AI sebagai jawaban atas keterbatasan bahan ajar
AI untuk guru adalah teknologi kecerdasan buatan yang membantu pendidik menyusun materi, merancang kegiatan belajar, dan menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan siswa tanpa mengambil alih keputusan pedagogis. Manfaatnya terasa ketika guru kekurangan bahan ajar yang sesuai konteks. Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UNESA mengadakan pelatihan untuk 26 guru SMK di Kabupaten Bangkalan, dengan fokus pada pengembangan materi English for Specific Purposes (ESP). Kegiatan berlangsung tatap muka pada 24 Oktober 2026 dan dilanjutkan secara daring pada 25–27 Oktober. Pilihan fokus ini tepat: kebutuhan bahasa Inggris siswa SMK kerap terkait jurusan dan dunia kerja, sehingga satu bahan umum belum tentu memadai. Generative AI menawarkan cara yang lebih cepat untuk menghasilkan draf worksheet dan materi yang dapat disesuaikan. Namun, kecepatan bukan ukuran akhir; guru tetap perlu memeriksa ketepatan bahasa, kesesuaian tingkat kesulitan, dan relevansi isi sebelum bahan sampai ke kelas.
Dari pengenalan teknologi menuju praktik mengajar
Di Probolinggo, Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Inggris Unikama bekerja sama dengan MGMP Bahasa Inggris SMP Kabupaten Probolinggo mengadakan lokakarya pemanfaatan AI dalam pembelajaran bahasa Inggris di SMP Negeri 4 Kraksaan. Sekitar 70 guru dari berbagai sekolah mengikuti kegiatan itu dan mengeksplorasi aplikasi berbasis AI. Materinya mencakup penyusunan perangkat ajar, pengembangan media, pembuatan materi bahasa Inggris, aktivitas interaktif, serta dukungan untuk evaluasi. Cakupan tersebut memperlihatkan bahwa AI pembelajaran bahasa Inggris bukan semata alat untuk menghasilkan teks. Dengan pendampingan yang tepat, guru dapat menguji gagasan pembelajaran, menyiapkan variasi latihan, lalu memilih yang cocok bagi kelasnya. Nilai pelatihan bukan terletak pada banyaknya aplikasi yang diperkenalkan, melainkan pada kemampuan guru mengubah keluaran teknologi menjadi kegiatan belajar yang bermakna. AI memberi pilihan; tujuan belajar dan pertimbangan terhadap siswa tetap harus memimpin.

Kompetensi guru menentukan manfaat AI
Unikama juga mengadakan lokakarya bagi guru Bahasa Inggris SMK se-Kabupaten Malang. Sumber yang tersedia menyebut peserta berasal dari berbagai SMK, tetapi tidak memberikan angka jumlah peserta; karena itu, skala kegiatan ini tidak tepat disimpulkan dari judul pemberitaan. Pelatihan memadukan teori dengan kebutuhan praktis, termasuk transformasi pedagogi digital, penyusunan materi berbasis teknologi, literasi digital, dan penggunaan AI secara etis. Guru diajak mengeksplorasi platform melalui praktik terbimbing agar pengalaman itu dapat diterapkan di sekolah. Pendekatan seperti ini lebih menjanjikan daripada sekadar membagikan daftar alat. Kompetensi guru mencakup kemampuan merumuskan instruksi, menilai keluaran, menjaga privasi, dan memastikan tugas tetap mengukur kemampuan siswa. Seperti ditegaskan Ketua Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Inggris Unikama, Dr. Siti Mafulah, “Artificial Intelligence bukanlah pengganti guru, melainkan mitra yang dapat membantu guru merancang pembelajaran yang lebih kreatif, personal, dan efektif.”

Ukuran keberhasilan ada di ruang kelas
Rangkaian pelatihan ini patut dinilai dari perubahan yang terjadi setelah lokakarya: apakah materi ajar bahasa Inggris menjadi lebih dekat dengan kebutuhan siswa, dan apakah guru mampu menggunakannya dengan pertimbangan yang matang. Di Bangkalan, harapan penyelenggara mencakup pengembangan worksheet sesuai jurusan para guru. Di Probolinggo, kemitraan dengan MGMP dapat berlanjut melalui pelatihan dan pendampingan pembuatan media berbasis AI. Tindak lanjut semacam itu penting karena keterampilan digital tidak terbentuk dalam satu sesi. Sekolah dan perguruan tinggi perlu memberi ruang bagi guru untuk mencoba, meninjau hasil, dan berbagi praktik yang berhasil. AI dapat meringankan pekerjaan persiapan dan memperluas pilihan bahan, tetapi tidak otomatis membuat pembelajaran lebih baik. Kesimpulannya, pelatihan guru SMK dan pendampingan berkelanjutan adalah jembatan yang menentukan apakah teknologi berhenti sebagai demonstrasi atau benar-benar memperkaya pengalaman belajar.







