Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

1.500 Guru Kuasai AI untuk Kelas: Dari Pelatihan ke Praktik Nyata

1.500 Guru Kuasai AI untuk Kelas: Dari Pelatihan ke Praktik Nyata
Minat|Tips Praktis AI

AI untuk Guru: Bukan Pengganti, Tapi Penguat Praktik Mengajar

Pelatihan AI untuk guru adalah rangkaian program terstruktur yang membekali pendidik dengan keterampilan teknis dan pedagogis untuk menggunakan kecerdasan buatan sebagai alat bantu pembelajaran digital kelas, sehingga guru mampu merancang strategi mengajar dengan AI yang relevan, kreatif, dan berpusat pada kebutuhan siswa sehari-hari. Program Terpujilah GURU menjadi contoh jelas bahwa literasi AI pendidikan tidak berhenti pada seminar motivasi, melainkan menyentuh cara guru mengajar di kelas. Digelar Telkomsel sejak Mei 2026 dan ditutup lewat Puncak Anugerah Terpujilah GURU di Jakarta pada 23 September, inisiatif ini memacu akselerasi literasi kecerdasan buatan bagi ribuan tenaga pendidik. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah guru perlu belajar AI, melainkan bagaimana mengubah pelatihan AI untuk guru menjadi perubahan konkret dalam interaksi guru-siswa.

Skala Pelatihan Besar, Tantangannya Mengubah Angka Menjadi Dampak

Lebih dari 3.800 guru SMA, SMK, dan MA ikut terjaring dalam rangkaian roadshow Terpujilah GURU di sepuluh kota serta sesi daring. Dari jumlah ini, seleksi ketat menyaring 1.500 guru yang mendapat pelatihan AI untuk guru dengan fokus pemanfaatan AI, pembuatan konten kreatif, dan perancangan pembelajaran digital yang siap diterapkan di sekolah. Angka tersebut mengesankan, tetapi skala saja tidak menjamin perubahan. Menurut Indrawan, kesiapan sumber daya manusia menjadi kunci menghadapi laju perkembangan AI yang pesat, bukan sekadar mengikuti tren teknologi. Di sinilah sikap kritis diperlukan: program besar mudah berubah menjadi proyek citra jika tidak diikat pada target pembelajaran digital kelas yang jelas, seperti peningkatan kualitas asesmen atau kemampuan siswa mengerjakan proyek berbasis AI. Pelatihan masif baru bernilai ketika berdampak pada kebiasaan mengajar harian, bukan hanya sertifikat.

Kurikulum Literasi AI Pendidikan yang Menyentuh Ruang Kelas

Kekuatan utama program ini ada pada kurikulum yang dirancang agar keterampilan langsung bisa digunakan dalam kegiatan belajar mengajar. Guru tidak hanya diajak mengenal teknologi, tetapi mempelajari pemanfaatan AI yang berpusat pada manusia, cara menyusun instruksi, desain visual, pembuatan video, metode pembelajaran kreatif, hingga asesmen digital. Fokus pada literasi AI pendidikan yang kritis, aman, dan bertanggung jawab, seperti ditekankan Nunuk Suryani, adalah penyeimbang penting terhadap euforia teknologi. Setiap peserta juga diwajibkan menyusun karya akhir berupa materi ajar aplikatif serta rancangan pembelajaran digital yang siap diimplementasikan dan dikembangkan di sekolah masing-masing. Di sinilah strategi mengajar dengan AI mulai nyata: guru dipaksa “menerjemahkan” konsep AI ke dalam skenario kelas, misalnya modul diskusi yang dibantu chatbot atau video penjelasan konsep yang dibuat dengan alat generatif.

Dari 1.500 Peserta ke 12 Finalis: Laboratorium Strategi Mengajar dengan AI

Jalur seleksi yang menyusut dari 1.500 peserta, 400 guru akademi daring, 80 guru pendampingan khusus hingga 12 finalis luring di Jakarta menciptakan semacam laboratorium praktik pembelajaran digital kelas. Para finalis tidak hanya memamerkan karya, tetapi praktik mengajar yang dinilai dari proses dan penerapan di sekolah. Keberadaan nama-nama guru dari Surabaya, Bandung, Ambon, Garut, Pematangsiantar, dan Maluku Tengah menunjukkan bahwa strategi mengajar dengan AI bisa muncul dari berbagai konteks sekolah, bukan hanya yang sudah mapan secara infrastruktur. Di titik ini, pendekatan Telkomsel bahwa AI bukan untuk menggantikan guru, melainkan membantu menghadirkan pembelajaran lebih kreatif dan bermakna, terasa paling konkret. Praktik para finalis berpotensi menjadi contoh hidup bagaimana literasi AI pendidikan diterjemahkan ke bentuk tugas proyek, asesmen digital, hingga konten visual yang lebih menarik bagi siswa.

Jejaring Alumni dan Tanggung Jawab Kolektif Mengawal Dampak

Setelah program selesai, tantangan terbesar bukan lagi pada modul pelatihan, melainkan pada keberlanjutan. Harapan Nunuk Suryani agar pengetahuan peserta dibagikan ke rekan pendidik menegaskan bahwa dampak literasi AI pendidikan harus menyebar melampaui 1.500 guru terpilih. Jejaring alumni EduCreator dijadikan ruang berbagi materi, pengalaman, dan praktik pembelajaran yang dikembangkan selama program. Jika dimanfaatkan serius, komunitas ini bisa menjadi ekosistem saling kritik dan dukungan bagi strategi mengajar dengan AI: tempat guru menguji ide, membandingkan asesmen digital, dan mengadaptasi konten kreatif sesuai karakter siswa. Namun jejaring tidak boleh berhenti sebagai grup berbagi file; perlu budaya refleksi rutin tentang apa yang bekerja dan apa yang tidak di kelas. Literasi AI pendidikan baru akan terasa manfaatnya ketika guru berani mengubah kebiasaan mengajar, bukan sekadar menambah alat baru di presentasi.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!