Aceh Tamiang, banjir yang merusak ratusan sekolah, termasuk puluhan yang rusak berat, menjadi alarm keras bahwa program latihan banjir siswa tidak bisa berhenti pada poster evakuasi di dinding kelas. Tim peneliti Universitas Samudra yang dipimpin Dr. Furqan Ishak Aksa menjawabnya dengan mengembangkan Immersive Virtual Reality (IVR) berbasis Serious Game sebagai media pembelajaran mitigasi banjir, diumumkan pada 15 Oktober 2026. Dalam lingkungan virtual ini, siswa seolah berada langsung di tengah banjir, diminta mengenali kondisi, menentukan tindakan, dan memahami konsekuensi setiap keputusan tanpa menghadapi bahaya nyata. Skenario disusun berdasarkan pedoman BNPB, lengkap dengan misi evakuasi yang harus diselesaikan. Prototipe yang dikembangkan sejak 2023 telah diuji secara analitis dan eksperimental di laboratorium, dan menunjukkan potensi meningkatkan self-efficacy serta keterlibatan siswa selama pembelajaran. Ini contoh konkret bagaimana teknologi pendidikan kebencanaan bisa mengubah latihan kering menjadi pengalaman yang melekat.

Menuju ekosistem Disaster Edutech yang terhubung

Tiga inisiatif ini—riset kurikulum keseharian ala UM, program komunikatif Unisri, dan IVR Serious Game UNSAM—sebenarnya mengarah ke satu gagasan besar: ekosistem Disaster Edutech yang terhubung dan kontekstual. Temuan UM akan ditelaah dengan mempertimbangkan perbedaan lingkungan, budaya, sumber daya, dan sistem pendidikan, lalu diharapkan menjadi masukan bagi pengembangan pembelajaran kesiapsiagaan bencana yang sesuai kebutuhan sekolah, anak, dan keluarga. Di sisi lain, teknologi IVR UNSAM tengah disiapkan untuk diuji di sekolah dan dikembangkan sebagai bagian dari platform Disaster Edutech yang mengintegrasikan Virtual Reality dan Serious Game untuk mendukung pembelajaran kebencanaan. Jika sekolah mau memanfaatkan hasil riset kampus dan kampus mau mendengar pengalaman lapangan guru, mitigasi bencana sekolah bisa naik kelas: dari proyek sesaat menjadi budaya belajar yang mengakar. Kesimpulannya jelas: masa depan kesiapsiagaan anak bencana ditentukan oleh keberanian kita menggabungkan ilmu, teknologi, dan kreativitas, bukan oleh seberapa sering kita mengulang slogan “siaga bencana” di spanduk.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!