Integritas perlu dipraktikkan, bukan sekadar dihafal
Pendidikan antikorupsi adalah pembelajaran yang membekali pelajar untuk mengenali perilaku koruptif serta membangun kebiasaan jujur, bertanggung jawab, dan taat aturan dalam kehidupan sehari-hari. Nilainya paling terasa ketika dibawa keluar dari ruang materi dan menjadi pedoman tindakan di sekolah maupun di rumah. Pada Minggu, 25 Oktober 2026, Kejaksaan Negeri Tanjung Perak Surabaya mengadakan penyuluhan hukum dan pendidikan antikorupsi bagi siswa SMP Negeri 2 Surabaya. Kepala Seksi Intelijen I Made Agus Mahendra Iswara menyampaikan bahwa integritas tumbuh bukan hanya dari pemahaman hukum, tetapi juga dari kebiasaan sehari-hari. Ia menekankan bahwa tidak menyontek, mengerjakan tugas secara mandiri, menaati aturan, dan tidak mengambil hak orang lain merupakan wujud kejujuran yang konkret. Pendekatan edukasi hukum sekolah ini penting karena menghubungkan prinsip antikorupsi dengan pilihan yang dihadapi siswa setiap hari. Hukum memberi kerangka; kebiasaan memberi nilai itu bentuk.
Kampanye hukum memperluas pemahaman
Pada Rabu, 28 Oktober 2026, Bidang Intelijen Kejaksaan Negeri Empat Lawang menggelar kampanye antikorupsi di SMA Negeri 1 Tebing Tinggi. Materinya mengajak siswa memahami kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan integritas, sekaligus memperluas pengertian korupsi: perilaku tidak jujur, penyalahgunaan kepercayaan, pelanggaran aturan, dan sikap tidak bertanggung jawab juga bertentangan dengan nilai antikorupsi. Dibandingkan penyuluhan di Surabaya yang menonjolkan contoh perilaku sehari-hari, kampanye ini lebih tegas membangun kesadaran hukum dan mengenali ragam tindakan yang merusak kepercayaan. Siswa diharapkan membawa sikap antikorupsi ke sekolah, keluarga, dan masyarakat, serta menjadi penggerak lingkungan pendidikan yang bersih dan tertib. Langkah preventif seperti ini tidak akan cukup jika hanya berupa acara satu kali. Kejari Empat Lawang memandang edukasi antikorupsi sejak dini perlu berlangsung berkelanjutan. Itu arah yang tepat: integritas siswa dibentuk lewat pengulangan dan teladan, bukan slogan sesaat.

Belajar di luar kelas, nilai lebih dekat
Pada Kamis, 29 Oktober, Dharma Wanita Persatuan Inspektorat Provinsi DKI Jakarta mengadakan kegiatan Dharma Wanita Mengajar bertema “Perempuan Berintegritas di Kota Global” bagi 21 siswa kelas VII dan VIII SMPN 221 Jakarta Utara. Berbeda dari dua kegiatan kejaksaan yang berpusat pada penyuluhan dan kampanye hukum, kegiatan ini memadukan pendidikan karakter dengan pengalaman belajar di luar kelas: materi disampaikan di atas bus dalam perjalanan menuju Museum Bahari. Narasumber memperkenalkan sembilan nilai melalui akronim “Jumat Bersepeda KK”: Jujur, Mandiri, Tanggung Jawab, Berani, Sederhana, Peduli, Disiplin, Adil, dan Kerja Keras. Para peserta, yang berasal dari MPK, OSIS, dan Pramuka, diajak menerapkan nilai-nilai itu melalui tindakan sederhana—berkata jujur, bertanggung jawab, dan berani menyampaikan kebenaran. Format mengajar yang lebih interaktif dapat membuat nilai terasa dekat dengan pengalaman siswa. Namun, ukuran keberhasilannya tetap sama: apakah nilai itu terus dipraktikkan setelah kegiatan berakhir.
Tiga jalur, satu ukuran keberhasilan
Ketiga kegiatan menawarkan jalur yang saling melengkapi. Penyuluhan hukum di Surabaya mengaitkan antikorupsi dengan kebiasaan di sekolah; kampanye di Empat Lawang memperluas kesadaran tentang bentuk perilaku koruptif dan tanggung jawab sosial; sedangkan Dharma Wanita Mengajar menggunakan daftar nilai serta pengalaman belajar di luar kelas. Perbedaan metode ini berguna karena pelajar membutuhkan pemahaman aturan sekaligus cara konkret untuk menjalankannya. Kata kunci pendidikan antikorupsi tidak semestinya berhenti pada hafalan istilah. Sekolah dapat memperkuat pesan melalui kebiasaan yang konsisten: menolak menyontek, mengerjakan tugas sendiri, mematuhi aturan, bersikap adil, dan berani mengakui kesalahan. Keluarga dan lingkungan juga berperan menjaga agar pesan yang diterima di kelas tidak berlawanan dengan teladan sehari-hari. Kesimpulannya, penyuluhan hukum, kampanye, dan kegiatan mengajar sama-sama penting, tetapi acara saja bukan hasil akhir. Integritas tumbuh ketika nilai yang diperkenalkan berulang kali diterapkan dan dicontohkan. Itulah ukuran keberhasilan yang layak dituju.






